Markus 6:1–6a
Firman Tuhan yang kita renungkan menceritakan bahwa Tuhan Yesus kembali ke Nazaret, kampung halaman-Nya. Seperti kebiasaan-Nya, Ia mengajar, dan kali ini Ia mengajar di rumah ibadat (ay. 2). Pada awalnya, orang-orang yang mendengarkan-Nya merasa takjub akan pengajaran-Nya. Namun, rasa takjub itu tidak berlangsung lama; ia berubah menjadi rasa heran, bahkan timbul keraguan.
Rasa heran itu muncul karena mereka merasa mengenal siapa Yesus. Bagi mereka, Yesus bukanlah seorang yang berlatar belakang pendidikan formal. Ia dikenal hanya sebagai anak tukang kayu dan seorang yang berprofesi tukang kayu. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus berasal dari keluarga yang sederhana, tidak menonjol, dan bukan dari kalangan yang kaya serta terpandang/terhormat.
Pengenalan mereka akan asal-usul Yesus justru menjadi batu sandungan yang membuat mereka sulit percaya kepada-Nya. Lebih dari itu, mereka akhirnya menolak kehadiran Yesus, meskipun telah mendengar pengajaran-Nya dan mengetahui karya-karya mujizat yang telah Ia lakukan – sungguh suatu sikap yang ironis: mengenal, tetapi tidak percaya.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya memiliki hati yang percaya kepada Kristus. Pengenalan tanpa iman yang sejati tidak memiliki makna yang mendalam. Tuhan Yesus bukan hanya ingin dikenal, tetapi juga dipercayai. Dan bukti dari pengenalan serta kepercayaan itu adalah ketaatan.
Ketaatan bukan sekadar kata-kata yang diucapkan oleh mulut, melainkan nyata dalam tindakan dan perbuatan hidup sehari-hari. Jika seseorang mengaku mengenal Tuhan dan percaya kepada-Nya, tetapi hidupnya tidak mencerminkan ketaatan, maka pengakuan itu patut dipertanyakan. Bahkan Alkitab menegaskan bahwa setan pun percaya bahwa Allah itu esa (Yak. 2:19), namun kepercayaan itu tidak menghasilkan ketaatan.
Pengenalan kita akan Tuhan seharusnya membawa kita kepada iman yang semakin teguh, dan iman yang sejati akan dinyatakan melalui ketaatan. Jika kita saat ini hidup dalam ketidaktaatan, sesungguhnya kita sedang menunjukkan bahwa kita belum sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan.
Mari kita sebagai anak Tuhan, saat membaca Firman Tuhan bukan sekadar ingin mengetahui dan mengenal Kristus tetapi juga belajar untuk hidup taat pada Firman Tuhan.
Sebagai penutup saya mengajak kita bersama-sama merenungkan beberapa pertanyaan reflektif: Apakah saya percaya sepenuh hati kepada Tuhan? Jika tidak maka apa yang membuat saya sulit percaya? Jika iya apakah selama ini saya mau belajar taat pada perintah-Nya?
Dibuat oleh: Bp. Andry Gunawan