GAGAL NAMUN TIDAK DITINGGALKAN

GAGAL NAMUN TIDAK DITINGGALKAN

Yohanes 21;15-19

Renungan hari ini, “Gagal, namun Tidak Ditinggalkan” bagaikan oase di padang gurun. Mengapa demikian? Karena dalam kenyataan hidup, kita sering melihat bahwa saat kita sukses, banyak orang dan keluarga yang hadir, memuji, dan mendukung. Namun, saat kita gagal, tak jarang teman bahkan keluarga, justru meninggalkan kita.

Hal ini mengingatkan saya akan sebuah film yang diangkat dari kisah nyata “The Pursuit of Happiness” yang menceritakan seorang ayah, Chris Gardner, tinggal bersama anaknya, Christopher yang masih balita menjadi tuna wisma karena kesulitan keuangan, sehingga makan seadanya dan hidup berpindah-pindah. Mereka pernah tidur di toilet, di stasiun kereta api, di taman, di sebuah penampungan gereja, di kolong meja tempat kerjanya setelah rekan-rekan kerjanya pulang. Tetapi Chris tidak pernah menyerah, ia berjuang bangkit dari kegagalan demi kegagalan dan akhirnya ia menjadi wirausahawan kaya raya, investor, pialang saham dan motivator.

Melalui firman Tuhan hari ini kita mau belajar bahwa dalam hidup bisa saja kita  mengalami kegagalan, baik dalam hubungan sosial/keluarga, studi, pekerjaan, usaha atau pertumbuhan iman. Dan lebih berat lagi, kita mungkin ditinggal oleh teman atau saudara, tetapi kabar baiknya Tuhan setia dan tidak pernah meninggalkan, bahkan Ia menolong kita untuk bangkit seperti yang dialami Petrus dalam nas hari ini.

Kisah dalam Yohanes 21:5-19 terjadi setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Para murid, termasuk Petrus, sedang berada di danau Tiberias. Mereka kembali menjala ikan, tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa setelah malam penuh perjuangan. Namun, saat mereka sudah hampir menyerah, Yesus muncul dan memberi perintah untuk melemparkan jala ke sebelah kanan perahu. Ketika mereka melakukannya, mereka menangkap ikan yang sangat banyak. Peristiwa ini adalah momen penting dalam kehidupan Petrus dan para murid di mana Yesus memberikan kesempatan baru setelah kegagalan mereka.

Setelah sarapan bersama Yesus di pantai, Yesus berbicara langsung kepada Petrus.

  1. Kegagalan Petrus dan pemulihan relasi dengan Tuhan (ay. 15-17). Petrus pernah mengalami kegagalan besar dalam hidupnya, yaitu dia menyangkal Yesus tiga kali sebelum penyaliban (Luk. 22:61-62). Mungkin saja, walau tak terucap Petrus merasa terpuruk dan tidak layak menjadi murid Tuhan Yesus. Namun dalam pertemuan ini, Tuhan Yesus tidak menghakimi Petrus atas kegagalannya. Sebaliknya, Yesus memberikan kesempatan untuk membuktikan cintanya. Hal ini terlihat dengan tiga kali Yesus bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” dan setiap kali Petrus menjawab, “Ya Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi-Mu.” Dengan setiap jawaban Petrus, Yesus memulihkan hubungan dan memberi tugas baru kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

Pelajarannya bagi kita: Ingatlah bahwa kegagalan tidak menentukan akhir perjalanan kita karena pengampunan dan pemulihan Tuhan Yesus selalu ada bagi kita yang sungguh-sungguh mau kembali kepada-Nya. Pertanyaannya sekarang adalah di tengah-tengah kondisimu saat ini bagaimana relasimu dan hatimu dengan Tuhan Yesus?

  1. Tuhan memberi tugas baru di tengah kegagalan (ay. 18-19). Meskipun Petrus gagal, Yesus memanggilnya kembali, yaitu untuk menggembalakan domba-domba-Nya, artinya memimpin, mengajar, merawat dan memulihkan jemaat.

Pelajarannya bagi kita: Kita mungkin pernah merasakan kegagalan dalam hidup, baik dalam hubungan keluarga/sosial, pekerjaan, studi, usaha, pelayanan maupun iman. Namun, seperti yang kita lihat dalam kisah Petrus, Tuhan Yesus tidak meninggalkan kita. Tangan-Nya selalu terulur menolong, memulihkan dan  memberikan kita kesempatan baru untuk melanjutkan panggilan-Nya. Menjadi pertanyaannya, di tengah-tengah kesempatan hidup yang Tuhan beri, apa yang dapat kita lakukan bagi keluarga, lingkungan sekolah, pekerjaan, usaha dan masyarakat? Apakah kehidupan kita berdampak positif kepada sesama? Contoh kecil melalui senyuman dan keramahan pada orang bukan kekasaran; perkataan yang membangun/positif bukan toksik; orang yang tetap semangat dan optimis karena percaya tidak ada yang terjadi kebetulan tanpa seizin Tuhan, dll.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus, jangan biarkan kegagalan kita menentukan siapa kita hari ini. Sebaliknya, marilah kita datang kepada Yesus dengan hati yang terbuka, memperbaharui kasih dan relasi kita kepada-Nya, dan siap untuk melayani-Nya sesuai dengan panggilan-Nya. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dan akan selalu menolong kita memiliki harapan untuk bangkit kembali. Tuhan Yesus memberkati.

Dibuat oleh: Pdt. Relly Rajagukguk