<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Admin &#8211; Gereja Kristus Ketapang</title>
	<atom:link href="https://gkketapang.org/author/admin-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gkketapang.org</link>
	<description>Church</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Jun 2026 04:39:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.5</generator>
	<item>
		<title>DIPERCAYA UNTUK MERAWAT BUMI</title>
		<link>https://gkketapang.org/dipercaya-untuk-merawat-bumi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2026 04:38:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9146</guid>

					<description><![CDATA[Kejadian 2:15 “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Dalam kitab Kejadian pasal satu dan dua setelah penciptaan alam semesta dan segala isinya, TUHAN Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya (Kej. 1:27). Manusia menjadi puncak dari ciptaan, setelah segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya disediakan TUHAN]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kejadian 2:15</strong></p>
<h2>“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”</h2>
<p>Dalam kitab Kejadian pasal satu dan dua setelah penciptaan alam semesta dan segala isinya, TUHAN Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya (Kej. 1:27). Manusia menjadi puncak dari ciptaan, setelah segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya disediakan TUHAN Allah. Selanjutnya, manusia menerima mandat yang sangat penting dalam Kejadian 1:28, yaitu untuk beranak-cucu, serta berkuasa untuk mengelola bumi.<span id="more-9146"></span> Mandat penting ini ditegaskan lagi dalam Kejadian 2:15. Suatu kepercayaan yang begitu besar bagi manusia untuk merawat bumi. Pada peringatan hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dirayakan pada tanggal 5 Juni, ada tiga poin penting yang akan menjadi perenungan kita bersama dalam ibadah ini:</p>
<h2>1.           Panggilan Kerja/Merawat Bumi adalah Mandat TUHAN</h2>
<p>Istilah TUHAN Allah “mengambil” (<em>Ibr: Laqach</em>) atau lengkapnya “mengambil untuk maksud dan tujuan TUHAN,” dan istilah “menempatkan” (<em>Ibr: Yanach</em>) atau “tinggal di tempat yang ditentukan TUHAN,” menyatakan dengan jelas bahwa manusia menerima panggilan untuk melakukan apa yang menjadi kehendak dan tujuan Tuhan. Sebab, panggilan untuk bekerja dan merawat bumi juga demi kehidupan manusia itu sendiri. Firman Tuhan ini juga mengingatkan bahwa TUHAN Allah tidak menciptakan manusia untuk bermalas-malasan, melainkan menempatkannya dengan tugas yang jelas dan sekaligus menegaskan bahwa manusia itu hidup di bawah otoritas Sang Pencipta.</p>
<p>Secara sederhana, bagi yang sudah bekerja, bekerjalah dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab sebagai bagian dari ketaatan kita pada Tuhan. Bagi kita yang sedang mencari pekerjaan, mintalah kepada Bapa dan berupayalah agar kita mendapatkan pekerjaan. Bagi yang memberi pekerjaan, lakukanlah dengan kasih kepada Tuhan.</p>
<h2>2.           Panggilan untuk Mengabdi “Mengusahakan”</h2>
<p>Kata “mengusahakan” (<em>Ibr: abad</em>) juga memiliki arti utamanya “melayani,” “bekerja,” “mengolah tanah,” juga berarti “hamba yang melayani.” Manusia ditempatkan di taman Eden untuk mengusahakan atau bekerja sebagai bagian dari panggilan Tuhan. Perintah ini diberikan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Artinya, bekerja pada dasarnya adalah kehendak TUHAN dan bagian dari aturan awal Allah untuk manusia. Oleh karena itu, kita tidak ditempatkan di bumi sebagai penguasa mengeksploitasi alam demi kepentingan pribadi. Sebaliknya, mengelola dan mengembangkannya agar menghasilkan kebaikan demi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Kita secara pribadi, keluarga, gereja, bahkan seluruh anak negeri menerima panggilan serta dipercaya menjadi “perpanjangan tangan” Tuhan untuk mengusahakan hal baik, khususnya di lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja kita!</p>
<h2>3.  Tanggung Jawab Manusia untuk “Memelihara”</h2>
<p>Kata “memelihara” (<em>Ibr: shamar</em>) atau juga berarti “menjaga, melindungi dan melestarikan” menegaskan bahwa manusia menerima tugas untuk menjaga, melindungi dan melestarikan alam ciptaan TUHAN. Kata Ibrani <em>shamar </em>menyatakan bahwa kita dipercayakan tugas sebagai <em>steward </em>(penatalayan). Memelihara berarti memastikan bahwa apa yang kita lakukan dan gunakan dari alam tidak merusak alam, sebab manusia bukan pemilik mutlak atas bumi. Manusia diberi otoritas untuk memanfaatkan alam, namun wajib menjaganya agar tidak rusak, dan itu perintah TUHAN. Oleh karena itu, orang Kristen, warga jemaat dan tiap-tiap keluarga diharapkan mewujudkan tanggung jawab mulia ini dengan tindakan nyata, seperti menjaga kebersihan, menghemat air, tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan listrik, bahan bakar dengan bertanggung jawab, dll. Sebab sesungguhnya itu juga adalah bagian dari ibadah nyata dalam menjaga “taman” yang Tuhan titipkan kepada kita. Amin!</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Relly Rajagukguk</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>IMAN YANG MENYAPA DUNIA</title>
		<link>https://gkketapang.org/iman-yang-menyapa-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 May 2026 04:18:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9139</guid>

					<description><![CDATA[Kisah Para Rasul 17:22-34 Dalam Kisah Para Rasul 17:22-34, Paulus sedang berada di kota Athena yang menjadi pusat filsafat dan kebudayaan Yunani. Banyak patung dewa dan altar penyembahan di sana, tetapi Paulus menemukan ada satu mezbah yang bertuliskan: “kepada Allah yang tidak dikenal.” Dari titik itulah Paulus mulai memberitakan Injil. Yang menarik adalah Paulus tidak]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kisah Para Rasul 17:22-34</strong></p>
<p>Dalam Kisah Para Rasul 17:22-34, Paulus sedang berada di kota Athena yang menjadi pusat filsafat dan kebudayaan Yunani. Banyak patung dewa dan altar penyembahan di sana, tetapi Paulus menemukan ada satu mezbah yang bertuliskan: “<em>kepada Allah yang tidak dikenal</em>.”<span id="more-9139"></span> Dari titik itulah Paulus mulai memberitakan Injil. Yang menarik adalah Paulus tidak langsung menyerang budaya mereka. Ia memulai dari apa yang mereka kenal selama ini, lalu mengarahkan mereka kepada kebenaran tentang Allah yang sejati. Ini menyatakan bahwa pemberitaan Injil bukan tentang mempersalahkan orang lain, tetapi membawa manusia untuk mengenal Tuhan yang benar dengan cara yang benar.</p>
<p>Ayat 24 menegaskan bahwa Allah yang sejati adalah Pencipta langit dan bumi. Ia tidak tinggal di kuil buatan tangan manusia dan tidak bergantung pada penyembahan atau pelayanan manusia, tetapi sebaliknya manusialah yang hidup karena Allah. Di tengah budaya yang mempercayai banyak dewa, Paulus menegaskan hanya satu Allah yang berdaulat atas segala sesuatu.</p>
<p>Ayat 25-29 ditegaskan oleh Paulus bahwa Allah juga yang memberi nafas, hidup, dan segala sesuatu kepada manusia. Ini berarti bahwa hidup manusia bukanlah milik mereka sendiri, tetapi anugerah Allah. Itulah mengapa manusia memang diciptakan untuk mencari Tuhan. Namun, dosalah yang membuat manusia mencari kepuasan di luar Allah. Tetapi, mezbah “<em>kepada Allah yang tidak dikenal</em>” menunjukkan kekosongan hati manusia di tengah-tengah mencari kepuasan tersebut dan memiliki hasrat untuk kembali kepada penciptanya.</p>
<p>Puncak kotbah Paulus terdapat pada ayat 30-31. Paulus menyatakan bahwa sekarang Allah memanggil semua orang untuk bertobat karena Allah telah menetapkan hari penghakiman melalui Yesus Kristus yang dibangkitkan dari antara orang mati. Kedatangan Yesus menjadi pernyataan bahwa Allah yang tidak dikenal itu telah menyatakan diri-Nya kepada manusia dan menyapa dunia dengan kasih yang sejati.</p>
<p>Setelah mendengar tentang kebangkitan, respons orang-orang berbeda-beda. Ada yang mengejek, menunda, bahkan juga menerima dan percaya (ay. 32-34). Respons ini juga yang terjadi sampai hari ini.</p>
<p>Kiranya kita sebagai orang percaya boleh sungguh-sungguh menghidupi Kristus di dalam diri kita. Begitu banyak orang di luar sana yang memiliki hasrat untuk kembali kepada Allah yang tidak mereka kenal. Tetapi Kristus telah menyatakan diri-Nya, dan melalui kitalah Kristus dapat mereka kenal dengan benar. Apapun yang menjadi respons dari orang-orang di sekitar kita, tetaplah setia memberitakan tentang kasih karunia Kristus yang telah menyapa dunia. Amin!</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Bp. Reagan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BANGKIT DAN BERKOBAR</title>
		<link>https://gkketapang.org/bangkit-dan-berkobar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2026 02:27:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9134</guid>

					<description><![CDATA[2 Timotius 1:6-8 Hari ini kita memperingati hari Pentakosta, yaitu peristiwa dimana Roh Kudus dinyatakan dalam sejarah manusia. Roh Kudus adalah Allah yang ada sejak kekekalan, namun penyataan dalam sejarah manusia baru diperkenalkan setelah Tuhan Yesus naik ke Surga. Roh Kudus inilah yang meneruskan pekerjaan Allah dalam diri Yesus Kristus, untuk menginsafkan dunia akan dosa,]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>2 Timotius 1:6-8</strong></p>
<p>Hari ini kita memperingati hari Pentakosta, yaitu peristiwa dimana Roh Kudus dinyatakan dalam sejarah manusia. Roh Kudus adalah Allah yang ada sejak kekekalan, namun penyataan dalam sejarah manusia baru diperkenalkan setelah Tuhan Yesus naik ke Surga.<span id="more-9134"></span> Roh Kudus inilah yang meneruskan pekerjaan Allah dalam diri Yesus Kristus, untuk menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, penghakiman, serta memimpin orang percaya dalam menghidupi kebenaran (Yoh. 16:8-13).</p>
<p>Terkait dengan kehidupan orang percaya, Roh Kudus memperlengkapi mereka dengan karunia rohani (1Kor. 12:8-10, Rm. 12:6-8, Ef. 4:11). Melalui karunia itulah, orang percaya menjadi efektif dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Itulah sebabnya dalam perikop kita hari ini, Paulus menguatkan Timotius sebagai orang yang berbagian dalam pekerjaan Tuhan untuk senantiasa “mengobarkan karunia Allah” yang ada padanya (ay. 6). Artinya, Timotius perlu menjaga hatinya senantiasa memiliki kerinduan agar Injil Tuhan dapat dinyatakan dengan menggunakan karunia-karunia yang diberikan Allah.</p>
<p>Tantangan bagi para pengikut Kristus adalah redupnya semangat dalam menyatakan Injil Allah karena takut atau malu, bahkan tergoda oleh daya pikat dunia, sehingga mereka tidak lagi peduli pada pimpinan Roh Kudus dalam hidup mereka. Karena itu, Paulus mengingatkan Timotius bahwa seorang yang dipimpin Roh Allah akan memiliki keberanian menyatakan kebenaran Allah, memiliki kasih akan jiwa-jiwa yang dilayani, dan ketertiban dalam menjaga pikiran kita dari jerat ketidak-kudusan (ay. 7). Jadi, jika kita hidup taat pada pimpinan Roh Kudus, maka hidup kita akan semakin dibentuk menjadi hidup yang kuat di tengah pergumulan, penuh kasih dan ketertiban karena selalu dimurnikan oleh Roh Kudus.</p>
<p>Jemaat sekalian, bagaimana kondisi spiritual kita saat ini dalam mengikut Tuhan? Adakah kita mulai undur karena ada banyak ketakutan, kekhawatiran atau kebimbangan yang membuat kita meragukan Tuhan? Ataukah kita sedang memiliki fokus lain selain hidup bagi Tuhan sehingga kita tidak berpikir untuk melayani Dia? Biarlah kita kembali membuka hati untuk taat dan dipimpin oleh Roh Kudus, sehingga hati kita berkobar kembali untuk menyatakan terang Tuhan di sekitar kita.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Richard Natasasmita</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MENERUSKAN YANG DIMULAI</title>
		<link>https://gkketapang.org/meneruskan-yang-dimulai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 May 2026 15:44:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9127</guid>

					<description><![CDATA[Yohanes 17:1-11 Yohanes 17 mencatat doa syafaat Yesus bagi para murid agar mereka tetap teguh berdiri di tengah berbagai tantangan hidup, sekaligus bagi orang-orang yang akan menjadi percaya melalui kesaksian mereka. Melalui doa ini, umat beriman diingatkan akan esensi hidup kekal dalam karya keselamatan serta Amanat Agung Kristus untuk melanjutkan misi-Nya di dalam dunia. Ada]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yohanes 17:1-11<br />
</strong><br />
Yohanes 17 mencatat doa syafaat Yesus bagi para murid agar mereka tetap teguh berdiri di tengah berbagai tantangan hidup, sekaligus bagi orang-orang yang akan menjadi percaya melalui kesaksian mereka.<span id="more-9127"></span> Melalui doa ini, umat beriman diingatkan akan esensi hidup kekal dalam karya keselamatan serta Amanat Agung Kristus untuk melanjutkan misi-Nya di dalam dunia. Ada empat kebenaran penting dari doa Yesus yang menjadi perenungan kita minggu ini:</p>
<ol>
<li><strong>Keintiman Relasi sebagai Dasar Kehidupan (ayat 1-5)</strong></li>
</ol>
<p>Yesus menegaskan bahwa hidup yang kekal adalah mengenal Allah yang benar dan Yesus Kristus yang diutus-Nya. Mengenal di sini berarti menerima dan percaya, serta membangun hubungan yang erat. Banyak orang sibuk mencari “berkat” Tuhan, tetapi lupa membangun keintiman dengan Sang Pemberi Berkat. Tanpa relasi yang intim dengan Tuhan, kita tidak akan pernah bisa meneruskan pelayanan-Nya di dunia.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Doa untuk Orang-orang Percaya (ayat 6-19)</strong></li>
</ol>
<p>Yesus tidak meminta Bapa untuk mengangkat kita keluar dari dunia, karena ada misi yang harus kita selesaikan. Namun, Dia berdoa agar kita dilindungi dari yang jahat dan dikuduskan dalam kebenaran (Firman Tuhan). Iman kita harus tetap teguh di tengah tantangan dunia dan menjaga kekudusan di tengah arus dunia yang penuh kompromi.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Doa untuk Orang-orang yang Belum Percaya (ayat 20-23)</strong></li>
</ol>
<p>Yesus berdoa untuk orang-orang yang belum percaya, yang akan percaya oleh pemberitaan firman dari orang-orang percaya. Dalam konteks pelayanan gereja, Visi Misi Gereja dan Implementasinya sangat berpengaruh terhadap arah pelayanan bersama dalam kasih untuk melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan di dalam dunia ini.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Diutus Menjadi Pembawa Berita Keselamatan (Matius 28:18-20)</strong></li>
</ol>
<p>Doa di Yohanes 17 ini menjadi bahan bakar utama bagi Amanat Agung-Nya. Pelayanan fisik Kristus di bumi memang sudah selesai, namun tongkat estafet misi itu kini ada di tangan gereja-Nya. Kita diutus untuk melangkah keluar dari zona nyaman, memberitakan kabar keselamatan, dan menjadikan semua bangsa murid-Nya dengan jaminan penyertaan-Nya yang sempurna.</p>
<p><strong>Pertanyaan Refleksi:</strong></p>
<ul>
<li>Apakah seminggu terakhir ini kita sudah menyediakan waktu untuk membangun keintiman bersama Tuhan, atau hanya sibuk dengan rutinitas duniawi?</li>
<li>Tongkat estafet pelayanan kini ada di tangan kita. Apakah kita sedang membawanya berlari dengan setia, atau justru kita sedang kehilangan arah dan tujuan?</li>
</ul>
<p>Mari kita berkomitmen untuk menyambut panggilan-Nya, menjaga kekudusan hidup sesuai firman-Nya, dan meneruskan apa yang telah dimulai! Tuhan Yesus memberkati.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Em. Martin Elvis</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MOTHER’S LEGACY: MEWARISKAN IMAN, BUKAN SEKADAR NAMA</title>
		<link>https://gkketapang.org/mothers-legacy-mewariskan-iman-bukan-sekadar-nama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2026 12:58:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9116</guid>

					<description><![CDATA[2 Timotius 1:3-5 Dalam 2 Timotius 1:3-5, Rasul Paulus membuka suratnya dengan nada yang sangat personal.  Ia tidak langsung berbicara tentang pelayanan, strategi, atau tantangan, tetapi tentang iman—iman yang “tulus ikhlas” yang ia lihat dalam diri Timotius.  Menariknya, Paulus menelusuri akar iman itu bukan dari pendidikan formal atau pengalaman pelayanan Timotius, melainkan dari dua sosok:]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>2 Timotius 1:3-5</strong></p>
<p>Dalam 2 Timotius 1:3-5, Rasul Paulus membuka suratnya dengan nada yang sangat personal.  Ia tidak langsung berbicara tentang pelayanan, strategi, atau tantangan, tetapi tentang iman—iman yang “tulus ikhlas” yang ia lihat dalam diri Timotius.<span id="more-9116"></span>  Menariknya, Paulus menelusuri akar iman itu bukan dari pendidikan formal atau pengalaman pelayanan Timotius, melainkan dari dua sosok: neneknya Lois dan ibunya Eunike.  Ini menunjukkan bahwa iman sejati sering kali bertumbuh bukan di panggung besar, tetapi di ruang-ruang sederhana dalam kehidupan keluarga.</p>
<p>Frasa “iman yang tulus ikhlas” mengandung makna iman yang tidak berpura-pura, tidak hanya tampak di luar, tetapi nyata dalam keseharian.  Lois dan Eunike tidak sekadar mengajarkan tentang Tuhan, tetapi menghidupi iman itu sedemikian rupa sehingga Timotius dapat melihat, merasakan, dan akhirnya memiliki iman tersebut secara pribadi.  Inilah warisan rohani yang sejati, bukan sekadar nama keluarga, bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi relasi yang hidup dengan Kristus.</p>
<p>Bagian ini juga secara halus mengingatkan kita bahwa keluarga adalah ladang pelayanan pertama.  Seorang ibu (dan juga ayah) dipanggil menjadi “gembala” di dalam rumahnya, bukan dalam arti sempurna, tetapi setia.  Mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menuntun hati anak kepada Tuhan Yesus.  Dalam dunia yang sering menilai keberhasilan dari pencapaian materi, firman Tuhan justru menegaskan bahwa warisan terbesar adalah iman yang hidup dalam Yesus Kristus.</p>
<p>Karena itu, ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan.  <em>Pertama</em>, para ibu dan ayah <strong>mulailah dengan membangun kehidupan rohani pribadi yang nyata</strong>.  Iman tidak bisa diwariskan jika tidak dimiliki.  Sudahkah kita sungguh-sungguh mengalami Tuhan dalam hidup sehari-hari?  <em>Kedua</em>, <strong>ciptakan momen-momen spiritual dalam keluarga</strong>, sekecil apa pun, tetapi dilakukan dengan konsisten.  Iman tidak diwariskan lewat ceramah panjang, tetapi melalui momen-momen kecil yang konsisten, seperti saat teduh bersama, doa sebelum tidur, percakapan sederhana ketika makan atau dalam perjalanan, maupun sikap hati saat menghadapi masalah.  <em>Ketiga</em>, <strong>jangan berjalan sendiri</strong>—ibu-ibu muda dapat belajar dari ibu-ibu yang lebih senior.  Lewat kelompok kecil, jemaat dapat memiliki komunitas yang mendampingi, bukan menghakimi.</p>
<p>Pada akhirnya, Mother’s Day bukan hanya tentang merayakan peran ibu, tetapi mengingat kembali panggilan yang Tuhan percayakan.  Warisan iman mungkin tidak selalu terlihat hasilnya dengan cepat, tetapi seperti yang terjadi pada Timotius, iman yang ditanam dengan setia akan berbuah pada waktunya.  Dan melalui itu, nama Tuhan dimuliakan dari generasi ke generasi.  Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Sdri. Paula C. Mulyatan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>RADIKAL DALAM KASIH</title>
		<link>https://gkketapang.org/radikal-dalam-kasih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 May 2026 12:06:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9108</guid>

					<description><![CDATA[Kisah Para Rasul 7:54-60 Istilah radikal sering dipahami secara negatif, seolah identik dengan kekerasan atau tindakan ekstrem. Padahal kata ini berasal dari bahasa Latin radix, yang berarti akar. Maka, sesuatu yang radikal sesungguhnya menunjuk pada hal yang mendasar, berakar kuat, dan berdiri di atas fondasi yang kokoh. Dalam terang firman Tuhan, kasih yang radikal adalah]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kisah Para Rasul 7:54-60</strong></p>
<p>Istilah radikal sering dipahami secara negatif, seolah identik dengan kekerasan atau tindakan ekstrem. Padahal kata ini berasal dari bahasa Latin <em>radix</em>, yang berarti akar.<span id="more-9108"></span> Maka, sesuatu yang radikal sesungguhnya menunjuk pada hal yang mendasar, berakar kuat, dan berdiri di atas fondasi yang kokoh. Dalam terang firman Tuhan, kasih yang radikal adalah kasih yang berakar dalam Kristus, sehingga tidak mudah goyah oleh keadaan seberat apa pun.</p>
<p>Kisah Stefanus menjadi gambaran nyata tentang kasih yang radikal. Ia adalah seorang pelayan jemaat yang penuh iman dan Roh Kudus, dipakai Tuhan dengan kuasa dan hikmat. Ketika dihadapkan pada Mahkamah Agama, Stefanus tidak sibuk membela diri, tetapi tetap bersaksi tentang karya Allah dan tentang Yesus Kristus sebagai Mesias yang dijanjikan. Meski kesaksiannya ditolak dan memicu kemarahan besar, ia tetap teguh sampai akhir hidupnya. Karena itu, seperti apakah “Radikal dalam Kasih” dan apakah ajaran rohani bagi jemaat Tuhan?</p>
<p><strong>Pertama, kasih yang radikal adalah kasih yang melampaui amarah (ay. 54-56)</strong>. Orang-orang yang mendengar perkataan Stefanus menjadi marah dan menggertakkan gigi. Namun, Stefanus tidak membalas dengan kebencian. Ia tetap penuh Roh Kudus dan memandang kemuliaan Allah. Ini mengajarkan bahwa orang percaya tidak boleh membiarkan kemarahan orang lain mengendalikan respons kita. Dunia boleh penuh kebencian, tetapi hati yang berakar dalam Kristus tetap memilih kasih.</p>
<p><strong>Kedua, kasih yang radikal adalah kasih yang mengampuni meski dianiaya (ay. 57-59)</strong>. Saat batu-batu menghantam tubuhnya, Stefanus berseru, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.” Ia meneladani Yesus Kristus yang berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya. Mengampuni bukan berarti menyetujui kejahatan, tetapi menyerahkan penghakiman kepada Tuhan dan membiarkan kasih-Nya menang atas luka kita.</p>
<p><strong>Ketiga, kasih yang radikal adalah kasih yang lebih kuat daripada maut (ay. 60)</strong>. Stefanus menyerahkan rohnya kepada Tuhan Yesus. Kematian bukan akhir kesaksiannya. Justru melalui peristiwa itu, Injil terus bergerak, bahkan Saulus yang hadir saat itu kelak dipakai Tuhan menjadi Rasul Paulus. Kasih yang sejati tidak dapat dihentikan oleh penderitaan maupun kematian.</p>
<p>Di Bulan Misi ini, kita dipanggil menjadi saksi Kristus yang radikal: berakar kuat dalam firman Tuhan, berani menyatakan kebenaran, dan tetap mengasihi di tengah penolakan. Dunia membutuhkan kesaksian seperti ini, yang bukan sekadar kata-kata, tetapi hidup yang memancarkan kasih Kristus sampai akhir. Kiranya Roh Kudus menolong setiap kita. Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Sdri. Paula Ch. Mulyatan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>JEJAK SALIB, JEJAK HIDUP KITA</title>
		<link>https://gkketapang.org/jejak-salib-jejak-hidup-kita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 07:34:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9100</guid>

					<description><![CDATA[1 Petrus 2:18-25 Setiap orang umumnya memiliki sosok orang yang dikagumi dan ingin diikuti, misalnya seorang anak ingin menjadi seperti ayahnya, seorang murid terinspirasi oleh gurunya, atau kita mengagumi figur tertentu karena karakter, keberhasilan, dan cara hidupnya yang mengagumkan.  Tanpa disadari, kita belajar mengikuti jejak orang yang kita anggap layak diteladani. Namun satu hal yang]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1 Petrus 2:18-25</strong></p>
<p>Setiap orang umumnya memiliki sosok orang yang dikagumi dan ingin diikuti, misalnya seorang anak ingin menjadi seperti ayahnya, seorang murid terinspirasi oleh gurunya, atau kita mengagumi figur tertentu karena karakter, keberhasilan, dan cara hidupnya yang mengagumkan.<span id="more-9100"></span>  Tanpa disadari, kita belajar mengikuti jejak orang yang kita anggap layak diteladani.</p>
<p>Namun satu hal yang menarik, di dalam hidup kekristenan, orang percaya tidak dibawa untuk mencari dan mengikuti jejak kenyamanan dan kesuksesan hidup, melainkan jejak salib Kristus.  Melalui salib Kristus, kita bukan hanya melihat kemenangan atas dosa, tetapi melalui karya salib kita juga melihat cara Kristus menjalani penderitaan dengan ketaatan dan penyerahan kepada Allah.  Petrus menulis bahwa Kristus telah menderita dan meninggalkan teladan supaya orang percaya mengikuti jejak-Nya (1Ptr. 2:21), artinya panggilan mengikuti Kristus bukan hanya menerima keselamatan yang Ia berikan, tetapi juga belajar berjalan di jalan yang pernah Ia tempuh.</p>
<p>Mengikuti jejak salib, bukan berarti kita mencari-cari cara untuk hidup menderita, sebab pergumulan dan luka adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak dapat dihindari.  Ketidakadilan, penolakan, kehilangan, atau relasi yang melukai sering kali menjadi pengalaman yang hadir tanpa diundang.  Dalam situasi seperti itu, hati manusia mudah dipenuhi kekecewaan, keinginan untuk membalas, atau pertanyaan tentang alasan di balik semua yang terjadi.</p>
<p>Dalam bagian ini, Petrus berbicara kepada para budak—kelompok orang yang pada masa itu sering berada dalam posisi paling lemah dan rentan mengalami perlakuan tidak adil.  Kepada mereka, Petrus menunjuk Kristus sebagai “Hamba Tuhan yang Menderita,” yang tetap taat dan menyerahkan diri kepada Allah di tengah penderitaan yang tidak layak diterima.</p>
<p>Di tengah kenyataan itulah jejak Kristus menjadi penting.  Petrus tidak mengarahkan pandangan hanya kepada penderitaan, melainkan membawa kita melihat kepada cara Kristus menjalaninya.  Ketika dihina, Ia tidak membalas.  Ketika menderita, Ia tidak mengancam. Kristus memilih menyerahkan diri kepada Allah yang menghakimi dengan adil.  Melalui respons-Nya, salib menjadi gambaran tentang iman yang tetap percaya sekalipun berada dalam keadaan yang tidak mudah.</p>
<p>Jejak salib menjadi jejak hidup kita, ketika respons Kristus mulai membentuk respons kita sebagai orang percaya.  Mengikuti Kristus berarti belajar percaya ketika tidak mengerti, tetap hidup benar ketika diperlakukan tidak adil, dan mempercayakan pergumulan kepada Allah ketika hati ingin membalas.</p>
<p>Jejak Kristus tidak menjauhkan manusia dari luka, tetapi menuntun cara menjalani luka itu bersama Allah, Sang Gembala dan Pemelihara jiwa.  Kiranya Tuhan menolong kita menjalani jejak salib di dalam anugerah-Nya.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Ibu Novi Handayani</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DI DUNIA, TAPI TIDAK DUNIAWI</title>
		<link>https://gkketapang.org/di-dunia-tapi-tidak-duniawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2026 01:36:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9092</guid>

					<description><![CDATA[1 Petrus 1:13-25 Ketika kita yang mengaku sebagai orang percaya hidup di dunia yang fana ini, sering kali kita mengalami dilema. Dilema ini muncul karena sebagai orang percaya kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Tentu ini bukan hal yang mudah. Tema firman Tuhan hari ini mengajarkan bagaimana kita hidup di dunia, namun tidak]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1 Petrus 1:13-25</strong></p>
<p>Ketika kita yang mengaku sebagai orang percaya hidup di dunia yang fana ini, sering kali kita mengalami dilema.<span id="more-9092"></span> Dilema ini muncul karena sebagai orang percaya kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Tentu ini bukan hal yang mudah.</p>
<p>Tema firman Tuhan hari ini mengajarkan bagaimana kita hidup di dunia, namun tidak hidup secara duniawi, yaitu tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan. Dalam hal apa saja kita harus berbeda dari dunia? Dari teks yang kita baca, setidaknya ada tiga hal di mana sikap kita harus berbeda.</p>
<ol>
<li><strong> Dalam Menyikapi Pergumulan</strong></li>
</ol>
<p>Dalam 1 Petrus 1:13 tertulis, “Sebab itu siapkanlah akal budimu, <strong>waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu</strong> seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.” Dalam menghadapi pergumulan hidup, orang percaya tidak boleh bersikap sama seperti orang yang tidak mengenal Tuhan. Orang percaya memiliki pengharapan yang tidak akan ada habis-habisnya, seberat apa pun pergumulan hidup.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Hidup dalam Kekudusan</strong></li>
</ol>
<p>Dalam 1 Petrus 1:15-16 tertulis, “tetapi <strong>hendaklah kamu menjadi kudus</strong> di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Dunia ini penuh dengan berbagai hal yang sering kali “menggoda” anak-anak Tuhan dan menyeret mereka ke dalam dosa. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk hidup kudus, yaitu hidup yang tidak mengikuti cara hidup dunia yang bertentangan dengan firman Tuhan.</p>
<ol start="3">
<li><strong> Mengucap Syukur</strong></li>
</ol>
<p>Dalam 1 Petrus 1:18 tertulis, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas.” Keselamatan yang kita terima bukan karena perbuatan baik kita, melainkan semata-mata karena anugerah Tuhan. Oleh karena itu, hidup kita seharusnya menjadi ungkapan syukur atas karya penebusan tersebut. Sebagai orang yang sudah ditebus, kita dipanggil untuk menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya, yaitu untuk hidup bagi Tuhan dan melayani Dia.</p>
<p>Ketiga hal ini hendaknya menjadi bahan perenungan bagi kita. Apakah kita sudah melakukan apa yang Tuhan mau ketika kita hidup di dunia yang penuh dosa saat ini? Kiranya kita dimampukan untuk tetap hidup di dunia, tetapi tidak menjadi serupa dengan dunia, melainkan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.</p>
<p>Tuhan Yesus memberkati.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Cahyono Candra</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SAKSI KEBANGKITAN</title>
		<link>https://gkketapang.org/saksi-kebangkitan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2026 07:24:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9086</guid>

					<description><![CDATA[Yohanes 20:19-31 Timothy Keller pernah berkata bahwa “Setiap pria dan wanita Kristen adalah pria dan wanita dalam misi.” Tentu yang dimaksud dengan misi di sini adalah untuk bersaksi tentang Injil Kristus, yaitu yang berkait dengan karya keselamatan dalam Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan Yesus kepada para murid-Nya, seperti]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yohanes 20:19-31</strong></p>
<p>Timothy Keller pernah berkata bahwa “Setiap pria dan wanita Kristen adalah pria dan wanita dalam misi.” Tentu yang dimaksud dengan misi di sini adalah untuk bersaksi tentang Injil Kristus, yaitu yang berkait dengan karya keselamatan dalam Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya.</p>
<p><span id="more-9086"></span></p>
<p>Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan Yesus kepada para murid-Nya, seperti yang disebutkan dalam bacaan kita dalam Yohanes 20:19-31, yakni tentang:</p>
<ol>
<li>Kualifikasi Saksi Kebangkitan Kristus</li>
</ol>
<p>Sebagai saksi kebangkitan Kristus tentu saja tidak bisa asal. Ada kualifikasi yang paling mendasar yang harus dipenuhi untuk menjadi saksi bagi-Nya, yakni :</p>
<ol>
<li>Saksi kebangkitan adalah mereka yang memang melihat dan mengalami langsung perjumpaan secara pribadi dengan Yesus yang telah bangkit dan mengimani-Nya dengan sungguh (Yoh. 20:16, 20, 28).</li>
<li>Saksi kebangkitan adalah mereka yang tidak melihat secara langsung, namun mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Yesus yang telah mati dan bangkit dan mengimani-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamatnya (Yoh. 20:8, 29).</li>
</ol>
<p>Karena itu, menjadi saksi kebangkitan Yesus yang terutama bukan soal fasih lidah atau memiliki berbagai macam karunia, melainkan yang paling mendasar adalah mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus dan sungguh mengimani-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamat.</p>
<ol start="2">
<li>Panggilan untuk Bersaksi bagi Kebangkitan-Nya</li>
</ol>
<p>Lalu, apa yang Yesus lakukan ketika Ia menampakkan Diri sesudah kebangkitan-Nya? Sesudah menyampaikan salam, Yesus segera mengutus para murid-Nya agar bersaksi tentang kebangkitan-Nya (Yoh. 20:21). Mengapa demikian? Sebab mereka memang telah memenuhi kualifikasi sebagai saksi kebangkitan Kristus. Bukankah itu juga yang dilakukan oleh Maria Magdalena? Sesudah ia mengalami perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit dan mengimani-Nya, maka Yesus mengutusnya untuk pergi bersaksi, dan Maria segera melakukannya tanpa menunda-nunda (Yoh. 20:17, 18).</p>
<p>Namun sangat disayangkan, hari ini banyak yang mengklaim dirinya sudah mengalami perjumpaan dengan Yesus dan mengimani-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamatnya secara pribadi, bahkan mengklaim telah menerima banyak karunia Roh, tetapi faktanya masih banyak yang enggan bersaksi tentang kematian dan kebangkitan-Nya. Mengapa begitu? Kiranya masing-masing kita menjawabnya dengan jujur di hadapan-Nya dan mohon agar Tuhan menolong kita untuk sungguh mau bersaksi bagi Dia yang telah mati dan bangkit. Amin!</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Em. Widianto Yong</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MOVE ON, YESUS SUDAH BANGKIT!</title>
		<link>https://gkketapang.org/move-on-yesus-sudah-bangkit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 02:39:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9079</guid>

					<description><![CDATA[Yohanes 20:1-18 Istilah “move on” sering kita pakai untuk menggambarkan usaha meninggalkan masa lalu, entah itu luka, kegagalan, atau kehilangan. Namun dalam kenyataan, move on tidak selalu mudah.  Waktu boleh berjalan, tetapi hati bisa tetap tertinggal di masa lalu.  Banyak orang tetap terikat pada penyesalan, rasa bersalah, atau kesedihan yang belum selesai.  Secara lahiriah tampak]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yohanes 20:1-18</strong></p>
<p>Istilah “<em>move on</em>” sering kita pakai untuk menggambarkan usaha meninggalkan masa lalu, entah itu luka, kegagalan, atau kehilangan.<span id="more-9079"></span> Namun dalam kenyataan, <em>move on</em> tidak selalu mudah.  Waktu boleh berjalan, tetapi hati bisa tetap tertinggal di masa lalu.  Banyak orang tetap terikat pada penyesalan, rasa bersalah, atau kesedihan yang belum selesai.  Secara lahiriah tampak baik-baik saja, tetapi di dalam hati masih ada hal-hal yang belum ditinggalkan.</p>
<p>Kisah kebangkitan dalam Yohanes 20:1-18 membawa kita masuk ke dalam situasi yang serupa.  Para murid Yesus sedang berada dalam kondisi tidak bisa <em>move on</em>.  Kematian Yesus bukan sekadar kehilangan seorang guru, tetapi runtuhnya seluruh harapan mereka.  Masa depan yang mereka bayangkan bersama Yesus yang akan memimpin pemberontakan seakan berakhir di kayu salib.  Para murid pria diliputi penyesalan karena telah melarikan diri dan menyangkal-Nya, sementara para wanita tenggelam dalam duka yang mendalam, bahkan ingin segera kembali ke kubur untuk menyatakan kasih mereka kepada Yesus.  Mereka semua terjebak dalam kesedihan, kebingungan, dan kehilangan arah.</p>
<p>Maria Magdalena datang ke kubur dan mendapati batu telah terguling.  Ia mengira tubuh Yesus dicuri, lalu berlari memberi tahu Petrus dan Yohanes.  Kedua murid itu datang, melihat kubur kosong, bahkan Yohanes dikatakan “percaya”, tetapi mereka tetap pulang.  Petrus dan Yohanes memang melihat fakta, tetapi belum mengalami perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit dan hidup.  Dengan kata lain, pengetahuan tentang kubur kosong ternyata belum cukup untuk mengubah hidup mereka.</p>
<p>Berbeda dengan Maria.  Ia tetap tinggal, menangis di luar kubur.  Dalam dukanya, ia bahkan tidak mengenali Yesus yang berdiri di dekatnya.  Namun, segalanya berubah ketika Yesus memanggil namanya, “Maria!”  Pada saat itulah ia berbalik, mengenali Yesus, dan hidupnya diubahkan.  Dari seorang yang larut dalam kesedihan, ia menjadi saksi kebangkitan.  Perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus yang bangkit mengubah arah hidupnya.</p>
<p>Apa yang kita pahami dari kisah ini?  Kebangkitan Tuhan Yesus bukan hanya peristiwa yang diketahui, tetapi perjumpaan yang mengubahkan.  Inilah yang memampukan seseorang untuk benar-benar <em>move on</em>.  Bukan dengan melupakan masa lalu, melainkan dengan berjalan bersama Yesus yang hidup menuju masa depan yang baru.  Kematian seolah menjadi akhir dari segala harapan, tetapi kebangkitan menyatakan bahwa cerita belum selesai—masih ada pemulihan dan pengharapan.</p>
<p>Hari ini, Yesus yang bangkit juga memanggil nama kita, satu per satu.  Ia mengundang kita keluar dari “kubur” masa lalu kita, entah itu dosa, luka, atau penyesalan, lalu melangkah dalam hidup yang baru yang Tuhan rancangkan bagi setiap umat-Nya.  Karena Yesus hidup, kita tidak lagi terikat pada masa lalu sekelam apa pun.  Karena Yesus hidup, selalu ada hari esok yang penuh pengharapan.  Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Sdri. Paula Ch. Mulyatan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
