Ibrani 12:28
Bagaimana sih ibadah yang menyenangkan hati Tuhan? Kita sebagai umat gereja rindu jika setiap jemaat Tuhan dapat datang beribadah dengan cara yang berkenan kepada Tuhan. Tapi bagaimana kita memaknainya dengan benar? Ibrani 12:28 mengajak kita untuk beribadah kepada Tuhan dengan cara yang berkenan, yaitu dengan hormat dan takut. Tentu ada dasar yang melandasinya. Dikatakan sebelumnya karena mereka yang menyembah Allah telah menerima “kerajaan yang tidak tergoncangkan.” Apa itu maksudnya?
Dalam ayat-ayat sebelumnya penulis Ibrani sedang membicarakan perbandingan dua peristiwa antara ketika bangsa Israel di PL merasakan hadirat Allah di gunung secara literal dengan pemandangan yang menggentarkan (ay. 18-21) dengan pembaca Ibrani di PB yang merasakan hadirat Allah di sebuah tempat figuratif yaitu Bukit Sion, Yerusalem surgawi (ay. 22). Peristiwa kedua ini dinyatakan penulis Ibrani lebih dahsyat dari yang pertama. Kalau yang pertama ada suara Allah menggoncangkan bumi, tapi yang kedua bukan hanya bumi melainkan langit akan digoncangkan (ay. 26). Mengapa demikian? Karena dalam peristiwa kedua merupakan perjanjian baru antara Allah dengan umat-Nya yang dinyatakan melalui Yesus Kristus sebagai Firman Allah yang berbicara langsung kepada umat manusia (ay. 24-25). Jadi, ibadah kita yang berkenan itu didasari karena kita menerima Yesus Kristus di mana karya keselamatan-Nya telah mengumpulkan kita sebagai umat-Nya dalam “kerajaan yang tidak tergoncangkan.”
Ini artinya, ibadah yang berkenan kepada Allah adalah ibadah yang berkaitan dengan hidup keselamatan kita yang telah dikerjakan Yesus Kristus. Ibadah itu bukan hanya tata ibadahnya, bukan hanya lagunya, tapi meliputi keseluruhan hidup kita yang telah ditebus dan diubahkan Kristus melalui karya keselamatan-Nya. Maka itu tidak heran setelahnya di Ibrani 13, penulis menuliskan berbagai perbuatan-perbuatan praktis yang menjadi tanda dari orang yang telah diselamatkan Kristus. Ibadah itu meliputi keseluruhan perubahan hidup kita sebagai orang yang telah diselamatkan.
Bayangkan sebuah ibadah Minggu dihadiri orang-orang yang hidupnya sungguh-sungguh diubahkan oleh Kristus, yang bukan hanya terlihat “suci” saat datang ke gereja, namun sebagai pribadi yang telah ditebus dan terus diproses Kristus sepanjang Minggu tersebut. Maka, ibadah hari Minggu itu benar-benar menjadi sebuah selebrasi akan kebaikan Tuhan yang digaungkan setiap jemaat yang hatinya limpah sukacita akan Kristus. Ibadah juga menjadi sebuah tempat pemulihan karena yang hadir itu tahu rasanya diampuni oleh Kristus dan terbuka untuk mengampuni sesama. Bahkan, ibadah itu menjadi sebuah proklamasi kebesaran dan kebenaran Tuhan kepada mereka yang masih ragu, karena melihat orang-orang yang punya harapan dalam Kristus sekalipun sedang menghadapi kesukaran dan penderitaan. Bukankah visi seperti ini akan membuat Tuhan tersenyum memandang bagaimana karya keselamatan yang telah dikerjakan Kristus menghadirkan suasana yang penuh sukacita dan damai sejahtera dalam ibadah yang dilakukan umat-Nya? Amin.
Dibuat oleh: Pdt. Richard Natasasmita