Galatia 6:1-10
Para pendaki gunung memiliki satu prinsip yang kuat: tidak ada yang ditinggalkan. Ketika ada anggota tim yang mulai kelelahan, mereka tidak berkata, “Kami duluan ya, nanti bertemu di puncak.” Sebaliknya, mereka berhenti, membagi beban, memberi minum, menyemangati, bahkan rela membawa tas temannya. Mereka sadar bahwa keberhasilan pendakian bukanlah siapa yang paling cepat mencapai puncak, melainkan ketika semua anggota tim tiba di tujuan dengan selamat.
Bukankah kehidupan orang percaya juga seperti sebuah pendakian? Ada saat kita kuat untuk menopang orang lain, tetapi ada juga saat kita lemah dan membutuhkan pertolongan. Hari ini kita menolong, esok mungkin kitalah yang ditolong.
Itulah yang ditekankan Rasul Paulus dalam Galatia 6. Setelah menjelaskan tentang hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus (Gal. 5), Paulus menunjukkan bagaimana kehidupan yang dipimpin Roh itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Gereja bukan sekadar tempat berkumpul untuk beribadah, melainkan keluarga Allah yang saling memperhatikan. Ketika ada saudara yang jatuh, bergumul, atau memikul beban yang berat, kita tidak dipanggil untuk mengabaikannya, tetapi untuk hadir dan menopangnya dengan kasih. Karena itu Paulus berkata, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (ay 2). Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan terlihat nyata ketika kita saling menopang, bukan hanya memikirkan diri sendiri.
Lalu, bagaimana kita dapat menghidupi panggilan untuk saling menopang? Melalui Galatia 6:1-10, Rasul Paulus mengajarkan tiga prinsip penting yang akan kita pelajari bersama, agar setiap kita dapat menjadi saluran kasih Kristus bagi orang-orang di sekitar kita.
- Saling menopang dimulai dengan memulihkan dan meringankan beban sesama (Gal. 6:1-2). Paulus mengawali dengan dua tindakan nyata. Pertama, memulihkan saudara yang jatuh dalam dosa dengan roh lemah lembut (ay. 1). Kedua, menolong mereka yang sedang memikul beban yang berat (ay. 2). Karena itu, saling menopang tidak dimulai dengan menghakimi atau menjauh dari mereka yang sedang bergumul, melainkan dengan hadir, menguatkan, memulihkan, dan bersama-sama meringankan beban yang mereka tanggung.
- Saling menopang dilakukan dengan rendah hati dan penuh tanggung jawab (Gal. 6:3-6). Paulus mengingatkan agar tidak merasa lebih baik daripada orang lain. Sebaliknya, setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, sambil menggunakan apa yang Tuhan percayakan untuk berbagi dengan sesama. Kerendahan hati membuat kita tidak segan menolong, dan tidak malu ketika membutuhkan pertolongan.
- Saling menopang harus dilakukan dengan tekun selama masih ada kesempatan (Gal. 6:7-10). Paulus memakai prinsip menabur dan menuai. Setiap kebaikan yang dilakukan tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan. Karena itu, orang percaya tidak boleh jemu berbuat baik, tetapi terus mengambil setiap kesempatan untuk menolong, terutama kepada saudara-saudara seiman.
Kiranya melalui Bulan Diakonia ini semakin menyadari bahwa kita tidak hanya menjadi orang yang menerima kasih Kristus, tetapi juga membagikannya. Marilah kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk menopang sesama. Apa yang kita lakukan mungkin tampak kecil, tetapi di tangan Tuhan dapat membawa penguatan, pengharapan, dan kasih bagi mereka yang membutuhkannya. Tuhan Yesus memberkati.
Dibuat oleh: Pdt. Relly Rajagukguk