REFORMASI HATI

REFORMASI HATI

Yehezkiel 36:26-27

Berbicara tentang Reformasi Gereja, mengingatkan kita akan gerakan pembaruan yang menekankan kembali pentingnya Firman Tuhan dan kehidupan yang berpusat pada Kristus (tokoh reformator gereja, Martin Luther). Reformasi artinya pembaruan atau perubahan yang mendasar. Perlu diketahui bahwa reformasi yang sejati tidak hanya berbicara tentang perubahan dalam gereja atau aturan kehidupan keagamaan. Reformasi yang Tuhan kehendaki pun harus terjadi di dalam hati manusia.

Dalam Yehezkiel 36:26-27, Tuhan menyampaikan janji-Nya kepada umat Israel, bahwa mereka telah jauh dari Tuhan dan hidup dalam ketidaktaatan. Tetapi Tuhan tidak hanya berkata bahwa mereka harus berubah. Tuhan sendiri berjanji: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu.” Tuhan tidak sekadar memperbaiki hati yang lama, tetapi memberikan hati yang baru. Hati yang keras diganti dengan hati yang taat, peka terhadap kehendak Allah. Artinya, perubahan hidup yang sejati bukan hanya perubahan perilaku dari luar, tetapi pembaruan yang dimulai dari dalam.

Sering kali kita berusaha memperbaiki diri hanya di bagian luar. Kita berusaha menjadi lebih sabar, lebih ramah, lebih rajin beribadah, dan lebih baik dalam melayani. Semua itu tentunya baik. Tetapi jika hati tidak berubah, perubahan tersebut dapat menjadi sekadar penampilan. Terlihat baik di hadapan manusia, tetapi jauh di lubuk hati masih dipenuhi keinginan untuk mencari kehendak sendiri. Sebab itu, reformasi hati dimulai saat kita membiarkan Tuhan mengubah hati kita melalui Firman dan Roh-Nya. Tuhan berkata, “Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu.” Kita ketahui bahwa Roh Kuduslah yang memampukan kita hidup menurut ketetapan dan peraturan Tuhan. Jadi, kehidupan Kristen bukan sekadar usaha manusia untuk menjadi baik, melainkan respons terhadap karya Allah yang telah terlebih dahulu memperbarui kita.

Reformasi hati juga berarti kembali kepada Tuhan setiap hari. Kita perlu merenungkan: Apakah hati saya masih lembut terhadap Firman Tuhan, masih mau ditegur ketika salah, sungguh-sungguh mengampuni? Apakah setiap keputusan yang saya ambil mencerminkan kehendak Tuhan, atau hanya keinginan diri sendiri? Perubahan hati pastinya terlihat dalam kehidupan sehari-hari, dari cara kita berbicara kepada pasangan dan anak-anak, orang tua dan kerabat; cara kita memperlakukan sesama, baik dalam pekerjaan dan pelayanan, bahkan saat tak seorang pun yang melihat kita.

Reformasi sejati dimulai dari hati. Gereja akan mengalami pembaruan apabila orang-orang di dalamnya mengalami pembaruan hati. Keluarga akan mengalami perubahan apabila setiap anggota keluarga bersedia membiarkan Tuhan mengubah hatinya. Demikian juga kehidupan pribadi kita akan semakin berkenan kepada Tuhan ketika hati kita terus-menerus dibentuk oleh Firman dan Roh Kudus. Marilah berdoa dengan sungguh-sungguh meminta Tuhan mengubahkan hati kita. Izinkanlah Tuhan mengambil hati yang keras dan memberikan hati yang baru; mengambil hati yang memberontak dan memberikan hati yang taat; mengambil hati yang berpusat pada diri sendiri dan memberikan hati yang mengasihi Tuhan serta sesama.

Kiranya Tuhan melalui karya Roh Kudus, setiap hari mereformasi hati kita, sehingga kehidupan kita semakin mencerminkan Kristus.

Dibuat oleh: Pdt. Em. Daniel Lie