STOP FLEXING!

STOP FLEXING!

Yeremia 9:23-24

Flexing (diucapkan: fleksing) adalah perilaku memamerkan sesuatu dengan tujuan menunjukkan status, kekayaan, gaya hidup, atau pencapaian diri kepada orang lain. Ciri-ciri orang flexing:

  1. Memamerkan barang mewah (mobil, tas, jam tangan, rumah).
  2. Menunjukkan uang atau transaksi besar di media sosial.
  3. Pamer liburan ke luar negeri dengan gaya “santai” tapi sebenarnya sengaja dipamerkan.
  4. Menonjolkan jabatan atau gelar kesarjanaan.
  5. Pamer “kesalehan” seperti sedekah besar atau ibadah yang difoto agar dilihat orang.

Kita hidup di zaman di mana pamer kesuksesan sudah menjadi “makanan sehari-hari” di media sosial. Tidak terkecuali di kalangan orang percaya yang bisa saja flexing rohani—memamerkan harta, pencapaian, gaya hidup, bahkan pelayanan rohani untuk mendapat pengakuan manusia. Sebagai jemaat Tuhan di Gereja Kristus Ketapang, kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam di tengah dunia yang haus akan pengakuan. Marilah kita merenungkan apa firman Tuhan katakan tentang hal ini.

Tiga Bentuk Flexing yang Sering Terjadi di tengah Jemaat:

  1. Flexing Pencapaian dan Jabatan
  • Merasa lebih hebat karena pendidikan tinggi atau jabatan bergengsi
  • Menuntut perlakuan istimewa di gereja karena status sosial
  • Menganggap rendah jemaat lain yang “biasa-biasa” saja

Ingatlah, “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya” (Yer. 9:23a). Di hadapan Tuhan, semua anak-Nya setara. Yesus saja yang adalah Tuhan merendahkan diri mencuci kaki murid-murid-Nya.

  1. Flexing Rohani
  • Memamerkan “kesalehan” di depan umum (doa panjang, puasa, persembahan besar)
  • Menjadi hakim atas kehidupan rohani orang lain
  • Bangga dengan jabatan pelayanan tapi hati jauh dari Tuhan

Ingatlah, “Janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya” (Yer. 9:23b). Kekuatan rohani pun bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk melayani dengan kerendahan hati.

  1. Flexing Harta dan Gaya Hidup
  • Membanding-bandingkan rumah, kendaraan, atau barang mewah
  • Berlomba menunjukkan kesuksesan materi di media sosial
  • Menilai orang lain dari penampilan luarnya

Ingatlah bahwa firman Tuhan menasihati kita untuk “Janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya” (Yer. 9:23c). Segala yang kita miliki adalah pinjaman dari Tuhan, bukan untuk dipamerkan tetapi untuk dikelola dan dibagikan.

Bagaimana kita bisa menghidupi firman Tuhan dan menyadari kecenderungan flexing kita?

  1. Kembali ke Identitas Sejati

Bukan jabatan atau harta yang mendefinisikan siapa kita, tetapi status kita sebagai anak-anak Tuhan. Banggalah bukan karena “apa yang kita punya” tetapi “siapa yang kita kenal”—yaitu Tuhan Yesus Kristus

  1. Hidup Sederhana dan Berbagi

Di tengah semangat konsumtif, jadilah jemaat yang dikenal karena kemurahan hati, bukan kemewahan. Arahkan berkat yang kita terima untuk membantu sesama yang berkekurangan di sekitar yang kita ketahui. Lalu, jadikan gereja sebagai pusat berkat bagi masyarakat, bukan pusat pamer status.

  1. Fokus pada Pengenalan akan Tuhan

Luangkan waktu lebih banyak untuk merenungkan firman, bukan scrolling media sosial. Bangun komunitas yang saling mengingatkan untuk rendah hati. Dan, jadikan kebersamaan di gereja sebagai tempat penguatan iman, bukan ajang kompetisi.

  1. Hidup dalam Kasih Setia, Keadilan, dan Kebenaran
  • Kasih setia: Jangan pilih kasih dalam bergaul. Sayangi semua jemaat tanpa melihat status.
  • Keadilan: Perlakukan semua orang dengan adil, tidak memihak pada yang kaya atau berpengaruh saja.
  • Kebenaran: Jujur dalam perkataan dan perbuatan, hindari kepalsuan di dunia maya maupun nyata.
  1. Koreksi Diri dalam Bermedia Sosial

Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan, “Apakah ini membangun iman atau memicu kesombongan?” Gunakan media sosial untuk memberkati, bukan memamerkan diri. Jadilah teladan dalam penggunaan media yang bijak di tengah komunitas.

Saudara-saudara, dunia boleh berlomba-lomba memamerkan siapa mereka, tetapi kita dipanggil untuk berbeda. Paulus mengingatkan, “Karena itu, baik kita makan atau minum, atau melakukan apa pun, kita harus melakukannya untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31). Mari kita jadikan Gereja Kristus Ketapang sebagai komunitas yang:

  • Rendah hati di tengah budaya yang sombong
  • Bersyukur di tengah budaya yang pamer
  • Berbagi di tengah budaya yang kikir
  • Mengenal Tuhan di atas segala-galanya

Jangan jadikan gereja sebagai panggung pamer, tetapi jadikan sebagai tempat pemulihan bagi setiap jiwa yang mencari Allah yang benar di dalam Yesus Kristus. Amin.

Dibuat oleh: Pdt. Slamet Triwahono

Leave a comment