HARI ESOK DI TANGAN-NYA

HARI ESOK DI TANGAN-NYA

Amsal 27:1

Manusia hidup dengan begitu banyak rencana. Kita merencanakan apa yang akan kita lakukan besok, minggu depan, bahkan bertahun-tahun ke depan. Dengan adanya perencanaan, maka kita akan merasa aman dan terarah. Namun firman Tuhan dalam Amsal 27:1 datang sebagai pengingat yang lembut sekaligus tegas. Ada batas dalam kehidupan manusia, yaitu batas pengetahuan, batas kekuatan, dan batas kendali. Hari esok bukanlah sesuatu yang bisa kita genggam dengan pasti. Di dalam minggu pertama di tahun 2026 ini, mungkin kita sudah membuat demikian banyak rencana dalam hidup kita. Akan tetapi sudahkah kita menyadari kedaulatan ada di tangan Tuhan, serta melibatkan Tuhan di dalam setiap perencanaan kita? Ayat ini tidak bertujuan menakut-nakuti, tetapi membimbing hati kita untuk hidup dengan hikmat, kerendahan hati, dan kepercayaan penuh kepada Tuhan.

Janganlah memegahkan diri

Ketika firman Tuhan berkata, “Janganlah memuji diri karena esok hari,” yang menjadi sorotan bukanlah tindakan “merencanakan”, melainkan “sikap hati yang membanggakan diri seolah-olah masa depan sepenuhnya ada dalam kendali kita.”  Manusia mudah terjebak pada keyakinan bahwa selama rencana sudah matang, maka hasil pasti sesuai harapan sehingga tanpa disadari Tuhan dikeluarkan dari pusat kehidupan. Firman Tuhan kemudian menegaskan alasannya:karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” Bahkan satu hari ke depan pun berada di luar pengetahuan manusia. Ini bukan kelemahan, melainkan kenyataan dasar tentang siapa kita sebagai ciptaan. Hanya Tuhan yang mengetahui titik akhirnya sejak awal.

Menyadari kedaulatan Allah

Yakobus 4:13-17 membawa kita pada satu kebenaran penting, yaitu hidup manusia bergantung sepenuhnya pada anugerah dan pemeliharaan Tuhan. Kesombongan sering kali tidak muncul dalam bentuk kata-kata besar, tetapi dalam rasa aman yang semu ketika kita merasa hidup akan baik-baik saja tanpa Tuhan, merasa doa tidak terlalu perlu karena semuanya sudah direncanakan dengan matang. Firman Tuhan menyingkapkan bahwa sikap seperti ini bukanlah hikmat, melainkan kebutaan rohani. Sebaliknya, hikmat sejati lahir dari kerendahan hati: kesadaran bahwa Tuhan berdaulat atas peristiwa dan waktu. Ketika kita menyerahkan hari esok kepada Tuhan, kita tidak kehilangan kendali. Kita justru menemukan damai yang sejati.

Hidup dalam iman, bukan kekhawatiran

Menyerahkan hari esok kepada Tuhan bukan berarti hidup tanpa tanggung jawab, melainkan hidup dengan iman. Iman bukan meniadakan rencana, tetapi meletakkan rencana di bawah kehendak Tuhan. Ketika masa depan kita terasa tidak pasti, firman Tuhan itu pasti. Apa pun yang akan terjadi esok hari, Tuhan sudah ada di sana. Amin!

Dibuat oleh: Bp. Reagan