<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Admin &#8211; Gereja Kristus Ketapang</title>
	<atom:link href="https://gkketapang.org/author/admin-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gkketapang.org</link>
	<description>Church</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Jul 2026 06:25:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.5</generator>
	<item>
		<title>KASIH YANG RELA MEMBERI</title>
		<link>https://gkketapang.org/kasih-yang-rela-memberi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2026 06:24:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9183</guid>

					<description><![CDATA[1 Yohanes 3:16-18 “Kasih,” satu kata yang menjadi identitas orang Kristen. Dalam Alkitab, hukum yang terutama adalah kasih kepada Allah, dan juga kepada sesama manusia. Ada banyak aspek tentang kasih yang dibahas dalam Alkitab, termasuk dalam kitab 1 Yohanes. Hari ini kita akan belajar tentang kasih dari 1 Yohanes 3:16-18. Dalam 3 ayat ini, kita]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1 Yohanes 3:16-18</strong></p>
<p>“Kasih,” satu kata yang menjadi identitas orang Kristen. Dalam Alkitab, hukum yang terutama adalah kasih kepada Allah, dan juga kepada sesama manusia. Ada banyak aspek tentang kasih yang dibahas dalam Alkitab, termasuk dalam kitab 1 Yohanes. Hari ini kita akan belajar tentang kasih dari 1 Yohanes 3:16-18. Dalam 3 ayat ini, kita bisa menemukan makna kasih yang sejati, bagaimana seharusnya kita berespons terhadap kasih Allah, juga cara mempraktikkan kasih dalam hidup sehari-hari.<span id="more-9183"></span></p>
<ol>
<li><strong>Makna kasih yang sejati (ay. 16a)</strong></li>
</ol>
<p>Kasih sejati dimulai dari salib Kristus. Kita bisa mengasihi orang lain, karena Kristus telah terlebih dahulu mengasihi kita dengan menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus kita dari hukuman dosa. Kata kasih di sini dipakai “<em>Agape</em>”, yakni kasih yang rela memberi tanpa menuntut atau mengharapkan imbalan. Ini adalah kasih yang begitu besar sehingga dapat diberikan kepada orang yang tidak layak dicintai atau tidak menarik, seperti yang dilakukan Allah kepada kita. <em>Agape</em> ini adalah kasih yang mencintai bahkan ketika ditolak.</p>
<p>Kasih yang sejati adalah sebuah tindakan, bukan sekadar perasaan. Kasih menghasilkan pemberian yang tidak mementingkan diri sendiri dan rela berkorban.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Respons orang yang telah menerima kasih Allah (ay. 16b)</strong></li>
</ol>
<p>Orang yang telah menerima kasih Kristus akan mengasihi sesamanya. Tindakan kasih yang terbesar adalah menyerahkan diri demi orang lain. Bagaimana kita dapat “menyerahkan hidup” bagi orang lain? Dengan melayani mereka tanpa mengharapkan balasan apa pun. Hidup bagi orang lain berarti mengutamakan kebutuhan dan kepentingan mereka di atas keinginan kita sendiri.</p>
<p>Tuhan Yesus mengajarkan prinsip kasih yang sama dalam Yohanes 15:13. Ayat ini memberikan contoh nyata tentang bagaimana kita dapat menyerahkan hidup bagi orang lain, yaitu dengan menolong mereka yang berkekurangan.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Praktik kasih sehari-hari (ay. 17-18)</strong></li>
</ol>
<p>Kasih bukan sekadar ucapan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Pengorbanan, kepedulian, dan kemurahan hati merupakan wujud dari iman yang hidup. Dunia mengenal murid-murid Kristus bukan dari pengetahuan mereka, melainkan dari kasih yang mereka praktikkan setiap hari (bdk. Yoh. 13:35).</p>
<p>Kasih juga harus dipraktikkan dalam kebenaran. Artinya, kasih tidak boleh hanya berdasarkan emosi, sekadar ingin dipuji, atau mengikuti keinginan manusia semata. Melainkan, kasih harus sesuai dengan kebenaran Allah. Kasih yang sejati selalu berjalan bersama kebenaran. Misalnya:</p>
<ul>
<li>Mengampuni bukan berarti membenarkan dosa.</li>
<li>Menolong bukan berarti mendukung orang terus hidup dalam dosa.</li>
<li>Bersikap baik bukan berarti mengorbankan kebenaran firman Tuhan.</li>
</ul>
<p>Kasih Kristen tidak mempertentangkan kasih dan kebenaran. Dalam diri Kristus, keduanya berjalan bersama (bdk. Yoh. 1:14).</p>
<p>Kasih Kristen bukan hanya sesuatu yang diucapkan, tetapi sesuatu yang dilakukan. Kasih Kristen diwujudkan dengan menolong saudara-saudari yang sedang mengalami kesulitan. Salib Kristus adalah teladan tertinggi bahwa kasih selalu rela memberi demi kebaikan orang lain.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Ibu Yumin Kwan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KASIH MENEMBUS BATAS</title>
		<link>https://gkketapang.org/kasih-menembus-batas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2026 05:34:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9176</guid>

					<description><![CDATA[Lukas 10:25-37 Bagian pertama dari perikop ini dimulai dengan pertanyaan yang baik, namun dengan motivasi yang buruk, dari seorang ahli Taurat tentang apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup kekal. Yesus menjawab dengan mengajukan pertanyaan kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Yesus mengacu kepada hukum Taurat bukan karena hukum]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lukas 10:25-37</strong></p>
<p>Bagian pertama dari perikop ini dimulai dengan pertanyaan yang baik, namun dengan motivasi yang buruk, dari seorang ahli Taurat tentang apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup kekal. Yesus menjawab dengan mengajukan pertanyaan kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Yesus mengacu kepada hukum Taurat bukan karena hukum Taurat itu dapat menyelamatkan, melainkan karena hukum Taurat memperlihatkan bahwa kita berdosa dan memerlukan keselamatan.<span id="more-9176"></span> Roma 3:20 mengatakan, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” Semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, sehingga tidak dapat melakukan hukum Taurat supaya selamat. Manusia memerlukan penebusan di dalam Kristus agar diselamatkan, sehingga dapat melakukan perbuatan yang memuliakan Tuhan.</p>
<p>Ahli Taurat menjawab Yesus dengan mengutip hukum yang terutama, yaitu tentang mengasihi Tuhan dan sesama. Lalu Yesus berkata, “Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Namun, ahli Taurat itu hendak membenarkan dirinya dengan mengatakan, “Siapakah sesamaku manusia?” Lalu Yesus menjawab dengan kisah orang Samaria yang baik hati. Ada orang yang pulang dari Yerusalem ke Yerikho dirampok habis-habisan dan dipukuli sampai setengah mati. Lalu, ada seorang imam yang melalui jalan itu; ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi, ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Namun, tidaklah demikian dengan orang Samaria. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah itu ia menyiramnya dengan minyak dan anggur. Kemudian, ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya, ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu dan berkata, “Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali.” Melalui hukum Taurat, kita mengetahui bahwa kita berdosa dan memerlukan anugerah penebusan dalam Kristus Yesus, sehingga kita diperbarui dan dapat melakukan perbuatan berdasarkan kasih Kristus. Ini mungkin terjadi ketika kita hidup dan tinggal di dalam kasih-Nya dengan melakukan firman-Nya.</p>
<p>Orang Samaria mau menolong karena digerakkan oleh belas kasihan, bukan karena ia mau melakukannya supaya selamat. Apa yang ia lakukan adalah perwujudan dari hukum kasih. Ketika seseorang tinggal di dalam kasih Tuhan, maka perbuatan berdasarkan kasih itu akan menembus batas. Ahli Taurat hanya mencari pembenaran diri untuk tidak melakukan firman Tuhan dan membangun tembok keangkuhan diri. Orang Samaria yang dibenci karena dianggap keturunan campuran dengan bangsa asing, ternyata melakukan perbuatan kasih yang menembus batas wilayah, ras, dan warga negara. Bagaimana dengan kita?</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Em. Martin Elvis</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KASIH: DARI ALTAR KE AKSI</title>
		<link>https://gkketapang.org/kasih-dari-altar-ke-aksi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2026 02:11:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9171</guid>

					<description><![CDATA[Yesaya 1:13-17 Bulan Juli adalah bulan Diakonia di lingkungan Sinode Gereja Kristus.  Hari ini kita akan membahas tema “Kasih: Dari Altar ke Aksi” melalui nas Yesaya 1:13-17 agar Firman Tuhan yang kita dengar bukan sekedar menjadi pengetahuan, tetapi kita terapkan dalam kehidupan kita. Seringkali kita melihat ada beberapa orang yang seolah-olah mempunyai dua kepribadian karena]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yesaya 1:13-17</strong></p>
<p>Bulan Juli adalah bulan Diakonia di lingkungan Sinode Gereja Kristus.  Hari ini kita akan membahas tema “Kasih: Dari Altar ke Aksi” melalui nas Yesaya 1:13-17 agar Firman Tuhan yang kita dengar bukan sekedar menjadi pengetahuan, tetapi kita terapkan dalam kehidupan kita.<span id="more-9171"></span></p>
<p>Seringkali kita melihat ada beberapa orang yang seolah-olah mempunyai dua kepribadian karena pribadinya dalam bergereja sangat berbeda dengan kehidupannya sehari-hari.  Perbuatan dan tingkah lakunya di gereja tidak selaras dengan hidup kesehariannya.  Seperti ini jugalah gambaran bangsa Israel pada saat itu.  Mereka sangat taat dalam beribadah.  Mereka membawa korban dan persembahan yang banyak (ay. 11), mereka sangat berdisiplin: tidak pernah lupa menghadap Tuhan (ay. 12-14), dan mereka juga menunjukkan sikap hormat dan sungguh-sungguh dalam beribadah (ay. 15).</p>
<p>Namun ternyata Tuhan marah atas ibadah mereka dan mengatakan: “Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.” (Yes. 1:13-15).</p>
<p>Oleh karena itu Tuhan memberi pengajaran dalam ayat 16-17, “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!”  Firman ini mengingatkan kita agar ibadah kita bukan sekedar ibadah yang ritual saja, namun benar-benar aktual menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari.  Hal ini sejalan dengan Roma 12:1-2: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”</p>
<p>Kiranya Firman Tuhan hari ini menolong kita untuk lebih memahami ibadah sejati yang diserukan oleh Yesaya dan menyadari bahwa ibadah sejati harus ditunjukkan dalam sikap sehari-hari seperti menolong, membela yang lemah, dan hadir bagi sesama yang menderita.  Marilah di bulan Diakonia ini kita semua memperbaharui diri, agar kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama berjalan seimbang dan konsisten.  Tuhan Yesus memberkati!</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Em. Setiawan Sutedjo</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DISAMBUT, BUKAN DIHALANGI</title>
		<link>https://gkketapang.org/disambut-bukan-dihalangi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2026 01:12:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9164</guid>

					<description><![CDATA[MATIUS 19:13-15 Sering kali dalam kehidupan bergereja, anak-anak dianggap sebagai pengganggu karena suara mereka yang ribut atau tingkah mereka yang aktif. Mereka dianggap belum mengerti banyak hal sehingga kehadiran mereka seringkali diabaikan. Dalam pembacaan firman Tuhan ini pun demikian, ketika orang tua membawa anak-anak mereka kepada Yesus untuk didoakan dan diberkati, para murid justru menghalangi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MATIUS 19:13-15</strong></p>
<p>Sering kali dalam kehidupan bergereja, anak-anak dianggap sebagai pengganggu karena suara mereka yang ribut atau tingkah mereka yang aktif. Mereka dianggap belum mengerti banyak hal sehingga kehadiran mereka seringkali diabaikan.<span id="more-9164"></span></p>
<p>Dalam pembacaan firman Tuhan ini pun demikian, ketika orang tua membawa anak-anak mereka kepada Yesus untuk didoakan dan diberkati, para murid justru menghalangi mereka (ay. 13). Tindakan para murid ini bukan tanpa alasan. Pada zaman itu, anak-anak dipandang belum memiliki status sosial yang penting. Mereka dianggap belum dewasa, belum mampu menaati Taurat sepenuhnya, dan belum memahami perkara-perkara rohani. Karena itu, urusan Kerajaan Allah lebih dianggap sebagai urusan orang dewasa, khususnya laki-laki dewasa. Akibatnya, anak-anak sering kali tidak menjadi prioritas dalam kehidupan keagamaan.</p>
<p>Namun, Yesus memiliki pandangan yang berbeda. Ia berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, jangan menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku” (ay. 14). Yesus tidak menolak anak-anak, melainkan menyambut mereka dengan penuh kasih dan menegaskan bahwa orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga. Artinya, kerajaan surga bukan diberikan kepada mereka yang merasa paling besar, melainkan kepada mereka yang datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, ketulusan dan kepercayaan penuh seperti seorang anak kepada bapanya. Dari respons Tuhan Yesus ini kita belajar:</p>
<ol>
<li><strong> Setiap Anak Berharga di Mata Tuhan</strong></li>
</ol>
<p>Yesus tidak menolak anak-anak, tetapi menyambut mereka dengan penuh kasih. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa setiap anak sangat berharga di mata Tuhan. Mereka bukan sekadar pelengkap dalam gereja, melainkan pribadi yang dikasihi Allah dan sedang dipersiapkan untuk mengenal-Nya. Sebagaimana firman Tuhan dalam Yesaya 43:4, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku&#8230;”, setiap anak memiliki nilai yang besar di hadapan Tuhan, dan dalam Mazmur 127:3 yang mengatakan bahwa anak-anak adalah anugerah dan pusaka dari Tuhan, serta buah kandungan adalah upah.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Gereja harus Menyambut dan Melayani Anak-anak</strong></li>
</ol>
<p>Sikap Yesus menjadi teladan bagi gereja masa kini. Gereja dipanggil untuk membuka pintu selebar-lebarnya bagi anak-anak agar mereka dapat mengenal Tuhan. Bentuk nyatanya adalah dengan menciptakan lingkungan yang ramah anak, mendukung pelayanan Sekolah Minggu dengan membekali guru-guru Sekolah Minggu dalam menyampaikan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak, serta mendorong orang tua untuk senantiasa berpartisipasi aktif  membawa anak-anak bertumbuh dalam iman.</p>
<p>Anak-anak bukan masa depan gereja semata, tetapi juga bagian dari gereja saat ini. Mereka perlu diterima, diperhatikan, dan dibimbing untuk mengenal Yesus sejak dini. Dalam Matius 18:10a mengatakan “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini.”</p>
<p>Melalui bagian firman ini, Tuhan mengingatkan kita agar tidak menjadi seperti para murid yang menghalangi anak-anak datang kepada Yesus. Sebaliknya, marilah kita menjadi pribadi yang menyambut, membimbing, dan mengarahkan anak-anak sejak kecil untuk datang kepada Kristus. Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Susi Sihaloho</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>REAL DAD</title>
		<link>https://gkketapang.org/real-dad/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2026 10:38:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9158</guid>

					<description><![CDATA[Efesus 6:4 Ketika memikirkan sosok seorang ayah, banyak orang secara otomatis mengaitkan perannya dengan pemenuhan kebutuhan finansial keluarga. Dengan kata lain, ayah dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas kebutuhan hidup keluarga sehingga secara ekonomi seluruh anggota keluarga bergantung kepadanya. Namun, benarkah peran ayah hanya sebatas memenuhi kebutuhan finansial? Apa yang Firman Tuhan ajarkan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Efesus 6:4</strong></p>
<p>Ketika memikirkan sosok seorang ayah, banyak orang secara otomatis mengaitkan perannya dengan pemenuhan kebutuhan finansial keluarga. Dengan kata lain, ayah dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas kebutuhan hidup keluarga sehingga secara ekonomi seluruh anggota keluarga bergantung kepadanya.<span id="more-9158"></span> Namun, benarkah peran ayah hanya sebatas memenuhi kebutuhan finansial? Apa yang Firman Tuhan ajarkan tentang keberadaan seorang ayah dalam keluarga?</p>
<p>Firman Tuhan dengan jelas mengajarkan bahwa peran seorang ayah tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, tetapi juga tanggung jawab mendidik anak-anaknya. Dalam mendidik, ada dua hal penting yang harus dilakukan, yaitu memberikan ajaran dan nasihat. Ajaran mencakup disiplin, sedangkan nasihat mencakup teguran yang membangun.</p>
<p>Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ajaran dan nasihat yang diberikan harus berlandaskan pada kehendak Tuhan, bukan semata-mata pada pengalaman pribadi atau tradisi turun-temurun. Pendidikan Kristen yang sejati bersumber dari Kristus dan berakar pada kebenaran Firman Tuhan. Karena itu, seorang ayah harus menanamkan hati yang takut akan Tuhan kepada anak-anaknya serta membimbing mereka hidup sesuai dengan Firman-Nya.</p>
<p>Peran ayah dalam mendidik anak di dalam Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pribadinya sendiri. Seorang ayah yang ingin membimbing anak-anaknya kepada Tuhan harus terlebih dahulu memiliki hati yang takut akan Tuhan dan menjadikan Firman Tuhan sebagai dasar hidupnya.</p>
<p>Dalam menjalankan tugas mendidik, seorang ayah juga harus berhati-hati agar tidak menimbulkan luka batin atau kepahitan dalam hati anak-anaknya. Oleh sebab itu, disiplin dan teguran harus selalu dilandasi oleh kasih Allah. Otoritas yang dimiliki seorang ayah harus dijalankan dengan kasih, kesabaran, dan hikmat yang berasal dari Tuhan. Selain itu, orang tua tidak hanya dipanggil untuk mengajar, tetapi juga untuk menjadi teladan. Anak-anak belajar bukan hanya melalui kata-kata yang mereka dengar, tetapi juga melalui kehidupan yang mereka lihat setiap hari dari orang tuanya.</p>
<p>Ingatlah bahwa orang tua hadir di dunia sebagai rekan kerja dan wakil Allah dalam membimbing anak-anak yang dipercayakan-Nya. Karena itu, marilah kita, khususnya para ayah, mendidik anak-anak yang adalah milik Tuhan agar memiliki hati yang takut akan Allah dan hidup dalam terang kebenaran Firman-Nya. Jalankan dan lakukanlah tanggung jawab yang Tuhan percayakan dengan setia. Bukan hanya menjadi penyedia kebutuhan hidup, tetapi juga menjadi pendidik, pembimbing, dan teladan rohani bagi anak-anak kita. Dengan pertolongan Tuhan, kiranya keluarga-keluarga Kristen semakin bertumbuh dalam iman dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Bp. Andry Gunawan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>YOU ARE MY FAMILY</title>
		<link>https://gkketapang.org/you-are-my-family/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2026 16:35:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9153</guid>

					<description><![CDATA[Ibrani 13:1-2 Minggu ini kita memperingati hari ulang tahun Sinode Gereja Kristus yang ke-86. Dan tema khotbah yang diangkat dalam momen HUT kali ini ialah “You are My Family” berdasarkan nas dari Ibrani 13:1-2 yang mengajak kita untuk memahami dan menghidupi firman bahwa: Kasih Fileo Menjadi Dasar dari Relasi antar Saudara Seiman Ibrani 13 diawali]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ibrani 13:1-2</strong></p>
<p>Minggu ini kita memperingati hari ulang tahun Sinode Gereja Kristus yang ke-86. Dan tema khotbah yang diangkat dalam momen HUT kali ini ialah “You are My Family” berdasarkan nas dari Ibrani 13:1-2 yang mengajak kita untuk memahami dan menghidupi firman bahwa:<span id="more-9153"></span></p>
<ol>
<li><strong> Kasih <em>Fileo</em> Menjadi Dasar dari Relasi antar Saudara Seiman </strong></li>
</ol>
<p>Ibrani 13 diawali dengan nasihat yang bernada perintah agar jemaat memelihara kasih persaudaraan. Apa maksudnya? Kata “kasih persaudaraan” (Yun., <em>philadelphia</em>) berarti kasih antar sahabat atau saudara seiman. Jadi, penulis Ibrani ingin menekankan bahwa hubungan antar orang percaya seharusnya sehangat dan seerat ikatan dalam keluarga. Contohnya seperti persahabatan yang terjalin antara Daud dan Yonatan (1Sam. 18:1).</p>
<p>Lalu, mengapa penulis Ibrani memerintahkan kita untuk memelihara kasih persaudaraan? Kata “pelihara” (Yun., <em>meno</em>) menunjukkan perintah untuk tetap tinggal, tidak berhenti dan terus berlanjut. Jadi, penulis mengingatkan kita bahwa kasih persaudaraan itu bukan dan jangan hanya perasaan sesaat (bnd. Why. 2:4), melainkan komitmen yang harus terus dipelihara meski ada perbedaan pendapat atau kepentingan pribadi. Kasih persaudaraan yang dipelihara dengan konsisten akan menjauhkan kita dari konflik dan permusuhan.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Kasih <em>Fileo</em> Patut Diwujudkan Tanpa Pilih Kasih</strong></li>
</ol>
<p>Lalu, apakah kasih persaudaraan itu cukup sekadar dipelihara dan bersifat eksklusif? Tentu saja tidak! Penulis Ibrani melanjutkan nasihatnya di ayat 2 dengan memerintahkan jemaat penerima suratnya dan bagi kita sekarang untuk: “Jangan lupa memberi tumpangan kepada orang.” Kata “lupa” (Yun., <em>epilanthanesthe</em>) menunjukkan arti lalai. Jadi, kita diperintahkan untuk jangan lupa atau lalai dalam hal memberi tumpangan kepada orang.</p>
<p>Frasa “memberi tumpangan” di dalamnya menunjuk arti kasih yang dinyatakan kepada orang asing, ada tindakan kongkret sebagai wujud nyata dari kasih. Jadi, kita dipanggil untuk mewujudkan kasih bukan hanya kepada saudara seiman, melainkan juga kepada orang asing. Mengapa begitu? Penulis Ibrani memberikan alasannya bahwa tanpa disadari bisa saja kita sedang menjamu malaikat-malaikat Tuhan lewat keramahan atau kemurahan hati yang ditunjukkan (bnd. Kej. 18-19). Jadi, ibadah sejati tidak hanya terjadi dan diwujudkan dalam gereja, tetapi juga diwujudkan melalui keramahan dan kepedulian sosial terhadap sesama dalam perilaku hidup sehari-hari (bnd. Kis. 2:42-47).</p>
<p>Dalam momen HUT Sinode Gereja Kristus yang ke-86, kiranya kita semua sebagai jemaat Tuhan yang terhisap dalam gereja-gereja Kristus se-sinode terpanggil untuk senantiasa memelihara kasih persaudaraan dan menyatakan kasih itu bukan hanya dalam lingkup antar gereja dan antar saudara seiman, melainkan juga di dalam kehidupan sehari-hari melalui keramahan dan kepedulian sosial terhadap orang-orang di sekitar kita.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Em. Widianto Jong</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DIPERCAYA UNTUK MERAWAT BUMI</title>
		<link>https://gkketapang.org/dipercaya-untuk-merawat-bumi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2026 04:38:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9146</guid>

					<description><![CDATA[Kejadian 2:15 “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Dalam kitab Kejadian pasal satu dan dua setelah penciptaan alam semesta dan segala isinya, TUHAN Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya (Kej. 1:27). Manusia menjadi puncak dari ciptaan, setelah segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya disediakan TUHAN]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kejadian 2:15</strong></p>
<h2>“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”</h2>
<p>Dalam kitab Kejadian pasal satu dan dua setelah penciptaan alam semesta dan segala isinya, TUHAN Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya (Kej. 1:27). Manusia menjadi puncak dari ciptaan, setelah segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya disediakan TUHAN Allah. Selanjutnya, manusia menerima mandat yang sangat penting dalam Kejadian 1:28, yaitu untuk beranak-cucu, serta berkuasa untuk mengelola bumi.<span id="more-9146"></span> Mandat penting ini ditegaskan lagi dalam Kejadian 2:15. Suatu kepercayaan yang begitu besar bagi manusia untuk merawat bumi. Pada peringatan hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dirayakan pada tanggal 5 Juni, ada tiga poin penting yang akan menjadi perenungan kita bersama dalam ibadah ini:</p>
<h2>1.           Panggilan Kerja/Merawat Bumi adalah Mandat TUHAN</h2>
<p>Istilah TUHAN Allah “mengambil” (<em>Ibr: Laqach</em>) atau lengkapnya “mengambil untuk maksud dan tujuan TUHAN,” dan istilah “menempatkan” (<em>Ibr: Yanach</em>) atau “tinggal di tempat yang ditentukan TUHAN,” menyatakan dengan jelas bahwa manusia menerima panggilan untuk melakukan apa yang menjadi kehendak dan tujuan Tuhan. Sebab, panggilan untuk bekerja dan merawat bumi juga demi kehidupan manusia itu sendiri. Firman Tuhan ini juga mengingatkan bahwa TUHAN Allah tidak menciptakan manusia untuk bermalas-malasan, melainkan menempatkannya dengan tugas yang jelas dan sekaligus menegaskan bahwa manusia itu hidup di bawah otoritas Sang Pencipta.</p>
<p>Secara sederhana, bagi yang sudah bekerja, bekerjalah dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab sebagai bagian dari ketaatan kita pada Tuhan. Bagi kita yang sedang mencari pekerjaan, mintalah kepada Bapa dan berupayalah agar kita mendapatkan pekerjaan. Bagi yang memberi pekerjaan, lakukanlah dengan kasih kepada Tuhan.</p>
<h2>2.           Panggilan untuk Mengabdi “Mengusahakan”</h2>
<p>Kata “mengusahakan” (<em>Ibr: abad</em>) juga memiliki arti utamanya “melayani,” “bekerja,” “mengolah tanah,” juga berarti “hamba yang melayani.” Manusia ditempatkan di taman Eden untuk mengusahakan atau bekerja sebagai bagian dari panggilan Tuhan. Perintah ini diberikan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Artinya, bekerja pada dasarnya adalah kehendak TUHAN dan bagian dari aturan awal Allah untuk manusia. Oleh karena itu, kita tidak ditempatkan di bumi sebagai penguasa mengeksploitasi alam demi kepentingan pribadi. Sebaliknya, mengelola dan mengembangkannya agar menghasilkan kebaikan demi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Kita secara pribadi, keluarga, gereja, bahkan seluruh anak negeri menerima panggilan serta dipercaya menjadi “perpanjangan tangan” Tuhan untuk mengusahakan hal baik, khususnya di lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja kita!</p>
<h2>3.  Tanggung Jawab Manusia untuk “Memelihara”</h2>
<p>Kata “memelihara” (<em>Ibr: shamar</em>) atau juga berarti “menjaga, melindungi dan melestarikan” menegaskan bahwa manusia menerima tugas untuk menjaga, melindungi dan melestarikan alam ciptaan TUHAN. Kata Ibrani <em>shamar </em>menyatakan bahwa kita dipercayakan tugas sebagai <em>steward </em>(penatalayan). Memelihara berarti memastikan bahwa apa yang kita lakukan dan gunakan dari alam tidak merusak alam, sebab manusia bukan pemilik mutlak atas bumi. Manusia diberi otoritas untuk memanfaatkan alam, namun wajib menjaganya agar tidak rusak, dan itu perintah TUHAN. Oleh karena itu, orang Kristen, warga jemaat dan tiap-tiap keluarga diharapkan mewujudkan tanggung jawab mulia ini dengan tindakan nyata, seperti menjaga kebersihan, menghemat air, tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan listrik, bahan bakar dengan bertanggung jawab, dll. Sebab sesungguhnya itu juga adalah bagian dari ibadah nyata dalam menjaga “taman” yang Tuhan titipkan kepada kita. Amin!</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Relly Rajagukguk</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>IMAN YANG MENYAPA DUNIA</title>
		<link>https://gkketapang.org/iman-yang-menyapa-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 May 2026 04:18:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9139</guid>

					<description><![CDATA[Kisah Para Rasul 17:22-34 Dalam Kisah Para Rasul 17:22-34, Paulus sedang berada di kota Athena yang menjadi pusat filsafat dan kebudayaan Yunani. Banyak patung dewa dan altar penyembahan di sana, tetapi Paulus menemukan ada satu mezbah yang bertuliskan: “kepada Allah yang tidak dikenal.” Dari titik itulah Paulus mulai memberitakan Injil. Yang menarik adalah Paulus tidak]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kisah Para Rasul 17:22-34</strong></p>
<p>Dalam Kisah Para Rasul 17:22-34, Paulus sedang berada di kota Athena yang menjadi pusat filsafat dan kebudayaan Yunani. Banyak patung dewa dan altar penyembahan di sana, tetapi Paulus menemukan ada satu mezbah yang bertuliskan: “<em>kepada Allah yang tidak dikenal</em>.”<span id="more-9139"></span> Dari titik itulah Paulus mulai memberitakan Injil. Yang menarik adalah Paulus tidak langsung menyerang budaya mereka. Ia memulai dari apa yang mereka kenal selama ini, lalu mengarahkan mereka kepada kebenaran tentang Allah yang sejati. Ini menyatakan bahwa pemberitaan Injil bukan tentang mempersalahkan orang lain, tetapi membawa manusia untuk mengenal Tuhan yang benar dengan cara yang benar.</p>
<p>Ayat 24 menegaskan bahwa Allah yang sejati adalah Pencipta langit dan bumi. Ia tidak tinggal di kuil buatan tangan manusia dan tidak bergantung pada penyembahan atau pelayanan manusia, tetapi sebaliknya manusialah yang hidup karena Allah. Di tengah budaya yang mempercayai banyak dewa, Paulus menegaskan hanya satu Allah yang berdaulat atas segala sesuatu.</p>
<p>Ayat 25-29 ditegaskan oleh Paulus bahwa Allah juga yang memberi nafas, hidup, dan segala sesuatu kepada manusia. Ini berarti bahwa hidup manusia bukanlah milik mereka sendiri, tetapi anugerah Allah. Itulah mengapa manusia memang diciptakan untuk mencari Tuhan. Namun, dosalah yang membuat manusia mencari kepuasan di luar Allah. Tetapi, mezbah “<em>kepada Allah yang tidak dikenal</em>” menunjukkan kekosongan hati manusia di tengah-tengah mencari kepuasan tersebut dan memiliki hasrat untuk kembali kepada penciptanya.</p>
<p>Puncak kotbah Paulus terdapat pada ayat 30-31. Paulus menyatakan bahwa sekarang Allah memanggil semua orang untuk bertobat karena Allah telah menetapkan hari penghakiman melalui Yesus Kristus yang dibangkitkan dari antara orang mati. Kedatangan Yesus menjadi pernyataan bahwa Allah yang tidak dikenal itu telah menyatakan diri-Nya kepada manusia dan menyapa dunia dengan kasih yang sejati.</p>
<p>Setelah mendengar tentang kebangkitan, respons orang-orang berbeda-beda. Ada yang mengejek, menunda, bahkan juga menerima dan percaya (ay. 32-34). Respons ini juga yang terjadi sampai hari ini.</p>
<p>Kiranya kita sebagai orang percaya boleh sungguh-sungguh menghidupi Kristus di dalam diri kita. Begitu banyak orang di luar sana yang memiliki hasrat untuk kembali kepada Allah yang tidak mereka kenal. Tetapi Kristus telah menyatakan diri-Nya, dan melalui kitalah Kristus dapat mereka kenal dengan benar. Apapun yang menjadi respons dari orang-orang di sekitar kita, tetaplah setia memberitakan tentang kasih karunia Kristus yang telah menyapa dunia. Amin!</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Bp. Reagan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BANGKIT DAN BERKOBAR</title>
		<link>https://gkketapang.org/bangkit-dan-berkobar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2026 02:27:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9134</guid>

					<description><![CDATA[2 Timotius 1:6-8 Hari ini kita memperingati hari Pentakosta, yaitu peristiwa dimana Roh Kudus dinyatakan dalam sejarah manusia. Roh Kudus adalah Allah yang ada sejak kekekalan, namun penyataan dalam sejarah manusia baru diperkenalkan setelah Tuhan Yesus naik ke Surga. Roh Kudus inilah yang meneruskan pekerjaan Allah dalam diri Yesus Kristus, untuk menginsafkan dunia akan dosa,]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>2 Timotius 1:6-8</strong></p>
<p>Hari ini kita memperingati hari Pentakosta, yaitu peristiwa dimana Roh Kudus dinyatakan dalam sejarah manusia. Roh Kudus adalah Allah yang ada sejak kekekalan, namun penyataan dalam sejarah manusia baru diperkenalkan setelah Tuhan Yesus naik ke Surga.<span id="more-9134"></span> Roh Kudus inilah yang meneruskan pekerjaan Allah dalam diri Yesus Kristus, untuk menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, penghakiman, serta memimpin orang percaya dalam menghidupi kebenaran (Yoh. 16:8-13).</p>
<p>Terkait dengan kehidupan orang percaya, Roh Kudus memperlengkapi mereka dengan karunia rohani (1Kor. 12:8-10, Rm. 12:6-8, Ef. 4:11). Melalui karunia itulah, orang percaya menjadi efektif dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Itulah sebabnya dalam perikop kita hari ini, Paulus menguatkan Timotius sebagai orang yang berbagian dalam pekerjaan Tuhan untuk senantiasa “mengobarkan karunia Allah” yang ada padanya (ay. 6). Artinya, Timotius perlu menjaga hatinya senantiasa memiliki kerinduan agar Injil Tuhan dapat dinyatakan dengan menggunakan karunia-karunia yang diberikan Allah.</p>
<p>Tantangan bagi para pengikut Kristus adalah redupnya semangat dalam menyatakan Injil Allah karena takut atau malu, bahkan tergoda oleh daya pikat dunia, sehingga mereka tidak lagi peduli pada pimpinan Roh Kudus dalam hidup mereka. Karena itu, Paulus mengingatkan Timotius bahwa seorang yang dipimpin Roh Allah akan memiliki keberanian menyatakan kebenaran Allah, memiliki kasih akan jiwa-jiwa yang dilayani, dan ketertiban dalam menjaga pikiran kita dari jerat ketidak-kudusan (ay. 7). Jadi, jika kita hidup taat pada pimpinan Roh Kudus, maka hidup kita akan semakin dibentuk menjadi hidup yang kuat di tengah pergumulan, penuh kasih dan ketertiban karena selalu dimurnikan oleh Roh Kudus.</p>
<p>Jemaat sekalian, bagaimana kondisi spiritual kita saat ini dalam mengikut Tuhan? Adakah kita mulai undur karena ada banyak ketakutan, kekhawatiran atau kebimbangan yang membuat kita meragukan Tuhan? Ataukah kita sedang memiliki fokus lain selain hidup bagi Tuhan sehingga kita tidak berpikir untuk melayani Dia? Biarlah kita kembali membuka hati untuk taat dan dipimpin oleh Roh Kudus, sehingga hati kita berkobar kembali untuk menyatakan terang Tuhan di sekitar kita.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Richard Natasasmita</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MENERUSKAN YANG DIMULAI</title>
		<link>https://gkketapang.org/meneruskan-yang-dimulai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 May 2026 15:44:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9127</guid>

					<description><![CDATA[Yohanes 17:1-11 Yohanes 17 mencatat doa syafaat Yesus bagi para murid agar mereka tetap teguh berdiri di tengah berbagai tantangan hidup, sekaligus bagi orang-orang yang akan menjadi percaya melalui kesaksian mereka. Melalui doa ini, umat beriman diingatkan akan esensi hidup kekal dalam karya keselamatan serta Amanat Agung Kristus untuk melanjutkan misi-Nya di dalam dunia. Ada]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yohanes 17:1-11<br />
</strong><br />
Yohanes 17 mencatat doa syafaat Yesus bagi para murid agar mereka tetap teguh berdiri di tengah berbagai tantangan hidup, sekaligus bagi orang-orang yang akan menjadi percaya melalui kesaksian mereka.<span id="more-9127"></span> Melalui doa ini, umat beriman diingatkan akan esensi hidup kekal dalam karya keselamatan serta Amanat Agung Kristus untuk melanjutkan misi-Nya di dalam dunia. Ada empat kebenaran penting dari doa Yesus yang menjadi perenungan kita minggu ini:</p>
<ol>
<li><strong>Keintiman Relasi sebagai Dasar Kehidupan (ayat 1-5)</strong></li>
</ol>
<p>Yesus menegaskan bahwa hidup yang kekal adalah mengenal Allah yang benar dan Yesus Kristus yang diutus-Nya. Mengenal di sini berarti menerima dan percaya, serta membangun hubungan yang erat. Banyak orang sibuk mencari “berkat” Tuhan, tetapi lupa membangun keintiman dengan Sang Pemberi Berkat. Tanpa relasi yang intim dengan Tuhan, kita tidak akan pernah bisa meneruskan pelayanan-Nya di dunia.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Doa untuk Orang-orang Percaya (ayat 6-19)</strong></li>
</ol>
<p>Yesus tidak meminta Bapa untuk mengangkat kita keluar dari dunia, karena ada misi yang harus kita selesaikan. Namun, Dia berdoa agar kita dilindungi dari yang jahat dan dikuduskan dalam kebenaran (Firman Tuhan). Iman kita harus tetap teguh di tengah tantangan dunia dan menjaga kekudusan di tengah arus dunia yang penuh kompromi.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Doa untuk Orang-orang yang Belum Percaya (ayat 20-23)</strong></li>
</ol>
<p>Yesus berdoa untuk orang-orang yang belum percaya, yang akan percaya oleh pemberitaan firman dari orang-orang percaya. Dalam konteks pelayanan gereja, Visi Misi Gereja dan Implementasinya sangat berpengaruh terhadap arah pelayanan bersama dalam kasih untuk melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan di dalam dunia ini.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Diutus Menjadi Pembawa Berita Keselamatan (Matius 28:18-20)</strong></li>
</ol>
<p>Doa di Yohanes 17 ini menjadi bahan bakar utama bagi Amanat Agung-Nya. Pelayanan fisik Kristus di bumi memang sudah selesai, namun tongkat estafet misi itu kini ada di tangan gereja-Nya. Kita diutus untuk melangkah keluar dari zona nyaman, memberitakan kabar keselamatan, dan menjadikan semua bangsa murid-Nya dengan jaminan penyertaan-Nya yang sempurna.</p>
<p><strong>Pertanyaan Refleksi:</strong></p>
<ul>
<li>Apakah seminggu terakhir ini kita sudah menyediakan waktu untuk membangun keintiman bersama Tuhan, atau hanya sibuk dengan rutinitas duniawi?</li>
<li>Tongkat estafet pelayanan kini ada di tangan kita. Apakah kita sedang membawanya berlari dengan setia, atau justru kita sedang kehilangan arah dan tujuan?</li>
</ul>
<p>Mari kita berkomitmen untuk menyambut panggilan-Nya, menjaga kekudusan hidup sesuai firman-Nya, dan meneruskan apa yang telah dimulai! Tuhan Yesus memberkati.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Em. Martin Elvis</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
