<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gereja Kristus Ketapang</title>
	<atom:link href="https://gkketapang.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gkketapang.org</link>
	<description>Church</description>
	<lastBuildDate>Sun, 16 Aug 2026 02:17:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.7</generator>
	<item>
		<title>MENSYUKURI PERTOLONGAN TUHAN</title>
		<link>https://gkketapang.org/mensyukuri-pertolongan-tuhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2026 02:16:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9213</guid>

					<description><![CDATA[Mazmur 124 Minggu ini kita merenungkan firman Tuhan dengan tema “Mensyukuri Pertolongan Tuhan.” Setiap orang tentu pernah mengalami pertolongan Tuhan. Namun, bagaimana respons kita ketika mengalami pertolongan-Nya? Ada orang yang merasa hidupnya sepenuhnya bergantung pada dirinya sendiri. Ketika sakit, ia berobat; ketika ingin berhasil, ia bekerja keras. Ada juga yang merasa Tuhan memang harus menolong]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mazmur 124</strong></p>
<p>Minggu ini kita merenungkan firman Tuhan dengan tema <strong>“Mensyukuri Pertolongan Tuhan.” </strong>Setiap orang tentu pernah mengalami pertolongan Tuhan. Namun, bagaimana respons kita ketika mengalami pertolongan-Nya?</p>
<p>Ada orang yang merasa hidupnya sepenuhnya bergantung pada dirinya sendiri. Ketika sakit, ia berobat; ketika ingin berhasil, ia bekerja keras. Ada juga yang merasa Tuhan memang harus menolong karena sudah percaya, berdoa, melayani, dan memberi persembahan. Tetapi ada respons yang ketiga, yaitu menyadari bahwa pertolongan Tuhan adalah <strong>anugerah</strong>. Kita tidak selalu layak menerimanya, tetapi Tuhan tetap menolong karena kasih dan kebaikan-Nya. Hidup, kesehatan, keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan berbagai kemampuan yang kita miliki semuanya adalah anugerah Tuhan.</p>
<p>Mazmur 124 mengajak kita melihat kembali perjalanan hidup dan mengingat pertolongan Tuhan. Mazmur ini merupakan salah satu nyanyian ziarah dan mengungkapkan pengalaman umat Tuhan yang menyadari bahwa mereka dapat bertahan bukan karena kekuatan sendiri, tetapi karena Tuhan menyertai mereka. Karena itu pemazmur berkata, “Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita&#8230;” (ay. 1).</p>
<p>Ada tiga hal yang dapat kita renungkan. <em>Pertama</em><strong>, </strong>bersyukurlah karena Tuhan selalu menyertai kita (ay. 1-2). Sering kali kita baru menyadari pertolongan Tuhan setelah masalah berlalu. Padahal sejak awal Tuhan sudah bekerja: membuka jalan, memberikan hikmat, mengirimkan orang yang menolong, dan memberikan kekuatan. Belajarlah melihat kehidupan dengan “kacamata syukur”, bukan hanya dengan “kacamata masalah”. <em>Kedua</em><strong>, </strong>bersyukurlah karena Tuhan melepaskan kita dari bahaya (ay. 3-7). Ada bahaya yang kita sadari dan ada yang tidak kita ketahui. Tuhan mungkin telah melindungi</p>
<p>kita dari kecelakaan, menjaga keluarga, memulihkan kita, atau menghindarkan kita dari keputusan yang salah. Jangan hanya mengingat mukjizat besar, tetapi syukurilah juga pertolongan Tuhan setiap hari. <em>Ketiga</em><strong>, </strong>percayalah bahwa pertolongan Tuhan tetap dapat diandalkan (ay. 8). Manusia, kesehatan, keuangan, dan keadaan dapat berubah, tetapi Tuhan tetap sama. Karena itu pemazmur berkata, “Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”</p>
<p>Kita melihat hal yang sama dalam kisah Tuhan Yesus menenangkan angin ribut (Mrk. 4:35-41). Ketika murid-murid ketakutan di tengah badai, Yesus hadir dan menenangkan badai. Kehadiran-Nya memberi pertolongan dan menguatkan iman mereka.</p>
<p>Dalam memperingati 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, marilah kita juga mensyukuri pertolongan Tuhan atas bangsa dan kehidupan kita. Kemerdekaan adalah anugerah yang patut disyukuri dan diisi dengan kehidupan yang bertanggung jawab. Apa pun keadaan kita saat ini, jangan hanya melihat besarnya masalah. Ingatlah besarnya pertolongan Tuhan. Teruslah mengandalkan-Nya dan belajar berkata bersama pemazmur: “Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm. 124:8). Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Andri Wahyudi</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KRISTUS BAGI SEMUA BANGSA</title>
		<link>https://gkketapang.org/kristus-bagi-semua-bangsa-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2026 10:18:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9206</guid>

					<description><![CDATA[Kisah Para Rasul 10:34-48 Salah satu sifat yang kerap kali muncul dalam diri manusia adalah sikap eksklusif. Kita cenderung merasa kelompok kita lebih baik, suku kita lebih benar, budaya kita lebih unggul, atau keyakinan kita membuat kita lebih tinggi dari pada orang lain. Dari sikap seperti ini dapat muncul kesombongan, prasangka dan adanya kecenderungan merendahkan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kisah Para Rasul 10:34-48</strong></p>
<p>Salah satu sifat yang kerap kali muncul dalam diri manusia adalah sikap eksklusif. Kita cenderung merasa kelompok kita lebih baik, suku kita lebih benar, budaya kita lebih unggul, atau keyakinan kita membuat kita lebih tinggi dari pada orang lain.<span id="more-9206"></span> Dari sikap seperti ini dapat muncul kesombongan, prasangka dan adanya kecenderungan merendahkan orang yang berbeda dengan kita. Kita lupa bahwa Tuhan sendirilah yang menciptakan keberagaman itu. Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai suku, bahasa, budaya dan latar belakang. Perbedaan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan bagian dari rancangan Allah yang indah. Tuhan mengasihi semua bangsa tanpa membedakan suku, budaya, bahasa, maupun latar belakang.</p>
<p>Dalam Kisah Para Rasul 10 ini , diceritakan tentang Kornelius yang adalah seorang perwira pasukan Romawi yang saleh, takut akan Allah, dan rajin berdoa serta memberi sedekah kepada orang miskin. Meskipun ia bukan orang Yahudi, hidupnya menunjukkan kerinduan akan kebenaran. Di sisi lain, Petrus adalah seorang rasul yang sejak kecil hidup dalam tradisi Yahudi yang ketat, yang pada awalnya masih memiliki batasan dalam memahami siapa yang layak menerima Injil. Namun, Allah bekerja melalui penglihatan untuk mengubah cara pandang Petrus. Ketika Petrus tiba di rumah Kornelius, ia menyadari sesuatu yang sangat penting: Allah tidak memandang muka. Ia berkata, “Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang” (Kis. 10:34). Ini adalah pernyataan yang sangat revolusioner pada waktu itu, karena menghapus sekat antara Yahudi dan non-Yahudi, antara “umat pilihan” dan bangsa-bangsa lain. Dalam peristiwa ini Allah sedang menunjukkan bahwa keselamatan di dalam Yesus Kristus adalah anugerah bagi semua orang yang percaya.</p>
<p>Dalam Kisah Para Rasul 10:34-48 ini Firman Tuhan mengajarkan kita bahwa:</p>
<ol>
<li><strong> Allah tidak membedakan orang </strong></li>
</ol>
<p>Allah melihat hati yang datang kepada-Nya dengan iman. Ia tidak menilai manusia berdasarkan penampilan luar, asal-usul, atau status, tetapi berdasarkan respons hati terhadap kebenaran-Nya. Setiap orang yang merendahkan diri di hadapan Tuhan dan percaya kepada-Nya akan diterima.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus </strong></li>
</ol>
<p>Petrus dengan berani bersaksi bahwa Yesus adalah Tuhan atas semua orang, dan bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya akan menerima pengampunan dosa. Ini menegaskan bahwa tidak ada jalan lain menuju keselamatan selain melalui Yesus Kristus.</p>
<ol start="3">
<li><strong> Roh Kudus dicurahkan kepada semua yang percaya </strong></li>
</ol>
<p>Dalam peristiwa ini, Roh Kudus turun atas semua orang yang mendengarkan firman, bahkan sebelum mereka dibaptis. Ini menunjukkan bahwa Allah sendiri yang mengesahkan bahwa Injil adalah untuk semua bangsa, tanpa pengecualian.</p>
<p>Peristiwa di rumah Kornelius menjadi titik penting dalam perluasan Injil ke seluruh dunia. Dari sini, kita melihat bagaimana gereja mula-mula mulai memahami misi Allah yang lebih besar: menjangkau semua bangsa, suku, dan bahasa. Dalam bulan budaya ini, kita diingatkan kembali bahwa Injil tidak boleh dibatasi oleh budaya kita sendiri, sebaliknya kita dipanggil untuk membawa kasih Kristus ke dalam setiap budaya, serta menghormati keberagaman sebagai bagian dari ciptaan Allah. Mari kita belajar untuk menerima setiap orang dengan kasih Kristus, membuka hati untuk bersahabat dengan mereka yang berbeda dengan kita dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat yang beragam.</p>
<p>Kita harus ingat bahwa sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk tidak hanya menerima Injil, tetapi juga membagikannya. Dunia di sekitar kita masih banyak yang belum mendengar kabar baik tentang Yesus Kristus. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Susi Sihaloho</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>JANGAN MENGHAKIMI</title>
		<link>https://gkketapang.org/jangan-menghakimi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2026 02:19:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9199</guid>

					<description><![CDATA[Di era digital saat ini, kita tentu dapat begitu mudah menemukan komentar netizen yang tergesa-gesa memberikan sebuah vonis bagi sebuah peristiwa. Hanya dari satu potongan unggahan atau cerita sepintas, seseorang bisa langsung dilabeli atau melabeli buruk. Seolah-olah sudah mengetahui seluruh jalan cerita kehidupan dari seseorang, padahal mungkin hanya melihat sebagian kecil dari permukaan saja. Kecenderungan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di era digital saat ini, kita tentu dapat begitu mudah menemukan komentar netizen yang tergesa-gesa memberikan sebuah vonis bagi sebuah peristiwa. Hanya dari satu potongan unggahan atau cerita sepintas, seseorang bisa langsung dilabeli atau melabeli buruk.<span id="more-9199"></span> Seolah-olah sudah mengetahui seluruh jalan cerita kehidupan dari seseorang, padahal mungkin hanya melihat sebagian kecil dari permukaan saja. Kecenderungan menilai dari “apa yang tampak” (bahasa Yunani, <em>κατ᾽ ὄψιν &#8211; kat’ opsin</em>) ini ternyata penyakit hati manusia yang juga dihadapi Yesus di dalam Yohanes 7.</p>
<ol>
<li><strong> Manusia Cenderung Menilai Secara Dangkal</strong></li>
</ol>
<p>Dalam Yohanes pasal 7, terjadi konflik di antara orang banyak serta para pemimpin Yahudi mengenai siapa Yesus. Ada yang kagum, tetapi ada pula yang bersiap membunuh Yesus. Orang banyak hanya menilai Yesus secara dangkal berdasarkan tiga hal lahiriah:</p>
<ul>
<li><strong>Asal-usul Lahiriah:</strong> Mereka memandang rendah daerah asal-Nya, “Bukankah Dia orang Galilea? Bukankah kita tahu dari mana asal-Nya?” (Yoh. 7:27, 41-42).</li>
<li><strong>Pendidikan Formal:</strong> Mereka meragukan kapasitas-Nya hanya karena Yesus tidak belajar di lembaga rabi ternama (Yoh. 7:15).</li>
<li><strong>Tindakan Fisik pada Hari Sabat:</strong> Mereka marah karena Yesus menyembuhkan orang lumpuh pada hari Sabat (Yoh. 5:1-18; 7:21-23). Mereka hanya melihat Yesus “bekerja” melanggar aturan teknis Sabat, tanpa melihat kebenaran dan kasih Allah di balik tindakan itu.</li>
</ul>
<ol>
<li><strong> Hati yang Buta Menciptakan Standar Ganda</strong></li>
</ol>
<p>Untuk membongkar cara berpikir para pemimpin Yahudi yang sempit, Yesus menunjukkan inkonsistensi mereka melalui praktik sunat (Yoh. 7:22-23). Orang Yahudi diizinkan melakukan sunat (satu bagian tubuh) pada hari Sabat demi menaati hukum Musa. Namun ketika Yesus memulihkan <em>seluruh tubuh</em> seorang manusia pada hari Sabat, mereka justru marah dan menuduh-Nya melanggar Taurat.</p>
<p>Di sinilah Yesus menyingkapkan adanya <strong>standar ganda</strong> dan sikap legalistik dari para pemimpin Yahudi. Mereka memakai hukum secara selektif, begitu ketat menilai orang lain, tetapi sangat longgar terhadap tradisi mereka sendiri. Mereka begitu fokus pada aturan teknis hasil tafsiran manusia sampai melupakan inti dari hukum Allah yang sejati, yaitu belas kasihan, kebaikan, dan pemulihan bagi manusia (bdk. Mrk. 2:27; Mat. 9:13).</p>
<p><strong>III. Transformasi Cara Menilai Menurut Kebenaran Allah</strong></p>
<p>Di saat Yesus berkata, “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil” (Yoh. 7:24). Yesus tidak sedang melarang kita memiliki kepekaan moral atau penilaian, melainkan memanggil kita untuk mengubah pola berpikir dalam menilai sesuatu (<em>κρίνετε δικαίαν &#8211; krinete dikaian</em>: secara harfiah berarti “memberi penilaian yang benar/ kudus”). Menghakimi dengan adil berarti memberikan penilaian yang sesuai dengan kehendak dan kebenaran Allah, yang berjalan seimbang dalam dua hal:</p>
<ol>
<li><strong>Jujur Menegur Dosa (Kasih yang Berani):</strong> Kasih yang dari Allah tidak berarti kompromi atau membiarkan kesalahan menjadi berlarut-larut. Jika ada saudara seiman yang telah berbuat salah atau melukai orang lain, katakanlah kebenaran itu kepadanya dengan lembut dan jujur secara pribadi (Mat. 18:15). Ketika kita menunda teguran padahal kita mengerti itu tidak benar, maka hal itu bukanlah sebuah kebaikan, melainkan pembiaran yang dapat merusak.</li>
<li><strong>Sabar Mendampingi Pemulihan (Kasih yang Merangkul):</strong> Menegur seseorang dengan jujur <em>tidak sama</em> dengan menuntut perubahan instan. Seperti penggarap kebun anggur yang rela dengan sabar merawat pohon ara yang belum berbuah (Luk. 13:6-9), kita juga dipanggil untuk memulihkan saudara kita yang jatuh dalam pelanggaran dengan “roh lemah lembut” (Gal. 6:1), maka kita juga memberi kesempatan bagi Roh Kudus bekerja untuknya (berserah kepada kuasa Tuhan).</li>
</ol>
<p>Pada akhirnya, menghakimi dengan adil dapat berarti kita berdiri di tengah: cukup jujur untuk menyebut yang salah sebagai salah, dan cukup sabar untuk memberi waktu bagi pemulihan sejati dapat terjadi. Sebagai komunitas gereja, kita dipanggil menjadi tempat perlindungan dan pemulihan bagi orang berdosa, bukan pengadilan yang siap melemparkan batu penghakiman. Ketika kita belajar melihat sesama bukan dari sampul luar, status, atau kegagalan masa lalu mereka, melainkan dari cara pandang Kristus, maka suasana komunitas kita akan berubah.</p>
<p>Marilah kita meneladani cara pandang Kristus, yang memakai standar kebenaran yang sama bagi diri sendiri dan orang lain, serta selalu menghadirkan belas kasihan dalam komunitas gereja-Nya. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk melakukan kebenaran Firman-Nya. Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Bp. Yoses Setiawan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SALING TOPANG</title>
		<link>https://gkketapang.org/saling-topang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2026 15:35:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9192</guid>

					<description><![CDATA[Galatia 6:1-10 Para pendaki gunung memiliki satu prinsip yang kuat: tidak ada yang ditinggalkan. Ketika ada anggota tim yang mulai kelelahan, mereka tidak berkata, “Kami duluan ya, nanti bertemu di puncak.” Sebaliknya, mereka berhenti, membagi beban, memberi minum, menyemangati, bahkan rela membawa tas temannya. Mereka sadar bahwa keberhasilan pendakian bukanlah siapa yang paling cepat mencapai]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Galatia 6:1-10</strong></p>
<p>Para pendaki gunung memiliki satu prinsip yang kuat: <strong>tidak ada yang ditinggalkan</strong>. Ketika ada anggota tim yang mulai kelelahan, mereka tidak berkata, “Kami duluan ya, nanti bertemu di puncak.” Sebaliknya, mereka berhenti, membagi beban, memberi minum, menyemangati, bahkan rela membawa tas temannya.<span id="more-9192"></span> Mereka sadar bahwa keberhasilan pendakian bukanlah siapa yang paling cepat mencapai puncak, melainkan ketika <strong>semua anggota tim tiba di tujuan dengan selamat</strong>.</p>
<p>Bukankah kehidupan orang percaya juga seperti sebuah pendakian? Ada saat kita kuat untuk menopang orang lain, tetapi ada juga saat kita lemah dan membutuhkan pertolongan. Hari ini kita menolong, esok mungkin kitalah yang ditolong.</p>
<p>Itulah yang ditekankan Rasul Paulus dalam Galatia 6. Setelah menjelaskan tentang hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus (Gal. 5), Paulus menunjukkan bagaimana kehidupan yang dipimpin Roh itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Gereja bukan sekadar tempat berkumpul untuk beribadah, melainkan keluarga Allah yang saling memperhatikan. Ketika ada saudara yang jatuh, bergumul, atau memikul beban yang berat, kita tidak dipanggil untuk mengabaikannya, tetapi untuk hadir dan menopangnya dengan kasih. Karena itu Paulus berkata, <strong>“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus”</strong> (ay 2). Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan terlihat nyata ketika kita saling menopang, bukan hanya memikirkan diri sendiri.</p>
<p>Lalu, bagaimana kita dapat menghidupi panggilan untuk saling menopang? Melalui Galatia 6:1-10, Rasul Paulus mengajarkan tiga prinsip penting yang akan kita pelajari bersama, agar setiap kita dapat menjadi saluran kasih Kristus bagi orang-orang di sekitar kita.</p>
<ul>
<li><strong>Saling menopang dimulai dengan memulihkan dan meringankan beban sesama (Gal. 6:1-2)</strong>. Paulus mengawali dengan dua tindakan nyata. <em>Pertama</em>, memulihkan saudara yang jatuh dalam dosa dengan roh lemah lembut (ay. 1). <em>Kedua</em>, menolong mereka yang sedang memikul beban yang berat (ay. 2). Karena itu, saling menopang tidak dimulai dengan menghakimi atau menjauh dari mereka yang sedang bergumul, melainkan dengan hadir, menguatkan, memulihkan, dan bersama-sama meringankan beban yang mereka tanggung.</li>
<li><strong>Saling menopang dilakukan dengan rendah hati dan penuh tanggung jawab (Gal. 6:3-6)</strong>. Paulus mengingatkan agar tidak merasa lebih baik daripada orang lain. Sebaliknya, setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, sambil menggunakan apa yang Tuhan percayakan untuk berbagi dengan sesama. Kerendahan hati membuat kita tidak segan menolong, dan tidak malu ketika membutuhkan pertolongan.</li>
<li><strong>Saling menopang harus dilakukan dengan tekun selama masih ada kesempatan (Gal. 6:7-10)</strong>. Paulus memakai prinsip menabur dan menuai. Setiap kebaikan yang dilakukan tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan. Karena itu, orang percaya tidak boleh jemu berbuat baik, tetapi terus mengambil setiap kesempatan untuk menolong, terutama kepada saudara-saudara seiman.</li>
</ul>
<p>Kiranya melalui Bulan Diakonia ini semakin menyadari bahwa kita tidak hanya menjadi orang yang menerima kasih Kristus, tetapi juga membagikannya. Marilah kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk menopang sesama. Apa yang kita lakukan mungkin tampak kecil, tetapi di tangan Tuhan dapat membawa penguatan, pengharapan, dan kasih bagi mereka yang membutuhkannya. Tuhan Yesus memberkati.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Relly Rajagukguk</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KASIH YANG RELA MEMBERI</title>
		<link>https://gkketapang.org/kasih-yang-rela-memberi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2026 06:24:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9183</guid>

					<description><![CDATA[1 Yohanes 3:16-18 “Kasih,” satu kata yang menjadi identitas orang Kristen. Dalam Alkitab, hukum yang terutama adalah kasih kepada Allah, dan juga kepada sesama manusia. Ada banyak aspek tentang kasih yang dibahas dalam Alkitab, termasuk dalam kitab 1 Yohanes. Hari ini kita akan belajar tentang kasih dari 1 Yohanes 3:16-18. Dalam 3 ayat ini, kita]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1 Yohanes 3:16-18</strong></p>
<p>“Kasih,” satu kata yang menjadi identitas orang Kristen. Dalam Alkitab, hukum yang terutama adalah kasih kepada Allah, dan juga kepada sesama manusia. Ada banyak aspek tentang kasih yang dibahas dalam Alkitab, termasuk dalam kitab 1 Yohanes. Hari ini kita akan belajar tentang kasih dari 1 Yohanes 3:16-18. Dalam 3 ayat ini, kita bisa menemukan makna kasih yang sejati, bagaimana seharusnya kita berespons terhadap kasih Allah, juga cara mempraktikkan kasih dalam hidup sehari-hari.<span id="more-9183"></span></p>
<ol>
<li><strong>Makna kasih yang sejati (ay. 16a)</strong></li>
</ol>
<p>Kasih sejati dimulai dari salib Kristus. Kita bisa mengasihi orang lain, karena Kristus telah terlebih dahulu mengasihi kita dengan menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus kita dari hukuman dosa. Kata kasih di sini dipakai “<em>Agape</em>”, yakni kasih yang rela memberi tanpa menuntut atau mengharapkan imbalan. Ini adalah kasih yang begitu besar sehingga dapat diberikan kepada orang yang tidak layak dicintai atau tidak menarik, seperti yang dilakukan Allah kepada kita. <em>Agape</em> ini adalah kasih yang mencintai bahkan ketika ditolak.</p>
<p>Kasih yang sejati adalah sebuah tindakan, bukan sekadar perasaan. Kasih menghasilkan pemberian yang tidak mementingkan diri sendiri dan rela berkorban.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Respons orang yang telah menerima kasih Allah (ay. 16b)</strong></li>
</ol>
<p>Orang yang telah menerima kasih Kristus akan mengasihi sesamanya. Tindakan kasih yang terbesar adalah menyerahkan diri demi orang lain. Bagaimana kita dapat “menyerahkan hidup” bagi orang lain? Dengan melayani mereka tanpa mengharapkan balasan apa pun. Hidup bagi orang lain berarti mengutamakan kebutuhan dan kepentingan mereka di atas keinginan kita sendiri.</p>
<p>Tuhan Yesus mengajarkan prinsip kasih yang sama dalam Yohanes 15:13. Ayat ini memberikan contoh nyata tentang bagaimana kita dapat menyerahkan hidup bagi orang lain, yaitu dengan menolong mereka yang berkekurangan.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Praktik kasih sehari-hari (ay. 17-18)</strong></li>
</ol>
<p>Kasih bukan sekadar ucapan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Pengorbanan, kepedulian, dan kemurahan hati merupakan wujud dari iman yang hidup. Dunia mengenal murid-murid Kristus bukan dari pengetahuan mereka, melainkan dari kasih yang mereka praktikkan setiap hari (bdk. Yoh. 13:35).</p>
<p>Kasih juga harus dipraktikkan dalam kebenaran. Artinya, kasih tidak boleh hanya berdasarkan emosi, sekadar ingin dipuji, atau mengikuti keinginan manusia semata. Melainkan, kasih harus sesuai dengan kebenaran Allah. Kasih yang sejati selalu berjalan bersama kebenaran. Misalnya:</p>
<ul>
<li>Mengampuni bukan berarti membenarkan dosa.</li>
<li>Menolong bukan berarti mendukung orang terus hidup dalam dosa.</li>
<li>Bersikap baik bukan berarti mengorbankan kebenaran firman Tuhan.</li>
</ul>
<p>Kasih Kristen tidak mempertentangkan kasih dan kebenaran. Dalam diri Kristus, keduanya berjalan bersama (bdk. Yoh. 1:14).</p>
<p>Kasih Kristen bukan hanya sesuatu yang diucapkan, tetapi sesuatu yang dilakukan. Kasih Kristen diwujudkan dengan menolong saudara-saudari yang sedang mengalami kesulitan. Salib Kristus adalah teladan tertinggi bahwa kasih selalu rela memberi demi kebaikan orang lain.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Ibu Yumin Kwan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KASIH MENEMBUS BATAS</title>
		<link>https://gkketapang.org/kasih-menembus-batas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2026 05:34:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9176</guid>

					<description><![CDATA[Lukas 10:25-37 Bagian pertama dari perikop ini dimulai dengan pertanyaan yang baik, namun dengan motivasi yang buruk, dari seorang ahli Taurat tentang apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup kekal. Yesus menjawab dengan mengajukan pertanyaan kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Yesus mengacu kepada hukum Taurat bukan karena hukum]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lukas 10:25-37</strong></p>
<p>Bagian pertama dari perikop ini dimulai dengan pertanyaan yang baik, namun dengan motivasi yang buruk, dari seorang ahli Taurat tentang apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup kekal. Yesus menjawab dengan mengajukan pertanyaan kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Yesus mengacu kepada hukum Taurat bukan karena hukum Taurat itu dapat menyelamatkan, melainkan karena hukum Taurat memperlihatkan bahwa kita berdosa dan memerlukan keselamatan.<span id="more-9176"></span> Roma 3:20 mengatakan, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” Semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, sehingga tidak dapat melakukan hukum Taurat supaya selamat. Manusia memerlukan penebusan di dalam Kristus agar diselamatkan, sehingga dapat melakukan perbuatan yang memuliakan Tuhan.</p>
<p>Ahli Taurat menjawab Yesus dengan mengutip hukum yang terutama, yaitu tentang mengasihi Tuhan dan sesama. Lalu Yesus berkata, “Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Namun, ahli Taurat itu hendak membenarkan dirinya dengan mengatakan, “Siapakah sesamaku manusia?” Lalu Yesus menjawab dengan kisah orang Samaria yang baik hati. Ada orang yang pulang dari Yerusalem ke Yerikho dirampok habis-habisan dan dipukuli sampai setengah mati. Lalu, ada seorang imam yang melalui jalan itu; ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi, ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Namun, tidaklah demikian dengan orang Samaria. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah itu ia menyiramnya dengan minyak dan anggur. Kemudian, ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya, ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu dan berkata, “Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali.” Melalui hukum Taurat, kita mengetahui bahwa kita berdosa dan memerlukan anugerah penebusan dalam Kristus Yesus, sehingga kita diperbarui dan dapat melakukan perbuatan berdasarkan kasih Kristus. Ini mungkin terjadi ketika kita hidup dan tinggal di dalam kasih-Nya dengan melakukan firman-Nya.</p>
<p>Orang Samaria mau menolong karena digerakkan oleh belas kasihan, bukan karena ia mau melakukannya supaya selamat. Apa yang ia lakukan adalah perwujudan dari hukum kasih. Ketika seseorang tinggal di dalam kasih Tuhan, maka perbuatan berdasarkan kasih itu akan menembus batas. Ahli Taurat hanya mencari pembenaran diri untuk tidak melakukan firman Tuhan dan membangun tembok keangkuhan diri. Orang Samaria yang dibenci karena dianggap keturunan campuran dengan bangsa asing, ternyata melakukan perbuatan kasih yang menembus batas wilayah, ras, dan warga negara. Bagaimana dengan kita?</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Em. Martin Elvis</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KASIH: DARI ALTAR KE AKSI</title>
		<link>https://gkketapang.org/kasih-dari-altar-ke-aksi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2026 02:11:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9171</guid>

					<description><![CDATA[Yesaya 1:13-17 Bulan Juli adalah bulan Diakonia di lingkungan Sinode Gereja Kristus.  Hari ini kita akan membahas tema “Kasih: Dari Altar ke Aksi” melalui nas Yesaya 1:13-17 agar Firman Tuhan yang kita dengar bukan sekedar menjadi pengetahuan, tetapi kita terapkan dalam kehidupan kita. Seringkali kita melihat ada beberapa orang yang seolah-olah mempunyai dua kepribadian karena]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yesaya 1:13-17</strong></p>
<p>Bulan Juli adalah bulan Diakonia di lingkungan Sinode Gereja Kristus.  Hari ini kita akan membahas tema “Kasih: Dari Altar ke Aksi” melalui nas Yesaya 1:13-17 agar Firman Tuhan yang kita dengar bukan sekedar menjadi pengetahuan, tetapi kita terapkan dalam kehidupan kita.<span id="more-9171"></span></p>
<p>Seringkali kita melihat ada beberapa orang yang seolah-olah mempunyai dua kepribadian karena pribadinya dalam bergereja sangat berbeda dengan kehidupannya sehari-hari.  Perbuatan dan tingkah lakunya di gereja tidak selaras dengan hidup kesehariannya.  Seperti ini jugalah gambaran bangsa Israel pada saat itu.  Mereka sangat taat dalam beribadah.  Mereka membawa korban dan persembahan yang banyak (ay. 11), mereka sangat berdisiplin: tidak pernah lupa menghadap Tuhan (ay. 12-14), dan mereka juga menunjukkan sikap hormat dan sungguh-sungguh dalam beribadah (ay. 15).</p>
<p>Namun ternyata Tuhan marah atas ibadah mereka dan mengatakan: “Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.” (Yes. 1:13-15).</p>
<p>Oleh karena itu Tuhan memberi pengajaran dalam ayat 16-17, “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!”  Firman ini mengingatkan kita agar ibadah kita bukan sekedar ibadah yang ritual saja, namun benar-benar aktual menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari.  Hal ini sejalan dengan Roma 12:1-2: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”</p>
<p>Kiranya Firman Tuhan hari ini menolong kita untuk lebih memahami ibadah sejati yang diserukan oleh Yesaya dan menyadari bahwa ibadah sejati harus ditunjukkan dalam sikap sehari-hari seperti menolong, membela yang lemah, dan hadir bagi sesama yang menderita.  Marilah di bulan Diakonia ini kita semua memperbaharui diri, agar kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama berjalan seimbang dan konsisten.  Tuhan Yesus memberkati!</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Em. Setiawan Sutedjo</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DISAMBUT, BUKAN DIHALANGI</title>
		<link>https://gkketapang.org/disambut-bukan-dihalangi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2026 01:12:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9164</guid>

					<description><![CDATA[MATIUS 19:13-15 Sering kali dalam kehidupan bergereja, anak-anak dianggap sebagai pengganggu karena suara mereka yang ribut atau tingkah mereka yang aktif. Mereka dianggap belum mengerti banyak hal sehingga kehadiran mereka seringkali diabaikan. Dalam pembacaan firman Tuhan ini pun demikian, ketika orang tua membawa anak-anak mereka kepada Yesus untuk didoakan dan diberkati, para murid justru menghalangi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MATIUS 19:13-15</strong></p>
<p>Sering kali dalam kehidupan bergereja, anak-anak dianggap sebagai pengganggu karena suara mereka yang ribut atau tingkah mereka yang aktif. Mereka dianggap belum mengerti banyak hal sehingga kehadiran mereka seringkali diabaikan.<span id="more-9164"></span></p>
<p>Dalam pembacaan firman Tuhan ini pun demikian, ketika orang tua membawa anak-anak mereka kepada Yesus untuk didoakan dan diberkati, para murid justru menghalangi mereka (ay. 13). Tindakan para murid ini bukan tanpa alasan. Pada zaman itu, anak-anak dipandang belum memiliki status sosial yang penting. Mereka dianggap belum dewasa, belum mampu menaati Taurat sepenuhnya, dan belum memahami perkara-perkara rohani. Karena itu, urusan Kerajaan Allah lebih dianggap sebagai urusan orang dewasa, khususnya laki-laki dewasa. Akibatnya, anak-anak sering kali tidak menjadi prioritas dalam kehidupan keagamaan.</p>
<p>Namun, Yesus memiliki pandangan yang berbeda. Ia berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, jangan menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku” (ay. 14). Yesus tidak menolak anak-anak, melainkan menyambut mereka dengan penuh kasih dan menegaskan bahwa orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga. Artinya, kerajaan surga bukan diberikan kepada mereka yang merasa paling besar, melainkan kepada mereka yang datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, ketulusan dan kepercayaan penuh seperti seorang anak kepada bapanya. Dari respons Tuhan Yesus ini kita belajar:</p>
<ol>
<li><strong> Setiap Anak Berharga di Mata Tuhan</strong></li>
</ol>
<p>Yesus tidak menolak anak-anak, tetapi menyambut mereka dengan penuh kasih. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa setiap anak sangat berharga di mata Tuhan. Mereka bukan sekadar pelengkap dalam gereja, melainkan pribadi yang dikasihi Allah dan sedang dipersiapkan untuk mengenal-Nya. Sebagaimana firman Tuhan dalam Yesaya 43:4, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku&#8230;”, setiap anak memiliki nilai yang besar di hadapan Tuhan, dan dalam Mazmur 127:3 yang mengatakan bahwa anak-anak adalah anugerah dan pusaka dari Tuhan, serta buah kandungan adalah upah.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Gereja harus Menyambut dan Melayani Anak-anak</strong></li>
</ol>
<p>Sikap Yesus menjadi teladan bagi gereja masa kini. Gereja dipanggil untuk membuka pintu selebar-lebarnya bagi anak-anak agar mereka dapat mengenal Tuhan. Bentuk nyatanya adalah dengan menciptakan lingkungan yang ramah anak, mendukung pelayanan Sekolah Minggu dengan membekali guru-guru Sekolah Minggu dalam menyampaikan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak, serta mendorong orang tua untuk senantiasa berpartisipasi aktif  membawa anak-anak bertumbuh dalam iman.</p>
<p>Anak-anak bukan masa depan gereja semata, tetapi juga bagian dari gereja saat ini. Mereka perlu diterima, diperhatikan, dan dibimbing untuk mengenal Yesus sejak dini. Dalam Matius 18:10a mengatakan “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini.”</p>
<p>Melalui bagian firman ini, Tuhan mengingatkan kita agar tidak menjadi seperti para murid yang menghalangi anak-anak datang kepada Yesus. Sebaliknya, marilah kita menjadi pribadi yang menyambut, membimbing, dan mengarahkan anak-anak sejak kecil untuk datang kepada Kristus. Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Susi Sihaloho</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>REAL DAD</title>
		<link>https://gkketapang.org/real-dad/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2026 10:38:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9158</guid>

					<description><![CDATA[Efesus 6:4 Ketika memikirkan sosok seorang ayah, banyak orang secara otomatis mengaitkan perannya dengan pemenuhan kebutuhan finansial keluarga. Dengan kata lain, ayah dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas kebutuhan hidup keluarga sehingga secara ekonomi seluruh anggota keluarga bergantung kepadanya. Namun, benarkah peran ayah hanya sebatas memenuhi kebutuhan finansial? Apa yang Firman Tuhan ajarkan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Efesus 6:4</strong></p>
<p>Ketika memikirkan sosok seorang ayah, banyak orang secara otomatis mengaitkan perannya dengan pemenuhan kebutuhan finansial keluarga. Dengan kata lain, ayah dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas kebutuhan hidup keluarga sehingga secara ekonomi seluruh anggota keluarga bergantung kepadanya.<span id="more-9158"></span> Namun, benarkah peran ayah hanya sebatas memenuhi kebutuhan finansial? Apa yang Firman Tuhan ajarkan tentang keberadaan seorang ayah dalam keluarga?</p>
<p>Firman Tuhan dengan jelas mengajarkan bahwa peran seorang ayah tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, tetapi juga tanggung jawab mendidik anak-anaknya. Dalam mendidik, ada dua hal penting yang harus dilakukan, yaitu memberikan ajaran dan nasihat. Ajaran mencakup disiplin, sedangkan nasihat mencakup teguran yang membangun.</p>
<p>Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ajaran dan nasihat yang diberikan harus berlandaskan pada kehendak Tuhan, bukan semata-mata pada pengalaman pribadi atau tradisi turun-temurun. Pendidikan Kristen yang sejati bersumber dari Kristus dan berakar pada kebenaran Firman Tuhan. Karena itu, seorang ayah harus menanamkan hati yang takut akan Tuhan kepada anak-anaknya serta membimbing mereka hidup sesuai dengan Firman-Nya.</p>
<p>Peran ayah dalam mendidik anak di dalam Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pribadinya sendiri. Seorang ayah yang ingin membimbing anak-anaknya kepada Tuhan harus terlebih dahulu memiliki hati yang takut akan Tuhan dan menjadikan Firman Tuhan sebagai dasar hidupnya.</p>
<p>Dalam menjalankan tugas mendidik, seorang ayah juga harus berhati-hati agar tidak menimbulkan luka batin atau kepahitan dalam hati anak-anaknya. Oleh sebab itu, disiplin dan teguran harus selalu dilandasi oleh kasih Allah. Otoritas yang dimiliki seorang ayah harus dijalankan dengan kasih, kesabaran, dan hikmat yang berasal dari Tuhan. Selain itu, orang tua tidak hanya dipanggil untuk mengajar, tetapi juga untuk menjadi teladan. Anak-anak belajar bukan hanya melalui kata-kata yang mereka dengar, tetapi juga melalui kehidupan yang mereka lihat setiap hari dari orang tuanya.</p>
<p>Ingatlah bahwa orang tua hadir di dunia sebagai rekan kerja dan wakil Allah dalam membimbing anak-anak yang dipercayakan-Nya. Karena itu, marilah kita, khususnya para ayah, mendidik anak-anak yang adalah milik Tuhan agar memiliki hati yang takut akan Allah dan hidup dalam terang kebenaran Firman-Nya. Jalankan dan lakukanlah tanggung jawab yang Tuhan percayakan dengan setia. Bukan hanya menjadi penyedia kebutuhan hidup, tetapi juga menjadi pendidik, pembimbing, dan teladan rohani bagi anak-anak kita. Dengan pertolongan Tuhan, kiranya keluarga-keluarga Kristen semakin bertumbuh dalam iman dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Bp. Andry Gunawan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>YOU ARE MY FAMILY</title>
		<link>https://gkketapang.org/you-are-my-family/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2026 16:35:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gkketapang.org/?p=9153</guid>

					<description><![CDATA[Ibrani 13:1-2 Minggu ini kita memperingati hari ulang tahun Sinode Gereja Kristus yang ke-86. Dan tema khotbah yang diangkat dalam momen HUT kali ini ialah “You are My Family” berdasarkan nas dari Ibrani 13:1-2 yang mengajak kita untuk memahami dan menghidupi firman bahwa: Kasih Fileo Menjadi Dasar dari Relasi antar Saudara Seiman Ibrani 13 diawali]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ibrani 13:1-2</strong></p>
<p>Minggu ini kita memperingati hari ulang tahun Sinode Gereja Kristus yang ke-86. Dan tema khotbah yang diangkat dalam momen HUT kali ini ialah “You are My Family” berdasarkan nas dari Ibrani 13:1-2 yang mengajak kita untuk memahami dan menghidupi firman bahwa:<span id="more-9153"></span></p>
<ol>
<li><strong> Kasih <em>Fileo</em> Menjadi Dasar dari Relasi antar Saudara Seiman </strong></li>
</ol>
<p>Ibrani 13 diawali dengan nasihat yang bernada perintah agar jemaat memelihara kasih persaudaraan. Apa maksudnya? Kata “kasih persaudaraan” (Yun., <em>philadelphia</em>) berarti kasih antar sahabat atau saudara seiman. Jadi, penulis Ibrani ingin menekankan bahwa hubungan antar orang percaya seharusnya sehangat dan seerat ikatan dalam keluarga. Contohnya seperti persahabatan yang terjalin antara Daud dan Yonatan (1Sam. 18:1).</p>
<p>Lalu, mengapa penulis Ibrani memerintahkan kita untuk memelihara kasih persaudaraan? Kata “pelihara” (Yun., <em>meno</em>) menunjukkan perintah untuk tetap tinggal, tidak berhenti dan terus berlanjut. Jadi, penulis mengingatkan kita bahwa kasih persaudaraan itu bukan dan jangan hanya perasaan sesaat (bnd. Why. 2:4), melainkan komitmen yang harus terus dipelihara meski ada perbedaan pendapat atau kepentingan pribadi. Kasih persaudaraan yang dipelihara dengan konsisten akan menjauhkan kita dari konflik dan permusuhan.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Kasih <em>Fileo</em> Patut Diwujudkan Tanpa Pilih Kasih</strong></li>
</ol>
<p>Lalu, apakah kasih persaudaraan itu cukup sekadar dipelihara dan bersifat eksklusif? Tentu saja tidak! Penulis Ibrani melanjutkan nasihatnya di ayat 2 dengan memerintahkan jemaat penerima suratnya dan bagi kita sekarang untuk: “Jangan lupa memberi tumpangan kepada orang.” Kata “lupa” (Yun., <em>epilanthanesthe</em>) menunjukkan arti lalai. Jadi, kita diperintahkan untuk jangan lupa atau lalai dalam hal memberi tumpangan kepada orang.</p>
<p>Frasa “memberi tumpangan” di dalamnya menunjuk arti kasih yang dinyatakan kepada orang asing, ada tindakan kongkret sebagai wujud nyata dari kasih. Jadi, kita dipanggil untuk mewujudkan kasih bukan hanya kepada saudara seiman, melainkan juga kepada orang asing. Mengapa begitu? Penulis Ibrani memberikan alasannya bahwa tanpa disadari bisa saja kita sedang menjamu malaikat-malaikat Tuhan lewat keramahan atau kemurahan hati yang ditunjukkan (bnd. Kej. 18-19). Jadi, ibadah sejati tidak hanya terjadi dan diwujudkan dalam gereja, tetapi juga diwujudkan melalui keramahan dan kepedulian sosial terhadap sesama dalam perilaku hidup sehari-hari (bnd. Kis. 2:42-47).</p>
<p>Dalam momen HUT Sinode Gereja Kristus yang ke-86, kiranya kita semua sebagai jemaat Tuhan yang terhisap dalam gereja-gereja Kristus se-sinode terpanggil untuk senantiasa memelihara kasih persaudaraan dan menyatakan kasih itu bukan hanya dalam lingkup antar gereja dan antar saudara seiman, melainkan juga di dalam kehidupan sehari-hari melalui keramahan dan kepedulian sosial terhadap orang-orang di sekitar kita.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Em. Widianto Jong</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
