CONNECTED IN DISCONNECTED FAMILY

CONNECTED IN DISCONNECTED FAMILY

Kolose 3:18-23

Ada sepenggal lirik dalam lagu tema sinetron Keluarga Cemara yang menyebutkan bahwa “Harta yang paling berharga adalah keluarga.” Pertanyaannya ialah apanya yang berharga dari keluarga? Salah satu yang berharga adalah relasi yang erat, dekat dan harmonis antar anggota keluarga. Namun, apakah realitanya seperti itu?  Lain di sinetron, lain di dunia nyata! Idealnya harus begitu tapi faktanya tidak selalu begitu. Lalu, apa atau bagaimana caranya agar antar anggota keluarga dapat saling berelasi dan terkoneksi sehingga yang jauh jadi dekat dan yang sudah dekat semakin dekat? Paulus menasihati jemaat di Kolose dan kita semua agar:

Tiap anggota keluarga berperan sesuai dengan kewajibannya (ay. 18-22)

Dalam perikop ini, Paulus bicara tentang etika Kristen yang wajib diberlakukan dalam tiap relasi yang ada dalam sebuah keluarga, baik relasi suami dan istri, orang tua dan anak, serta hamba dan tuan. Paulus ingin semua relasi itu dibangun sesuai dengan peran, sehingga ada keseimbangan dan keterhubungan yang harmonis dalam keluarga. Ada ketundukan yang diimbangi dengan kasih antara suami-istri. Ada ketaatan yang diimbangi dengan menjaga agar hati tidak tersakiti antara anak dan orang tua. Ada sikap taat hamba menjalani tugas tuannya. Seringkali masalah muncul karena ada peran yang tidak berjalan baik. Jika tiap anggota keluarga melakukan kewajibannya, maka tidaklah sulit untuk membangun relasi yang saling terhubung, harmonis dan erat satu sama lain.

Kewajiban yang dijalani merupakan ketaatan pada kehendak Allah (ay. 23)

Lalu, apa yang menjadi dasar tiap anggota keluarga agar dapat berperan sesuai dengan kewajibannya? Dalam ayat 23, Paulus menekankan, “Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Apa maksudnya? Maksudnya ialah apa yang kita lakukan sebagai orang percaya juga sebagai anggota keluarga, wajib dilakukan dengan sepenuh hati, tidak sekedar untuk keluarga, tapi juga untuk Tuhan. Jadi, jika demikian maka itu berarti:

  1. Kita tidak akan asal menjalani, tetapi harus sepenuh hati dan mengikuti perintah-Nya.
  2. Kita tidak sekedar bertanggung jawab pada keluarga, tapi juga kepada Tuhan karena semua yang dilakukan adalah wujud ketaatan kita kepada kehendak-Nya.

Kiranya Tuhan menolong kita dan anggota keluarga kita agar masing-masing menjalani kewajibannya dengan kesungguhan hati sehingga relasi yang dibangun tidak sekedar status tapi sungguh terkoneksi baik, erat, terpelihara dan harmonis meski ada tantangan yang dihadapi. Amin!

Dibuat oleh: Pdt. Em. Widianto Yong