Kisah Para Rasul 10:34-48
Salah satu sifat yang kerap kali muncul dalam diri manusia adalah sikap eksklusif. Kita cenderung merasa kelompok kita lebih baik, suku kita lebih benar, budaya kita lebih unggul, atau keyakinan kita membuat kita lebih tinggi dari pada orang lain. Dari sikap seperti ini dapat muncul kesombongan, prasangka dan adanya kecenderungan merendahkan orang yang berbeda dengan kita. Kita lupa bahwa Tuhan sendirilah yang menciptakan keberagaman itu. Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai suku, bahasa, budaya dan latar belakang. Perbedaan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan bagian dari rancangan Allah yang indah. Tuhan mengasihi semua bangsa tanpa membedakan suku, budaya, bahasa, maupun latar belakang.
Dalam Kisah Para Rasul 10 ini , diceritakan tentang Kornelius yang adalah seorang perwira pasukan Romawi yang saleh, takut akan Allah, dan rajin berdoa serta memberi sedekah kepada orang miskin. Meskipun ia bukan orang Yahudi, hidupnya menunjukkan kerinduan akan kebenaran. Di sisi lain, Petrus adalah seorang rasul yang sejak kecil hidup dalam tradisi Yahudi yang ketat, yang pada awalnya masih memiliki batasan dalam memahami siapa yang layak menerima Injil. Namun, Allah bekerja melalui penglihatan untuk mengubah cara pandang Petrus. Ketika Petrus tiba di rumah Kornelius, ia menyadari sesuatu yang sangat penting: Allah tidak memandang muka. Ia berkata, “Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang” (Kis. 10:34). Ini adalah pernyataan yang sangat revolusioner pada waktu itu, karena menghapus sekat antara Yahudi dan non-Yahudi, antara “umat pilihan” dan bangsa-bangsa lain. Dalam peristiwa ini Allah sedang menunjukkan bahwa keselamatan di dalam Yesus Kristus adalah anugerah bagi semua orang yang percaya.
Dalam Kisah Para Rasul 10:34-48 ini Firman Tuhan mengajarkan kita bahwa:
- Allah tidak membedakan orang
Allah melihat hati yang datang kepada-Nya dengan iman. Ia tidak menilai manusia berdasarkan penampilan luar, asal-usul, atau status, tetapi berdasarkan respons hati terhadap kebenaran-Nya. Setiap orang yang merendahkan diri di hadapan Tuhan dan percaya kepada-Nya akan diterima.
- Keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus
Petrus dengan berani bersaksi bahwa Yesus adalah Tuhan atas semua orang, dan bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya akan menerima pengampunan dosa. Ini menegaskan bahwa tidak ada jalan lain menuju keselamatan selain melalui Yesus Kristus.
- Roh Kudus dicurahkan kepada semua yang percaya
Dalam peristiwa ini, Roh Kudus turun atas semua orang yang mendengarkan firman, bahkan sebelum mereka dibaptis. Ini menunjukkan bahwa Allah sendiri yang mengesahkan bahwa Injil adalah untuk semua bangsa, tanpa pengecualian.
Peristiwa di rumah Kornelius menjadi titik penting dalam perluasan Injil ke seluruh dunia. Dari sini, kita melihat bagaimana gereja mula-mula mulai memahami misi Allah yang lebih besar: menjangkau semua bangsa, suku, dan bahasa. Dalam bulan budaya ini, kita diingatkan kembali bahwa Injil tidak boleh dibatasi oleh budaya kita sendiri, sebaliknya kita dipanggil untuk membawa kasih Kristus ke dalam setiap budaya, serta menghormati keberagaman sebagai bagian dari ciptaan Allah. Mari kita belajar untuk menerima setiap orang dengan kasih Kristus, membuka hati untuk bersahabat dengan mereka yang berbeda dengan kita dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat yang beragam.
Kita harus ingat bahwa sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk tidak hanya menerima Injil, tetapi juga membagikannya. Dunia di sekitar kita masih banyak yang belum mendengar kabar baik tentang Yesus Kristus. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin.
Dibuat oleh: Pdt. Susi Sihaloho