1 Petrus 2:18-25
Setiap orang umumnya memiliki sosok orang yang dikagumi dan ingin diikuti, misalnya seorang anak ingin menjadi seperti ayahnya, seorang murid terinspirasi oleh gurunya, atau kita mengagumi figur tertentu karena karakter, keberhasilan, dan cara hidupnya yang mengagumkan. Tanpa disadari, kita belajar mengikuti jejak orang yang kita anggap layak diteladani.
Namun satu hal yang menarik, di dalam hidup kekristenan, orang percaya tidak dibawa untuk mencari dan mengikuti jejak kenyamanan dan kesuksesan hidup, melainkan jejak salib Kristus. Melalui salib Kristus, kita bukan hanya melihat kemenangan atas dosa, tetapi melalui karya salib kita juga melihat cara Kristus menjalani penderitaan dengan ketaatan dan penyerahan kepada Allah. Petrus menulis bahwa Kristus telah menderita dan meninggalkan teladan supaya orang percaya mengikuti jejak-Nya (1Ptr. 2:21), artinya panggilan mengikuti Kristus bukan hanya menerima keselamatan yang Ia berikan, tetapi juga belajar berjalan di jalan yang pernah Ia tempuh.
Mengikuti jejak salib, bukan berarti kita mencari-cari cara untuk hidup menderita, sebab pergumulan dan luka adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak dapat dihindari. Ketidakadilan, penolakan, kehilangan, atau relasi yang melukai sering kali menjadi pengalaman yang hadir tanpa diundang. Dalam situasi seperti itu, hati manusia mudah dipenuhi kekecewaan, keinginan untuk membalas, atau pertanyaan tentang alasan di balik semua yang terjadi.
Dalam bagian ini, Petrus berbicara kepada para budak—kelompok orang yang pada masa itu sering berada dalam posisi paling lemah dan rentan mengalami perlakuan tidak adil. Kepada mereka, Petrus menunjuk Kristus sebagai “Hamba Tuhan yang Menderita,” yang tetap taat dan menyerahkan diri kepada Allah di tengah penderitaan yang tidak layak diterima.
Di tengah kenyataan itulah jejak Kristus menjadi penting. Petrus tidak mengarahkan pandangan hanya kepada penderitaan, melainkan membawa kita melihat kepada cara Kristus menjalaninya. Ketika dihina, Ia tidak membalas. Ketika menderita, Ia tidak mengancam. Kristus memilih menyerahkan diri kepada Allah yang menghakimi dengan adil. Melalui respons-Nya, salib menjadi gambaran tentang iman yang tetap percaya sekalipun berada dalam keadaan yang tidak mudah.
Jejak salib menjadi jejak hidup kita, ketika respons Kristus mulai membentuk respons kita sebagai orang percaya. Mengikuti Kristus berarti belajar percaya ketika tidak mengerti, tetap hidup benar ketika diperlakukan tidak adil, dan mempercayakan pergumulan kepada Allah ketika hati ingin membalas.
Jejak Kristus tidak menjauhkan manusia dari luka, tetapi menuntun cara menjalani luka itu bersama Allah, Sang Gembala dan Pemelihara jiwa. Kiranya Tuhan menolong kita menjalani jejak salib di dalam anugerah-Nya.
Dibuat oleh: Ibu Novi Handayani