<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gereja Kristus Ketapang</title>
	<atom:link href="https://gkketapang.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gkketapang.org</link>
	<description>Church</description>
	<lastBuildDate>Sat, 16 May 2026 15:45:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.5</generator>
	<item>
		<title>MENERUSKAN YANG DIMULAI</title>
		<link>https://gkketapang.org/meneruskan-yang-dimulai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 May 2026 15:44:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9127</guid>

					<description><![CDATA[Yohanes 17:1-11 Yohanes 17 mencatat doa syafaat Yesus bagi para murid agar mereka tetap teguh berdiri di tengah berbagai tantangan hidup, sekaligus bagi orang-orang yang akan menjadi percaya melalui kesaksian mereka. Melalui doa ini, umat beriman diingatkan akan esensi hidup kekal dalam karya keselamatan serta Amanat Agung Kristus untuk melanjutkan misi-Nya di dalam dunia. Ada]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yohanes 17:1-11<br />
</strong><br />
Yohanes 17 mencatat doa syafaat Yesus bagi para murid agar mereka tetap teguh berdiri di tengah berbagai tantangan hidup, sekaligus bagi orang-orang yang akan menjadi percaya melalui kesaksian mereka.<span id="more-9127"></span> Melalui doa ini, umat beriman diingatkan akan esensi hidup kekal dalam karya keselamatan serta Amanat Agung Kristus untuk melanjutkan misi-Nya di dalam dunia. Ada empat kebenaran penting dari doa Yesus yang menjadi perenungan kita minggu ini:</p>
<ol>
<li><strong>Keintiman Relasi sebagai Dasar Kehidupan (ayat 1-5)</strong></li>
</ol>
<p>Yesus menegaskan bahwa hidup yang kekal adalah mengenal Allah yang benar dan Yesus Kristus yang diutus-Nya. Mengenal di sini berarti menerima dan percaya, serta membangun hubungan yang erat. Banyak orang sibuk mencari “berkat” Tuhan, tetapi lupa membangun keintiman dengan Sang Pemberi Berkat. Tanpa relasi yang intim dengan Tuhan, kita tidak akan pernah bisa meneruskan pelayanan-Nya di dunia.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Doa untuk Orang-orang Percaya (ayat 6-19)</strong></li>
</ol>
<p>Yesus tidak meminta Bapa untuk mengangkat kita keluar dari dunia, karena ada misi yang harus kita selesaikan. Namun, Dia berdoa agar kita dilindungi dari yang jahat dan dikuduskan dalam kebenaran (Firman Tuhan). Iman kita harus tetap teguh di tengah tantangan dunia dan menjaga kekudusan di tengah arus dunia yang penuh kompromi.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Doa untuk Orang-orang yang Belum Percaya (ayat 20-23)</strong></li>
</ol>
<p>Yesus berdoa untuk orang-orang yang belum percaya, yang akan percaya oleh pemberitaan firman dari orang-orang percaya. Dalam konteks pelayanan gereja, Visi Misi Gereja dan Implementasinya sangat berpengaruh terhadap arah pelayanan bersama dalam kasih untuk melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan di dalam dunia ini.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Diutus Menjadi Pembawa Berita Keselamatan (Matius 28:18-20)</strong></li>
</ol>
<p>Doa di Yohanes 17 ini menjadi bahan bakar utama bagi Amanat Agung-Nya. Pelayanan fisik Kristus di bumi memang sudah selesai, namun tongkat estafet misi itu kini ada di tangan gereja-Nya. Kita diutus untuk melangkah keluar dari zona nyaman, memberitakan kabar keselamatan, dan menjadikan semua bangsa murid-Nya dengan jaminan penyertaan-Nya yang sempurna.</p>
<p><strong>Pertanyaan Refleksi:</strong></p>
<ul>
<li>Apakah seminggu terakhir ini kita sudah menyediakan waktu untuk membangun keintiman bersama Tuhan, atau hanya sibuk dengan rutinitas duniawi?</li>
<li>Tongkat estafet pelayanan kini ada di tangan kita. Apakah kita sedang membawanya berlari dengan setia, atau justru kita sedang kehilangan arah dan tujuan?</li>
</ul>
<p>Mari kita berkomitmen untuk menyambut panggilan-Nya, menjaga kekudusan hidup sesuai firman-Nya, dan meneruskan apa yang telah dimulai! Tuhan Yesus memberkati.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Em. Martin Elvis</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MOTHER’S LEGACY: MEWARISKAN IMAN, BUKAN SEKADAR NAMA</title>
		<link>https://gkketapang.org/mothers-legacy-mewariskan-iman-bukan-sekadar-nama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2026 12:58:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9116</guid>

					<description><![CDATA[2 Timotius 1:3-5 Dalam 2 Timotius 1:3-5, Rasul Paulus membuka suratnya dengan nada yang sangat personal.  Ia tidak langsung berbicara tentang pelayanan, strategi, atau tantangan, tetapi tentang iman—iman yang “tulus ikhlas” yang ia lihat dalam diri Timotius.  Menariknya, Paulus menelusuri akar iman itu bukan dari pendidikan formal atau pengalaman pelayanan Timotius, melainkan dari dua sosok:]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>2 Timotius 1:3-5</strong></p>
<p>Dalam 2 Timotius 1:3-5, Rasul Paulus membuka suratnya dengan nada yang sangat personal.  Ia tidak langsung berbicara tentang pelayanan, strategi, atau tantangan, tetapi tentang iman—iman yang “tulus ikhlas” yang ia lihat dalam diri Timotius.<span id="more-9116"></span>  Menariknya, Paulus menelusuri akar iman itu bukan dari pendidikan formal atau pengalaman pelayanan Timotius, melainkan dari dua sosok: neneknya Lois dan ibunya Eunike.  Ini menunjukkan bahwa iman sejati sering kali bertumbuh bukan di panggung besar, tetapi di ruang-ruang sederhana dalam kehidupan keluarga.</p>
<p>Frasa “iman yang tulus ikhlas” mengandung makna iman yang tidak berpura-pura, tidak hanya tampak di luar, tetapi nyata dalam keseharian.  Lois dan Eunike tidak sekadar mengajarkan tentang Tuhan, tetapi menghidupi iman itu sedemikian rupa sehingga Timotius dapat melihat, merasakan, dan akhirnya memiliki iman tersebut secara pribadi.  Inilah warisan rohani yang sejati, bukan sekadar nama keluarga, bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi relasi yang hidup dengan Kristus.</p>
<p>Bagian ini juga secara halus mengingatkan kita bahwa keluarga adalah ladang pelayanan pertama.  Seorang ibu (dan juga ayah) dipanggil menjadi “gembala” di dalam rumahnya, bukan dalam arti sempurna, tetapi setia.  Mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menuntun hati anak kepada Tuhan Yesus.  Dalam dunia yang sering menilai keberhasilan dari pencapaian materi, firman Tuhan justru menegaskan bahwa warisan terbesar adalah iman yang hidup dalam Yesus Kristus.</p>
<p>Karena itu, ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan.  <em>Pertama</em>, para ibu dan ayah <strong>mulailah dengan membangun kehidupan rohani pribadi yang nyata</strong>.  Iman tidak bisa diwariskan jika tidak dimiliki.  Sudahkah kita sungguh-sungguh mengalami Tuhan dalam hidup sehari-hari?  <em>Kedua</em>, <strong>ciptakan momen-momen spiritual dalam keluarga</strong>, sekecil apa pun, tetapi dilakukan dengan konsisten.  Iman tidak diwariskan lewat ceramah panjang, tetapi melalui momen-momen kecil yang konsisten, seperti saat teduh bersama, doa sebelum tidur, percakapan sederhana ketika makan atau dalam perjalanan, maupun sikap hati saat menghadapi masalah.  <em>Ketiga</em>, <strong>jangan berjalan sendiri</strong>—ibu-ibu muda dapat belajar dari ibu-ibu yang lebih senior.  Lewat kelompok kecil, jemaat dapat memiliki komunitas yang mendampingi, bukan menghakimi.</p>
<p>Pada akhirnya, Mother’s Day bukan hanya tentang merayakan peran ibu, tetapi mengingat kembali panggilan yang Tuhan percayakan.  Warisan iman mungkin tidak selalu terlihat hasilnya dengan cepat, tetapi seperti yang terjadi pada Timotius, iman yang ditanam dengan setia akan berbuah pada waktunya.  Dan melalui itu, nama Tuhan dimuliakan dari generasi ke generasi.  Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Sdri. Paula C. Mulyatan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>RADIKAL DALAM KASIH</title>
		<link>https://gkketapang.org/radikal-dalam-kasih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 May 2026 12:06:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9108</guid>

					<description><![CDATA[Kisah Para Rasul 7:54-60 Istilah radikal sering dipahami secara negatif, seolah identik dengan kekerasan atau tindakan ekstrem. Padahal kata ini berasal dari bahasa Latin radix, yang berarti akar. Maka, sesuatu yang radikal sesungguhnya menunjuk pada hal yang mendasar, berakar kuat, dan berdiri di atas fondasi yang kokoh. Dalam terang firman Tuhan, kasih yang radikal adalah]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kisah Para Rasul 7:54-60</strong></p>
<p>Istilah radikal sering dipahami secara negatif, seolah identik dengan kekerasan atau tindakan ekstrem. Padahal kata ini berasal dari bahasa Latin <em>radix</em>, yang berarti akar.<span id="more-9108"></span> Maka, sesuatu yang radikal sesungguhnya menunjuk pada hal yang mendasar, berakar kuat, dan berdiri di atas fondasi yang kokoh. Dalam terang firman Tuhan, kasih yang radikal adalah kasih yang berakar dalam Kristus, sehingga tidak mudah goyah oleh keadaan seberat apa pun.</p>
<p>Kisah Stefanus menjadi gambaran nyata tentang kasih yang radikal. Ia adalah seorang pelayan jemaat yang penuh iman dan Roh Kudus, dipakai Tuhan dengan kuasa dan hikmat. Ketika dihadapkan pada Mahkamah Agama, Stefanus tidak sibuk membela diri, tetapi tetap bersaksi tentang karya Allah dan tentang Yesus Kristus sebagai Mesias yang dijanjikan. Meski kesaksiannya ditolak dan memicu kemarahan besar, ia tetap teguh sampai akhir hidupnya. Karena itu, seperti apakah “Radikal dalam Kasih” dan apakah ajaran rohani bagi jemaat Tuhan?</p>
<p><strong>Pertama, kasih yang radikal adalah kasih yang melampaui amarah (ay. 54-56)</strong>. Orang-orang yang mendengar perkataan Stefanus menjadi marah dan menggertakkan gigi. Namun, Stefanus tidak membalas dengan kebencian. Ia tetap penuh Roh Kudus dan memandang kemuliaan Allah. Ini mengajarkan bahwa orang percaya tidak boleh membiarkan kemarahan orang lain mengendalikan respons kita. Dunia boleh penuh kebencian, tetapi hati yang berakar dalam Kristus tetap memilih kasih.</p>
<p><strong>Kedua, kasih yang radikal adalah kasih yang mengampuni meski dianiaya (ay. 57-59)</strong>. Saat batu-batu menghantam tubuhnya, Stefanus berseru, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.” Ia meneladani Yesus Kristus yang berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya. Mengampuni bukan berarti menyetujui kejahatan, tetapi menyerahkan penghakiman kepada Tuhan dan membiarkan kasih-Nya menang atas luka kita.</p>
<p><strong>Ketiga, kasih yang radikal adalah kasih yang lebih kuat daripada maut (ay. 60)</strong>. Stefanus menyerahkan rohnya kepada Tuhan Yesus. Kematian bukan akhir kesaksiannya. Justru melalui peristiwa itu, Injil terus bergerak, bahkan Saulus yang hadir saat itu kelak dipakai Tuhan menjadi Rasul Paulus. Kasih yang sejati tidak dapat dihentikan oleh penderitaan maupun kematian.</p>
<p>Di Bulan Misi ini, kita dipanggil menjadi saksi Kristus yang radikal: berakar kuat dalam firman Tuhan, berani menyatakan kebenaran, dan tetap mengasihi di tengah penolakan. Dunia membutuhkan kesaksian seperti ini, yang bukan sekadar kata-kata, tetapi hidup yang memancarkan kasih Kristus sampai akhir. Kiranya Roh Kudus menolong setiap kita. Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Sdri. Paula Ch. Mulyatan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>JEJAK SALIB, JEJAK HIDUP KITA</title>
		<link>https://gkketapang.org/jejak-salib-jejak-hidup-kita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 07:34:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9100</guid>

					<description><![CDATA[1 Petrus 2:18-25 Setiap orang umumnya memiliki sosok orang yang dikagumi dan ingin diikuti, misalnya seorang anak ingin menjadi seperti ayahnya, seorang murid terinspirasi oleh gurunya, atau kita mengagumi figur tertentu karena karakter, keberhasilan, dan cara hidupnya yang mengagumkan.  Tanpa disadari, kita belajar mengikuti jejak orang yang kita anggap layak diteladani. Namun satu hal yang]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1 Petrus 2:18-25</strong></p>
<p>Setiap orang umumnya memiliki sosok orang yang dikagumi dan ingin diikuti, misalnya seorang anak ingin menjadi seperti ayahnya, seorang murid terinspirasi oleh gurunya, atau kita mengagumi figur tertentu karena karakter, keberhasilan, dan cara hidupnya yang mengagumkan.<span id="more-9100"></span>  Tanpa disadari, kita belajar mengikuti jejak orang yang kita anggap layak diteladani.</p>
<p>Namun satu hal yang menarik, di dalam hidup kekristenan, orang percaya tidak dibawa untuk mencari dan mengikuti jejak kenyamanan dan kesuksesan hidup, melainkan jejak salib Kristus.  Melalui salib Kristus, kita bukan hanya melihat kemenangan atas dosa, tetapi melalui karya salib kita juga melihat cara Kristus menjalani penderitaan dengan ketaatan dan penyerahan kepada Allah.  Petrus menulis bahwa Kristus telah menderita dan meninggalkan teladan supaya orang percaya mengikuti jejak-Nya (1Ptr. 2:21), artinya panggilan mengikuti Kristus bukan hanya menerima keselamatan yang Ia berikan, tetapi juga belajar berjalan di jalan yang pernah Ia tempuh.</p>
<p>Mengikuti jejak salib, bukan berarti kita mencari-cari cara untuk hidup menderita, sebab pergumulan dan luka adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak dapat dihindari.  Ketidakadilan, penolakan, kehilangan, atau relasi yang melukai sering kali menjadi pengalaman yang hadir tanpa diundang.  Dalam situasi seperti itu, hati manusia mudah dipenuhi kekecewaan, keinginan untuk membalas, atau pertanyaan tentang alasan di balik semua yang terjadi.</p>
<p>Dalam bagian ini, Petrus berbicara kepada para budak—kelompok orang yang pada masa itu sering berada dalam posisi paling lemah dan rentan mengalami perlakuan tidak adil.  Kepada mereka, Petrus menunjuk Kristus sebagai “Hamba Tuhan yang Menderita,” yang tetap taat dan menyerahkan diri kepada Allah di tengah penderitaan yang tidak layak diterima.</p>
<p>Di tengah kenyataan itulah jejak Kristus menjadi penting.  Petrus tidak mengarahkan pandangan hanya kepada penderitaan, melainkan membawa kita melihat kepada cara Kristus menjalaninya.  Ketika dihina, Ia tidak membalas.  Ketika menderita, Ia tidak mengancam. Kristus memilih menyerahkan diri kepada Allah yang menghakimi dengan adil.  Melalui respons-Nya, salib menjadi gambaran tentang iman yang tetap percaya sekalipun berada dalam keadaan yang tidak mudah.</p>
<p>Jejak salib menjadi jejak hidup kita, ketika respons Kristus mulai membentuk respons kita sebagai orang percaya.  Mengikuti Kristus berarti belajar percaya ketika tidak mengerti, tetap hidup benar ketika diperlakukan tidak adil, dan mempercayakan pergumulan kepada Allah ketika hati ingin membalas.</p>
<p>Jejak Kristus tidak menjauhkan manusia dari luka, tetapi menuntun cara menjalani luka itu bersama Allah, Sang Gembala dan Pemelihara jiwa.  Kiranya Tuhan menolong kita menjalani jejak salib di dalam anugerah-Nya.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Ibu Novi Handayani</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DI DUNIA, TAPI TIDAK DUNIAWI</title>
		<link>https://gkketapang.org/di-dunia-tapi-tidak-duniawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2026 01:36:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9092</guid>

					<description><![CDATA[1 Petrus 1:13-25 Ketika kita yang mengaku sebagai orang percaya hidup di dunia yang fana ini, sering kali kita mengalami dilema. Dilema ini muncul karena sebagai orang percaya kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Tentu ini bukan hal yang mudah. Tema firman Tuhan hari ini mengajarkan bagaimana kita hidup di dunia, namun tidak]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1 Petrus 1:13-25</strong></p>
<p>Ketika kita yang mengaku sebagai orang percaya hidup di dunia yang fana ini, sering kali kita mengalami dilema.<span id="more-9092"></span> Dilema ini muncul karena sebagai orang percaya kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Tentu ini bukan hal yang mudah.</p>
<p>Tema firman Tuhan hari ini mengajarkan bagaimana kita hidup di dunia, namun tidak hidup secara duniawi, yaitu tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan. Dalam hal apa saja kita harus berbeda dari dunia? Dari teks yang kita baca, setidaknya ada tiga hal di mana sikap kita harus berbeda.</p>
<ol>
<li><strong> Dalam Menyikapi Pergumulan</strong></li>
</ol>
<p>Dalam 1 Petrus 1:13 tertulis, “Sebab itu siapkanlah akal budimu, <strong>waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu</strong> seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.” Dalam menghadapi pergumulan hidup, orang percaya tidak boleh bersikap sama seperti orang yang tidak mengenal Tuhan. Orang percaya memiliki pengharapan yang tidak akan ada habis-habisnya, seberat apa pun pergumulan hidup.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Hidup dalam Kekudusan</strong></li>
</ol>
<p>Dalam 1 Petrus 1:15-16 tertulis, “tetapi <strong>hendaklah kamu menjadi kudus</strong> di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Dunia ini penuh dengan berbagai hal yang sering kali “menggoda” anak-anak Tuhan dan menyeret mereka ke dalam dosa. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk hidup kudus, yaitu hidup yang tidak mengikuti cara hidup dunia yang bertentangan dengan firman Tuhan.</p>
<ol start="3">
<li><strong> Mengucap Syukur</strong></li>
</ol>
<p>Dalam 1 Petrus 1:18 tertulis, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas.” Keselamatan yang kita terima bukan karena perbuatan baik kita, melainkan semata-mata karena anugerah Tuhan. Oleh karena itu, hidup kita seharusnya menjadi ungkapan syukur atas karya penebusan tersebut. Sebagai orang yang sudah ditebus, kita dipanggil untuk menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya, yaitu untuk hidup bagi Tuhan dan melayani Dia.</p>
<p>Ketiga hal ini hendaknya menjadi bahan perenungan bagi kita. Apakah kita sudah melakukan apa yang Tuhan mau ketika kita hidup di dunia yang penuh dosa saat ini? Kiranya kita dimampukan untuk tetap hidup di dunia, tetapi tidak menjadi serupa dengan dunia, melainkan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.</p>
<p>Tuhan Yesus memberkati.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Cahyono Candra</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SAKSI KEBANGKITAN</title>
		<link>https://gkketapang.org/saksi-kebangkitan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2026 07:24:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9086</guid>

					<description><![CDATA[Yohanes 20:19-31 Timothy Keller pernah berkata bahwa “Setiap pria dan wanita Kristen adalah pria dan wanita dalam misi.” Tentu yang dimaksud dengan misi di sini adalah untuk bersaksi tentang Injil Kristus, yaitu yang berkait dengan karya keselamatan dalam Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan Yesus kepada para murid-Nya, seperti]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yohanes 20:19-31</strong></p>
<p>Timothy Keller pernah berkata bahwa “Setiap pria dan wanita Kristen adalah pria dan wanita dalam misi.” Tentu yang dimaksud dengan misi di sini adalah untuk bersaksi tentang Injil Kristus, yaitu yang berkait dengan karya keselamatan dalam Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya.</p>
<p><span id="more-9086"></span></p>
<p>Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan Yesus kepada para murid-Nya, seperti yang disebutkan dalam bacaan kita dalam Yohanes 20:19-31, yakni tentang:</p>
<ol>
<li>Kualifikasi Saksi Kebangkitan Kristus</li>
</ol>
<p>Sebagai saksi kebangkitan Kristus tentu saja tidak bisa asal. Ada kualifikasi yang paling mendasar yang harus dipenuhi untuk menjadi saksi bagi-Nya, yakni :</p>
<ol>
<li>Saksi kebangkitan adalah mereka yang memang melihat dan mengalami langsung perjumpaan secara pribadi dengan Yesus yang telah bangkit dan mengimani-Nya dengan sungguh (Yoh. 20:16, 20, 28).</li>
<li>Saksi kebangkitan adalah mereka yang tidak melihat secara langsung, namun mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Yesus yang telah mati dan bangkit dan mengimani-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamatnya (Yoh. 20:8, 29).</li>
</ol>
<p>Karena itu, menjadi saksi kebangkitan Yesus yang terutama bukan soal fasih lidah atau memiliki berbagai macam karunia, melainkan yang paling mendasar adalah mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus dan sungguh mengimani-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamat.</p>
<ol start="2">
<li>Panggilan untuk Bersaksi bagi Kebangkitan-Nya</li>
</ol>
<p>Lalu, apa yang Yesus lakukan ketika Ia menampakkan Diri sesudah kebangkitan-Nya? Sesudah menyampaikan salam, Yesus segera mengutus para murid-Nya agar bersaksi tentang kebangkitan-Nya (Yoh. 20:21). Mengapa demikian? Sebab mereka memang telah memenuhi kualifikasi sebagai saksi kebangkitan Kristus. Bukankah itu juga yang dilakukan oleh Maria Magdalena? Sesudah ia mengalami perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit dan mengimani-Nya, maka Yesus mengutusnya untuk pergi bersaksi, dan Maria segera melakukannya tanpa menunda-nunda (Yoh. 20:17, 18).</p>
<p>Namun sangat disayangkan, hari ini banyak yang mengklaim dirinya sudah mengalami perjumpaan dengan Yesus dan mengimani-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamatnya secara pribadi, bahkan mengklaim telah menerima banyak karunia Roh, tetapi faktanya masih banyak yang enggan bersaksi tentang kematian dan kebangkitan-Nya. Mengapa begitu? Kiranya masing-masing kita menjawabnya dengan jujur di hadapan-Nya dan mohon agar Tuhan menolong kita untuk sungguh mau bersaksi bagi Dia yang telah mati dan bangkit. Amin!</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Em. Widianto Yong</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MOVE ON, YESUS SUDAH BANGKIT!</title>
		<link>https://gkketapang.org/move-on-yesus-sudah-bangkit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 02:39:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9079</guid>

					<description><![CDATA[Yohanes 20:1-18 Istilah “move on” sering kita pakai untuk menggambarkan usaha meninggalkan masa lalu, entah itu luka, kegagalan, atau kehilangan. Namun dalam kenyataan, move on tidak selalu mudah.  Waktu boleh berjalan, tetapi hati bisa tetap tertinggal di masa lalu.  Banyak orang tetap terikat pada penyesalan, rasa bersalah, atau kesedihan yang belum selesai.  Secara lahiriah tampak]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yohanes 20:1-18</strong></p>
<p>Istilah “<em>move on</em>” sering kita pakai untuk menggambarkan usaha meninggalkan masa lalu, entah itu luka, kegagalan, atau kehilangan.<span id="more-9079"></span> Namun dalam kenyataan, <em>move on</em> tidak selalu mudah.  Waktu boleh berjalan, tetapi hati bisa tetap tertinggal di masa lalu.  Banyak orang tetap terikat pada penyesalan, rasa bersalah, atau kesedihan yang belum selesai.  Secara lahiriah tampak baik-baik saja, tetapi di dalam hati masih ada hal-hal yang belum ditinggalkan.</p>
<p>Kisah kebangkitan dalam Yohanes 20:1-18 membawa kita masuk ke dalam situasi yang serupa.  Para murid Yesus sedang berada dalam kondisi tidak bisa <em>move on</em>.  Kematian Yesus bukan sekadar kehilangan seorang guru, tetapi runtuhnya seluruh harapan mereka.  Masa depan yang mereka bayangkan bersama Yesus yang akan memimpin pemberontakan seakan berakhir di kayu salib.  Para murid pria diliputi penyesalan karena telah melarikan diri dan menyangkal-Nya, sementara para wanita tenggelam dalam duka yang mendalam, bahkan ingin segera kembali ke kubur untuk menyatakan kasih mereka kepada Yesus.  Mereka semua terjebak dalam kesedihan, kebingungan, dan kehilangan arah.</p>
<p>Maria Magdalena datang ke kubur dan mendapati batu telah terguling.  Ia mengira tubuh Yesus dicuri, lalu berlari memberi tahu Petrus dan Yohanes.  Kedua murid itu datang, melihat kubur kosong, bahkan Yohanes dikatakan “percaya”, tetapi mereka tetap pulang.  Petrus dan Yohanes memang melihat fakta, tetapi belum mengalami perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit dan hidup.  Dengan kata lain, pengetahuan tentang kubur kosong ternyata belum cukup untuk mengubah hidup mereka.</p>
<p>Berbeda dengan Maria.  Ia tetap tinggal, menangis di luar kubur.  Dalam dukanya, ia bahkan tidak mengenali Yesus yang berdiri di dekatnya.  Namun, segalanya berubah ketika Yesus memanggil namanya, “Maria!”  Pada saat itulah ia berbalik, mengenali Yesus, dan hidupnya diubahkan.  Dari seorang yang larut dalam kesedihan, ia menjadi saksi kebangkitan.  Perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus yang bangkit mengubah arah hidupnya.</p>
<p>Apa yang kita pahami dari kisah ini?  Kebangkitan Tuhan Yesus bukan hanya peristiwa yang diketahui, tetapi perjumpaan yang mengubahkan.  Inilah yang memampukan seseorang untuk benar-benar <em>move on</em>.  Bukan dengan melupakan masa lalu, melainkan dengan berjalan bersama Yesus yang hidup menuju masa depan yang baru.  Kematian seolah menjadi akhir dari segala harapan, tetapi kebangkitan menyatakan bahwa cerita belum selesai—masih ada pemulihan dan pengharapan.</p>
<p>Hari ini, Yesus yang bangkit juga memanggil nama kita, satu per satu.  Ia mengundang kita keluar dari “kubur” masa lalu kita, entah itu dosa, luka, atau penyesalan, lalu melangkah dalam hidup yang baru yang Tuhan rancangkan bagi setiap umat-Nya.  Karena Yesus hidup, kita tidak lagi terikat pada masa lalu sekelam apa pun.  Karena Yesus hidup, selalu ada hari esok yang penuh pengharapan.  Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Sdri. Paula Ch. Mulyatan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DIBUANG DUNIA, DITINGGIKAN ALLAH</title>
		<link>https://gkketapang.org/dibuang-dunia-ditinggikan-allah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2026 12:29:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9068</guid>

					<description><![CDATA[Markus 12:1-12 Mungkin kita pernah mendengar kisah atau berita mengenai sebuah lahan tanah yang awalnya disewakan, namun bertahun-tahun kemudian diklaim oleh si penyewa sebagai miliknya. Terjadilah sengketa antara pemilik asli dengan yang merasa memilikinya. Keadaan ironi ini ternyata dipakai oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan di perikop ini sebagai teguran dan refleksi bagi kita. Dalam perikop]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Markus 12:1-12</strong></p>
<p>Mungkin kita pernah mendengar kisah atau berita mengenai sebuah lahan tanah yang awalnya disewakan, namun bertahun-tahun kemudian diklaim oleh si penyewa sebagai miliknya.<span id="more-9068"></span> Terjadilah sengketa antara pemilik asli dengan yang merasa memilikinya. Keadaan ironi ini ternyata dipakai oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan di perikop ini sebagai teguran dan refleksi bagi kita.</p>
<p>Dalam perikop yang kita baca hari ini, ada seorang pemilik kebun anggur yang menyewakan lahannya kepada para penggarap, yang kemudian tidak mau menyerahkan hasil kebun, bahkan memukuli setiap utusan dari pemilik kebun anggur itu, termasuk membunuh anak dari pemilik kebun. Perumpamaan ini sedang menceritakan mengenai Allah yang memiliki umat-Nya, yaitu bangsa Israel (kebun anggur) dan dipercayakan kepada para pemimpin (para penggarap) untuk digembalakan. Namun, yang terjadi adalah para pemimpin Israel seringkali tidak memimpin mereka dalam jalan Allah, tidak mau mendengar suara Allah, menganiaya para nabi utusan Allah, dan bahkan akan membunuh Kristus sebagai Anak Allah.</p>
<p>Apa masalah dari mereka yang menolak suara dan utusan Allah? Hati yang keras menghalangi mereka untuk meresponi apa yang diinginkan Allah. Dalam konteks perikop, para pemimpin itu, yang tersinggung atas apa yang Tuhan Yesus sampaikan, menganggap teguran Tuhan Yesus sebagai ancaman bagi kendali dan otoritas mereka. Mereka tidak lagi dapat mengenali apa yang disampaikan Firman Tuhan dan menolak Yesus yang datang sebagai Mesias. Namun mereka keliru, Yesus Kristus yang ditolak mereka adalah batu penjuru. Rencana keselamatan Allah tidak berhenti hanya karena para pemimpin itu menolak Kristus.</p>
<p>Para pemimpin tersebut lupa jika mereka hanyalah “penatalayan” dari Allah untuk membawa umat menghasilkan buah rohani bagi Allah. Mereka malahan menghalangi umat untuk datang kepada Kristus, Sang batu penjuru tersebut, dengan membebani mereka dengan segala aturan dan hukum yang jauh dari anugerah Tuhan.</p>
<p>Respons kita sekarang adalah mengingat diri kita adalah para “penatalayan” Allah yang perlu menghasilkan buah rohani berdasarkan iman kita yang diletakkan di atas batu penjuru, yaitu Kristus. Janganlah kita membangun hidup di atas dasar kekuasaan atau kehendak pribadi, melainkan di atas dasar Kristus. Beriman kepada Kristus berarti kita mau meletakkan segala kehendak, hati, dan setiap kendali hidup kita kepada-Nya saja.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Richard Natasasmita</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BUKAN SEKEDAR BERDAUN LEBAT</title>
		<link>https://gkketapang.org/bukan-sekedar-berdaun-lebat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2026 01:48:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9063</guid>

					<description><![CDATA[MARKUS 11:12-14 Kisah dalam Markus 11:12-14 dapat dipahami sebagai salah satu tindakan simbolis yang dilakukan oleh Yesus untuk mengajarkan kebenaran rohani kepada murid-murid tentang kehidupan rohani mereka di hadapan Allah. Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Yesus melihat sebuah pohon ara yang tampak indah, subur, berdaun lebat, dan dari jauh terlihat menjanjikan. Namun ketika Yesus mendekat, ternyata]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MARKUS 11:12-14</strong></p>
<p>Kisah dalam Markus 11:12-14 dapat dipahami sebagai salah satu tindakan simbolis yang dilakukan oleh Yesus untuk mengajarkan kebenaran rohani kepada murid-murid tentang kehidupan rohani mereka di hadapan Allah.<span id="more-9063"></span> Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Yesus melihat sebuah pohon ara yang tampak indah, subur, berdaun lebat, dan dari jauh terlihat menjanjikan. Namun ketika Yesus mendekat, ternyata tidak ada buahnya sama sekali.</p>
<p>Tindakan Yesus mengutuk pohon ara ini merupakan kritik simbolis terhadap kehidupan rohani umat Israel pada masa itu. Kehidupan mereka tampak seperti pohon ara yang subur dan penuh daun, namun tidak menghasilkan buah. Orang-orang Israel menantikan Mesias dan menjalankan segala hukum Taurat hanya, tetapi sering kali hanya sebatas formalitas. Mereka terjebak dalam legalisme tanpa pemaknaan yang benar, sehingga hidup mereka tidak sungguh-sungguh menghasilkan buah pertobatan di hadapan Allah.</p>
<p>Hal ini mengajarkan beberapa hal penting bagi kita:</p>
<ol>
<li><strong> Mengikut Yesus Harus Berbuah</strong></li>
</ol>
<p>Ketika kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias dan Juruselamat, iman itu tidak hanya sebatas ucapan di mulut saja, tetapi harus terlihat melalui perubahan hidup yang nyata dalam tindakan dan perbuatan. Dalam Galatia 5:22-23 mengatakan, “Tetapi buah roh ialah kasih sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” Jadi ketika kita hidup di dalam Kristus, maka buah roh ini seharusnya semakin nyata dalam kehidupan kita.</p>
<p>Perlu dipahami bahwa tindakan Yesus mengutuk pohon ara ini tidak bertentangan dengan tatanan alam yang Tuhan sendiri tetapkan. Markus memang mencatat bahwa saat itu “bukan musim buah ara”. Namun pada pohon ara yang sudah berdaun lebat, biasanya sudah muncul buah awal yang disebut <em>breba</em> (atau <em>taqsh</em>), yaitu buah yang muncul sebelum musim panen utama. Dengan kata lain, Tuhan Yesus tidak mencari penampilan rohani yang indah, tetapi buah yang lahir dari iman yang sejati. Buah rohani tidak muncul hanya dari usaha manusia, tetapi dari kehidupan yang melekat kepada Kristus. Yesus berkata dalam Yohanes 15:5, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Artinya, kehidupan yang berbuah lahir dari relasi yang hidup dengan Kristus melalui firman dan doa.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Teguran bagi Kehidupan yang Tidak Berbuah. </strong></li>
</ol>
<p>Dalam Markus 11:14 Yesus berkata, “Jangan lagi seorang pun makan buah daripadamu selama-lamanya.” Ini menunjukkan teguran yang serius. Bahkan, Markus 11:20 mencatat bahwa ketika murid-murid lewat kembali, mereka melihat pohon ara itu sudah kering sampai ke akar-akarnya. Teguran ini mengingatkan bahwa kehidupan yang tidak menghasilkan buah pertobatan tidak dapat terus dibiarkan. Ada tanggung jawab bagi setiap orang percaya untuk menghasilkan buah kebaikan dan ketaatan di hadapan Allah.</p>
<p>Dalam Matius 3:10 dikatak, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” Inilah konsekuensi dari orang yang tidak berbuah bahwa mereka akan menghadapi penghukuman kekal. Oleh karena itu, Yesus menginginkan adanya pertobatan yang nyata dan hasil dari pertobatan itu adalah menghasilkan buah.</p>
<p>Kiranya dalam minggu Pra-paskah ke 4 ini, kita kembali merenungkan kehidupan kita di hadapan Tuhan: sudahkah hidup kita menghasilkan buah yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang di sekitar kita? Jika belum, marilah kita merendahkan diri di hadapan Tuhan, memohon pengampunan-Nya, dan kembali memperbarui komitmen untuk menghasilkan buah di dalam keseharian kita. Jangan sampai kita hanya menjadi orang Kristen yang rajin beribadah dan aktif dalam berbagai kegiatan gereja, tetapi hidup kita tidak sungguh-sungguh berbuah di hadapan Tuhan dan sesama.</p>
<p>Kiranya Tuhan menolong kita semua. Selamat memasuki minggu Pra-paskah yang ke 4.</p>
<p>Tuhan Yesus memberkati.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>JALAN SANG MESIAS</title>
		<link>https://gkketapang.org/jalan-sang-mesias/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2026 13:13:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9057</guid>

					<description><![CDATA[Markus 9:30-32 Perikop ini berisi pemberitahuan kedua dari Tuhan Yesus kepada para murid tentang penderitaan yang akan Ia alami. Kalau ada pemberitahuan yang kedua, berarti sebelumnya sudah ada pemberitahuan yang pertama. Bahkan, dalam hal ini Tuhan Yesus tiga kali memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan mengalami penderitaan, penganiayaan, dibunuh dan pada hari ketiga bangkit kembali.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Markus 9:30-32</strong></p>
<p>Perikop ini berisi pemberitahuan kedua dari Tuhan Yesus kepada para murid tentang penderitaan yang akan Ia alami.<span id="more-9057"></span> Kalau ada pemberitahuan yang kedua, berarti sebelumnya sudah ada pemberitahuan yang pertama. Bahkan, dalam hal ini Tuhan Yesus tiga kali memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan mengalami penderitaan, penganiayaan, dibunuh dan pada hari ketiga bangkit kembali. Pengulangan sampai tiga kali menunjukkan bahwa hal ini sangat penting. Tapi, para murid tidak memahami apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus.</p>
<p>Selama kurang lebih tiga tahun para murid melayani bersama Tuhan Yesus. Mereka telah mendengarkan ajaran-ajaran Tuhan Yesus tentang Kerajaan Allah dan menyaksikan bagaimana kehebatan Tuhan Yesus yang menyembuhkan orang sakit, memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, serta mengusir roh-roh jahat. Melihat semua kuasa itu, mereka berharap Tuhan Yesus akan menjadi raja bagi Israel dan membebaskan dari kekuasaan kerajaan Romawi. Bahkan, para murid ada yang ingin menjadi yang pertama, yang terbesar dan duduk dalam kemuliaan Tuhan Yesus di samping kiri dan kanan-Nya pada saat nanti Ia menjadi raja secara politis.</p>
<p>Karena itulah, para murid sulit menerima berita tentang penderitaan dan kematian Tuhan Yesus. Pikiran mereka dipenuhi ambisi dan pengharapan pribadi, sehingga mereka tidak dapat menangkap makna misi kedatangan Yesus yang sesungguhnya. Mereka juga tidak berani bertanya ketika tidak mengerti. Mungkin karena takut ditegur, takut dianggap tidak paham, atau karena hati mereka sudah memiliki gambaran sendiri tentang Mesias. Sikap ini bisa menjadi cermin bagi kita. Bukankah sering kali kita juga demikian? Ketika firman Tuhan tidak sesuai dengan harapan atau keinginan kita, kita memilih diam, tidak bertanya, bahkan menutup hati. Kita mendengar, tetapi tidak sungguh-sungguh mau memahaminya.</p>
<p>Inilah jalan Sang Mesias. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, maka ada pengharapan bagi manusia yang berdosa, yaitu pengampunan dosa dan keselamatan dari murka Allah. Ketika manusia percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, maka akan memperoleh kehidupan yang kekal di surga. Dan setiap orang yang percaya kepada Yesus dan mengikut Dia, maka mereka adalah murid Kristus.</p>
<p>Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk meneladani kehidupan-Nya. Yesus tidak berfokus pada diri-Nya sendiri, tidak mencari kedudukan dan kebesaran, tetapi dengan kerendahan hati melayani semua orang. Bahkan, Ia rela menderita demi ketaatan kepada kehendak Bapa. Inilah jalan Sang Mesias. Untuk semakin memahami jalan Sang Mesias, kita perlu terus hidup dekat dengan-Nya, mendengar firman-Nya, berani bertanya ketika tidak mengerti, dan menaati perkataan-Nya. Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Bp. Andry Gunawan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
