
Mazmur 22
Dalam menjalani hidup, sesungguhnya tidak seorang pun di antara kita yang tidak pernah mengalami penderitaan dan kesedihan. Namun yang jadi persoalan bukanlah pada pernah atau tidaknya, tetapi bagaimana seharusnya kita merespons saat kondisi tersebut dialami, tentu dengan cara yang positif dan benar. Mengapa begitu? Alasannya ialah karena jika kita salah menyikapinya (bersikap toksik), bukannya solusi yang didapat tetapi malah kita akan semakin terpuruk di dalamnya. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk belajar dari Daud bagaimana ia merespons penderitaan dan kesedihan yang dialaminya.
Pertama, Daud terbuka dengan semua yang dialaminya.
Tidak dijelaskan kapan atau dalam peristiwa apa Daud mengalami kondisi yang dilukiskan dalam Mazmur 22 ini, karena tidak ada referensinya di kitab lain dalam Perjanjian Lama. Tapi Mazmur ini dikutip oleh keempat Injil berkait dengan peristiwa penyaliban Yesus. Meski begitu, tidak berarti apa yang dialami dan dirasakan Daud tidak riil. Di sini Daud mengekspresikan penderitaan dan kesedihannya dengan terbuka, baik itu perasaan ditinggalkan Allah (ay. 2-3) atau diolok-olok musuh (ay. 7-9). Dan, meski semua itu mempengaruhi tubuh dan jiwanya (ay. 15-19), namun Daud tidak mengabaikan dan menyangkali rasa sedih dan derita yang dialaminya. Hal itu justru menjadi hal yang positif bagi kesehatan mentalnya.
Dari hal ini kita belajar untuk bersikap terbuka, realistis dan menyikapi secara positif (bukan mengabaikan, apalagi menyangkali) apa pun penderitaan dan kesedihan yang dialami, agar kesehatan mental kita tetap terjaga baik.
Kedua, Daud tetap percaya, meski Allah terkesan menjauh dan berdiam diri.
Daud terbuka dengan semua yang dialaminya, tapi kepada siapa? Tentu saja kepada Allah. Meski Daud merasa Allah telah meninggalkannya, menjauh darinya dan tidak menjawab seruan doanya, tapi nyatanya hal itu tidak membuat Daud menuduh Allah sudah tidak peduli kepadanya dan mengabaikan emosi kesedihan yang diekspresikannya. Justru sebaliknya, ia meyakini Allah itu senantiasa baik (ay. 4-6) dan Daud tetap berdoa agar Allah tidak menjauh darinya (ay. 12, 20) dan bersegera menolongnya dari ancaman musuh (ay. 20-22). Dan bukan hanya itu, ia juga mau bersaksi bagi nama-Nya (ay. 23) serta menaikkan pujian dan syukur kepada Allah. Sebab ia yakin bahwa ketika waktunya tiba Allah akan bertindak menyelamatkan dan membebaskannya dari penderitaan (ay. 23b-27).
Penderitaan dan pergumulan apa yang saat ini Tuhan izinkan kita alami? Tetaplah percaya, memuji dan bersyukur serta bersaksi bagi-Nya dan jangan berhenti berdoa meski terkesan Allah menjauh dan berdiam diri. Karena sesungguhnya Allah itu peduli dan akan bertindak sesuai dengan waktu-Nya yang terbaik. Amin!
Dibuat oleh: Pdt. Em. Widianto Jong