MARKUS 11:12-14
Kisah dalam Markus 11:12-14 dapat dipahami sebagai salah satu tindakan simbolis yang dilakukan oleh Yesus untuk mengajarkan kebenaran rohani kepada murid-murid tentang kehidupan rohani mereka di hadapan Allah. Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Yesus melihat sebuah pohon ara yang tampak indah, subur, berdaun lebat, dan dari jauh terlihat menjanjikan. Namun ketika Yesus mendekat, ternyata tidak ada buahnya sama sekali.
Tindakan Yesus mengutuk pohon ara ini merupakan kritik simbolis terhadap kehidupan rohani umat Israel pada masa itu. Kehidupan mereka tampak seperti pohon ara yang subur dan penuh daun, namun tidak menghasilkan buah. Orang-orang Israel menantikan Mesias dan menjalankan segala hukum Taurat hanya, tetapi sering kali hanya sebatas formalitas. Mereka terjebak dalam legalisme tanpa pemaknaan yang benar, sehingga hidup mereka tidak sungguh-sungguh menghasilkan buah pertobatan di hadapan Allah.
Hal ini mengajarkan beberapa hal penting bagi kita:
- Mengikut Yesus Harus Berbuah
Ketika kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias dan Juruselamat, iman itu tidak hanya sebatas ucapan di mulut saja, tetapi harus terlihat melalui perubahan hidup yang nyata dalam tindakan dan perbuatan. Dalam Galatia 5:22-23 mengatakan, “Tetapi buah roh ialah kasih sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” Jadi ketika kita hidup di dalam Kristus, maka buah roh ini seharusnya semakin nyata dalam kehidupan kita.
Perlu dipahami bahwa tindakan Yesus mengutuk pohon ara ini tidak bertentangan dengan tatanan alam yang Tuhan sendiri tetapkan. Markus memang mencatat bahwa saat itu “bukan musim buah ara”. Namun pada pohon ara yang sudah berdaun lebat, biasanya sudah muncul buah awal yang disebut breba (atau taqsh), yaitu buah yang muncul sebelum musim panen utama. Dengan kata lain, Tuhan Yesus tidak mencari penampilan rohani yang indah, tetapi buah yang lahir dari iman yang sejati. Buah rohani tidak muncul hanya dari usaha manusia, tetapi dari kehidupan yang melekat kepada Kristus. Yesus berkata dalam Yohanes 15:5, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Artinya, kehidupan yang berbuah lahir dari relasi yang hidup dengan Kristus melalui firman dan doa.
- Teguran bagi Kehidupan yang Tidak Berbuah.
Dalam Markus 11:14 Yesus berkata, “Jangan lagi seorang pun makan buah daripadamu selama-lamanya.” Ini menunjukkan teguran yang serius. Bahkan, Markus 11:20 mencatat bahwa ketika murid-murid lewat kembali, mereka melihat pohon ara itu sudah kering sampai ke akar-akarnya. Teguran ini mengingatkan bahwa kehidupan yang tidak menghasilkan buah pertobatan tidak dapat terus dibiarkan. Ada tanggung jawab bagi setiap orang percaya untuk menghasilkan buah kebaikan dan ketaatan di hadapan Allah.
Dalam Matius 3:10 dikatak, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” Inilah konsekuensi dari orang yang tidak berbuah bahwa mereka akan menghadapi penghukuman kekal. Oleh karena itu, Yesus menginginkan adanya pertobatan yang nyata dan hasil dari pertobatan itu adalah menghasilkan buah.
Kiranya dalam minggu Pra-paskah ke 4 ini, kita kembali merenungkan kehidupan kita di hadapan Tuhan: sudahkah hidup kita menghasilkan buah yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang di sekitar kita? Jika belum, marilah kita merendahkan diri di hadapan Tuhan, memohon pengampunan-Nya, dan kembali memperbarui komitmen untuk menghasilkan buah di dalam keseharian kita. Jangan sampai kita hanya menjadi orang Kristen yang rajin beribadah dan aktif dalam berbagai kegiatan gereja, tetapi hidup kita tidak sungguh-sungguh berbuah di hadapan Tuhan dan sesama.
Kiranya Tuhan menolong kita semua. Selamat memasuki minggu Pra-paskah yang ke 4.
Tuhan Yesus memberkati.