<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ibadah GKK &#8211; Gereja Kristus Ketapang</title>
	<atom:link href="https://gkketapang.org/tag/ibadah-gkk/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gkketapang.org</link>
	<description>Church</description>
	<lastBuildDate>Sun, 09 May 2021 01:28:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.5</generator>
	<item>
		<title>TUHAN GEMBALA YANG BAIK</title>
		<link>https://gkketapang.org/tuhan-gembala-yang-baik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2021 15:07:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah GKK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://wpprobiz.com/preview/profisme-free-wp-theme/?p=83</guid>

					<description><![CDATA[Yohanes 10:11-18 Dalam perikop ini Yesus menyatakan diri sebagai&#160;PINTU&#160;untuk masuk ke dalam kandang domba (ay. 9), sekaligus sebagai&#160;GEMBALA YANG BAIK&#160;(ay. 10). Pernyataan Yesus ini dikatakan dalam perumpamaan (ay. 1-6), tetapi para pendengar tidak mengerti maksudnya. Itu sebabnya Tuhan Yesus menjelaskan secara detail pada ayat 11-18. Yesus sebagai Gembala yang baik ini seakan dikontraskan pada pasal]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yohanes 10:11-18</strong></p>
<p>Dalam perikop ini Yesus menyatakan diri sebagai&nbsp;<em>PINTU</em>&nbsp;untuk masuk ke dalam kandang domba (ay. 9), sekaligus sebagai&nbsp;<em>GEMBALA YANG BAIK</em>&nbsp;(ay. 10).</p>
<p><span id="more-83"></span>Pernyataan Yesus ini dikatakan dalam perumpamaan (ay. 1-6), tetapi para pendengar tidak mengerti maksudnya. Itu sebabnya Tuhan Yesus menjelaskan secara detail pada ayat 11-18.<span id="more-5166"></span></p>
<p>Yesus sebagai Gembala yang baik ini seakan dikontraskan pada pasal sebelumnya (pasal 9), tentang orang Farisi yang mengklaim diri sebagai gembala-gembala namun mewajibkan orang banyak mengikut mereka dan menghasut mereka untuk menentang Yesus karena menganggap Yesus sebagai penyusup dan penyesat (Matthew Henry,&nbsp;<em>Tafsiran Injil Yohanes</em>, Momentum 1-11, hal. 686). Peristiwa perseteruan Yesus dengan orang Farisi ini terjadi setelah Yesus mencelikkan mata orang yang buta sejak lahir. Seharusnya orang Farisi bersyukur dan takjub melihat mukjizat yang Yesus lakukan. Tapi yang terjadi sebaliknya, orang Farisi menuduh Yesus tidak datang dari Allah dan pendosa (9:16, 24). Itulah nilai yang diberikan orang Farisi terhadap pribadi Yesus.</p>
<p>Ada dua perspektif yang dapat menjadi perenungan kita minggu ini, yaitu:</p>
<ol>
<li>Sebagai anggota jemaat yang dipercayakan Tuhan sebagai gembala, janganlah menjadi gembala seperti ahli Taurat dan orang Farisi, yang hanya mencari keuntungan pribadi seperti dikatakan pada ayat 8, “Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok<em>,</em>&nbsp;…”. Namun hendaklah kita mengingat nasihat dari Petrus dalam 1 Petrus 5:2 untuk, “Gembalakanlah kawanan domba Allah … jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.”&nbsp; Seorang gembala yang baik juga perlu berhati-hati untuk tidak meninggalkan yang digembalakan, seperti dikatakan pada Yoh 10:12, “… seorang upahan yang bukan gembala, bukan pemilik domba, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba, … serigala menerkam dan menceraikan domba-domba itu.” Gembala yang baik bertanggung jawab akan domba-dombanya. Domba-dombanya akan selamat, masuk dan keluar pintu kandang menemukan padang rumput.</li>
<li>Sebagai anggota jemaat yang diumpamakan Tuhan sebagai domba.<br />
Sebagai domba seharusnya kita mengenal suara gembala kita. Kita perlu ingat bahwa kita adalah satu kawanan domba milik Tuhan Yesus, Sang Gembala Agung. Jangan lagi mendengarkan suara gembala lain atau orang asing yang menyesatkan kita yang sebenarnya adalah pencuri, perampok yang membinasakan (ay. 8, 10).</li>
</ol>
<p>Salah satu aplikasi kehidupan demikian terlihat dalam sebuah Care Group GKK. Para pemimpin dipanggil untuk menggembalakan anggota-anggotanya dengan bertanggung-jawab. Sebaliknya para anggota-anggotanya juga memiliki hati untuk mendengarkan mereka yang dengan tulus menuntun mereka kepada Gembala Agung.</p>
<p>Akhirnya, sebagai tubuh Kristus, marilah kita menjadi gembala yang bertanggung jawab jika kita dipercaya sebagai seorang gembala dan marilah kita menjadi domba yang selalu menurut akan suara gembala yang baik terhadap mereka yang menggembalakan kita.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Em. Daniel Lie</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MENIKMATI PERSEKUTUAN DENGAN-NYA</title>
		<link>https://gkketapang.org/menikmati-persekutuan-dengan-nya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2021 15:07:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah GKK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://wpprobiz.com/preview/profisme-free-wp-theme/?p=84</guid>

					<description><![CDATA[1 Yohanes 1:1-2:2 Banyak orang, termasuk orang-orang Kristen dalam mencari kekayaan, kenyamanan atau keamanan melakukan hal-hal yang tidak benar yang bisa merugikan orang lain dan juga negara. Apa yang menyebabkan hal semacam ini sering terjadi? Karena orang-orang seperti ini tidak mempunyai relasi yang baik dengan Tuhan. Yohanes, penulis surat ini, menceritakan bahwa dirinya telah mendengar,]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1 Yohanes 1:1-2:2</strong></p>
<p>Banyak orang, termasuk orang-orang Kristen dalam mencari kekayaan, kenyamanan atau keamanan melakukan hal-hal yang tidak benar yang bisa merugikan orang lain dan juga negara.</p>
<p><span id="more-84"></span></p>
<p>Apa yang menyebabkan hal semacam ini sering terjadi? Karena orang-orang seperti ini tidak mempunyai relasi yang baik dengan Tuhan.</p>
<p>Yohanes, penulis surat ini, menceritakan bahwa dirinya telah mendengar, melihat, meraba Firman Hidup itu,&nbsp; artinya Yohanes pernah tinggal bersama dan menyaksikan sendiri Yesus Kristus yang menyampaikan berita&nbsp; Kerajaan Allah, Yesus yang mati dan bangkit yang memberikan jaminan hidup kekal bagi orang-orang yang menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat (Yoh. 3:16; Yoh. 14:6). Dan apa yang Yohanes lihat dan dengar dia beritakan kepada banyak orang supaya mereka yang mendengar berita tersebut juga mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus, artinya mendapat keselamatan dan mempunyai persekutuan dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus, sebagaimana dirinya sendiri.<span id="more-5159"></span></p>
<p>Ketika seseorang hidup di dalam Kristus, sudah seharusnya dia hidup di dalam terang, karena Allah adalah terang dan di dalam Dia tidak ada kegelapan (ay. 5b). Kalau kita mengatakan bahwa kita sudah percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, bahkan mungkin sudah ambil bagian dalam pelayanan di gereja dan menjadi pengurus gereja, tapi kalau kenyataannya masih hidup di dalam dosa berarti kita berdusta dan menipu diri sendiri; tentunya Tuhan tidak berkenan atas hidup kita. Tapi kalau kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan adalah hal yang tidak berkenan di hadapan Allah, datanglah kepada Dia, akuilah segala dosa dan kesalahan kita. Tuhan berjanji seperti firman Tuhan yang disampaikan oleh Yohanes di dalam ayat 9, bahwa&nbsp;<em>Ia adalah setia dan adil, Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.</em></p>
<p>Ketika kita sudah diampuni dan disucikan, maka kita dapat kembali bersekutu dengan Tuhan kita yang suci. Allah yang kudus menuntut kita untuk memiliki hidup yang kudus agar dapat menikmati persekutuan dengan-Nya. Oleh sebab itu, mari kita menjaga diri supaya tetap berjalan di jalan-Nya Tuhan. Ketika kita bersekutu dengan Tuhan, maka secara pribadi kita akan mengalami sukacita, damai sejahtera dan mendapat kekuatan sekalipun kita hidup dalam kesusahan. Dan secara komunal, sebagai jemaat Allah, ketika kita punya persekutuan bersama dengan Tuhan kita juga bisa saling menguatkan dan mendoakan.</p>
<p>Mari kita terus menjalin persekutuan dengan Tuhan supaya kita menikmati hadirat-Nya dan akhirnya hidup kita dapat berdampak menjadi berkat bagi orang-orang di sekeliling kita. Amin.</p>
<p>~ Pdt. Em. Puspa Noviana ~</p>


<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KRISTUS BAGI SEMUA BANGSA</title>
		<link>https://gkketapang.org/kristus-bagi-semua-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2021 15:06:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah GKK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://wpprobiz.com/preview/profisme-free-wp-theme/?p=85</guid>

					<description><![CDATA[Kisah Para Rasul 10:34-43 Bagian firman Tuhan yang menjadi pokok perenungan pada ibadah Minggu ini adalah rangkaian peristiwa ketika Kornelius, seorang perwira Romawi yang sangat saleh mengalami lawatan Tuhan. Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan memberi perintah supaya Kornelius menyuruh orang untuk menjemput Petrus. Selanjutnya Tuhan pun menjumpai Petrus melalui penglihatan waktu dia berdoa dan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kisah Para Rasul 10:34-43</strong></p>
<p>Bagian firman Tuhan yang menjadi pokok perenungan pada ibadah Minggu ini adalah rangkaian peristiwa ketika Kornelius, seorang perwira Romawi yang sangat saleh mengalami lawatan Tuhan.</p>
<p><span id="more-85"></span> Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan memberi perintah supaya Kornelius menyuruh orang untuk menjemput Petrus. Selanjutnya Tuhan pun menjumpai Petrus melalui penglihatan waktu dia berdoa dan merasa lapar. Petrus mendengar Tuhan menyuruh dia menyembelih hewan-hewan yang bagi orang Yahudi adalah haram untuk dimakan. Hal ini terjadi sampai tiga kali. Selanjutnya Roh Tuhan mengarahkan Petrus untuk menjumpai utusan dari Kornelius yang datang untuk menjemputnya.  Petrus meresponnya dengan indah, walau ada larangan keras bagi orang Yahudi bergaul dengan orang bukan Yahudi, apalagi masuk ke dalam rumah mereka (Kis. 10:28), namun Petrus pergi ke Kaisarea menjumpai Kornelius. Semua peristiwa ini membukakan hati Petrus bahwa berita keselamatan dari Kristus adalah untuk semua bangsa.</p>
<p>Bagian firman Tuhan ini mengungkapkan beberapa pokok penting:</p>
<ol>
<li><strong>Kristus bagi Semua Bangsa adalah ajaran Tuhan bagi jemaat-Nya (ay. 34-35). </strong>Petrus menyatakan bahwa Allah tidak membedakan orang dari bangsa manapun yang mengikut ajaran Kristus. Pernyataan Petrus mengungkapkan tentang pemahaman dan sikap yang baru bahwa Kristus Yesus adalah Juruselamat semua bangsa. Kebenaran ini dinyatakan melalui penglihatan dan diwujudkan dalam perjumpaan Petrus dengan Kornelius. Tentu hal ini tidak hanya mengungkapkan wawasan Petrus yang diperbaharui, tetapi merupakan ajaran Tuhan bagi kita bahwa Kristus adalah untuk semua bangsa.</li>
<li><strong>Kristus bagi Semua Bangsa adalah tugas dan panggilan yang harus dilakukan oleh jemaat Tuhan (ay. 36-42).</strong> Bagi Petrus, ketika ia sampai ke rumah Kornelius dan memberitakan tentang Kristus sesungguhnya adalah menaati apa yang menjadi tugas dan panggilannya. Perhatikan ayat 33, kesaksian Petrus tentang Yesus adalah respons Petrus ketika Kornelius menyatakan bahwa ia dan kaum keluarga serta sahabat-sahabatnya sekarang berkumpul untuk mendengarkan apa yang ditugaskan Allah kepada Petrus.</li>
<li><strong>Kristus bagi Semua Bangsa adalah berita yang menyelamatkan (ay. 43).<br />
</strong>Ayat 43 adalah klimaks dari pemberitaan Petrus di hadapan Kornelius dan keluarga serta sahabat-sahabatnya, bahwa barang siapa percaya kepada Kristus, dari bangsa manapun, pasti akan mendapatkan pengampunan dosa. Selanjutnya Kisah Para Rasul 10:44-48, melaporkan bagaimana Roh Tuhan meneguhkan pemberitaan Petrus, kemudian Kornelius dan seisi rumahnya yang hadir mendengar pemberitaan tentang Kristus memberi diri dibaptis. Berita tentang Kristus adalah berita yang menyelamatkan.</li>
</ol>
<p>Pertanyaannya ialah, bagaimana dengan kita sebagai jemaat Gereja Kristus Ketapang? Sejauh mana kita menghidupi dan mewartakan Kristus bagi semua bangsa kepada orang-orang di sekitar kita? Tuhan Yesus memberkati.</p>
<p>~ Pdt. Dennie Olden Frans ~</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KEBANGKITAN-NYA MENGUBAHKANKU</title>
		<link>https://gkketapang.org/kebangkitan-nya-mengubahkanku/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2021 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah GKK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://churchwp.themeslr.com/?p=1118</guid>

					<description><![CDATA[Lukas 24:1-12 Suatu kesibukan terjadi dan menjadi viral di zaman itu. Begitu banyak orang yang sibuk dan antusias men-search dengan topik “Kubur kosong” atau “Kubur dibongkar” atau “Mayat hilang dan dicuri” ataupun “Mayat hidup kembali, ada penampakan!&#8221; Berita ini ternyata tidak hanya viral dalam 1 bulan atau 1 tahun. Di luar dugaan, berita tersebut masih dibicarakan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lukas 24:1-12</strong></p>
<p>Suatu kesibukan terjadi dan menjadi viral di zaman itu. Begitu banyak orang yang sibuk dan antusias men-<em>search </em>dengan topik “Kubur kosong” atau “Kubur dibongkar” atau “Mayat hilang dan dicuri” ataupun “Mayat hidup kembali, ada penampakan!&#8221;</p>
<p><span id="more-1118"></span> Berita ini ternyata tidak hanya viral dalam 1 bulan atau 1 tahun. Di luar dugaan, berita tersebut masih dibicarakan orang hingga lebih dari 2000 tahun. Ada yang tidak percaya, ragu, dan ada juga yang percaya.</p>
<p>Lebih mengherankannya lagi, TUHAN mempercayakan hal besar ini pada seorang perempuan dan tanpa nama. Apa maksudnya bagi orang percaya? Artinya, pencitraan diri tidaklah penting, melainkan hasil dari perjumpaan Tuhan Yesus itulah yang sangat penting dan mendasar. Tuhan Yesus sanggup memakai seorang perempuan yang bukan siapa-siapa menjadi alat di tangan-Nya. Betapa luar biasanya anugerah Tuhan kepada Bapak, Ibu, Saudara/i yang mau memakai kita apa adanya untuk menjadi alat di tangan-Nya.</p>
<p><strong>1. Saksi yang utuh</strong></p>
<p>Dalam kitab yang lain (lih. Mat. 28; Mrk. 16) ternyata perempuan tanpa nama itu adalah Maria Magdalena. Kata “Magdalena” berarti ia berasal dari desa Magdala. Sebuah desa yang tidak penting dan tidak terkenal. Namun kepada dialah, Tuhan mempercayakan pesan kebangkitan-Nya. Karena itu, jangan minder dengan latar belakang kehidupan kita karena Tuhan mau memakai siapa saja yang rela dibentuk dan diajar oleh-Nya.</p>
<p>Maria Magdalena ini pernah dilayani Tuhan Yesus ketika ia dirasuk 7 roh jahat. Tanpa harapan ia berjumpa dengan Tuhan Yesus, yang kini memberinya harapan baru, bahkan Maria ikut melayani Tuhan Yesus. Ia pun mengiring Yesus hingga kematian-Nya dan turut mengubur Sang Guru. Bagaimana dengan kita sebagai pengikut Kristus? Apakah kita hanya mengiring Yesus Kristus waktu suka saja, lalu waktu ada kesulitan dan penderitaan, dengan mudahnya kita meninggalkan iman percaya?</p>
<p><strong>2. Saksi yang berjumpa secara pribadi</strong></p>
<p>Dalam Yohanes 20:15, ketika Tuhan Yesus bertemu Maria di kubur-Nya yang kosong, Ia berkata, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Pertanyaan ini berfokus pada sesuatu benda yang hilang, yaitu mayat. Pertanyaan lebih mendalam sesungguhnya adalah mana yang lebih penting, mencari benda mati atau Pribadi Yesus yang hidup? Bagi kita di tengah masa pandemi ini, kira-kira cari apa atau siapa, atau sesungguhnya untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus yang penuh cinta?</p>
<p>Saat nama Maria dipanggil secara pribadi dan personal oleh Tuhan Yesus, ini sungguh menyentuh hatinya yang terdalam dan tersentak, “Kok … tahu nama saya?” Pikiran dan perasaan Maria kini terbuka, ia langsung sujud menyembah dan memegangi kaki Tuhan Yesus dan berseru, “Rabuni!” Bagaimana dengan kita, sudahkah berjumpa dan dipanggil secara pribadi? Lalu meresponinya dengan sujud menyembah-Nya?</p>
<p><strong>3. Saksi yang Diutus</strong></p>
<p>Kalau kita sudah meresponi panggilan tersebut, maka kita sekarang menjadi saksi yang diutus. Seperti yang kita lihat dalam firman hari ini, Tuhan Yesus berkata, “Pergilah!” dan Maria berkata, ”Aku telah melihat Tuhan!” Maria dari putus harapan telah melihat Tuhan dan kini dengan sukacita memberitakan Tuhanku hidup.</p>
<p>Bagaimana dengan kita hari ini? Bersediakah saya dan Bapak, Ibu, Saudara/i yang sudah berjumpa dengan Tuhan Yesus secara pribadi untuk memberitakan Yesus yang hidup melalui kehidupan kita?</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Adma Harsana Tantra ~</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>TAKLUK DAN MENANG</title>
		<link>https://gkketapang.org/takluk-dan-menang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Mar 2021 14:20:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah GKK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://churchwp.themeslr.com/?p=1114</guid>

					<description><![CDATA[Markus 14:32-42 Apakah saudara pernah bergumul karena sesuatu hal? Jika pernah, maka saudara tidak sendirian. Memang pada umumnya semua manusia yang hidup pasti pernah mengalami pergumulan. Dan itulah juga kondisi yang berusaha ditunjukkan Markus 14:32-42 tentang Yesus saat berada di taman Getsemani. Lalu bagaimana Yesus menghadapi pergumulan-Nya itu? Pertama, Yesus datang berdoa kepada Bapa. Sesungguhnya]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Markus 14:32-42</strong></p>
<p>Apakah saudara pernah bergumul karena sesuatu hal? Jika pernah, maka saudara tidak sendirian. Memang pada umumnya semua manusia yang hidup pasti pernah mengalami pergumulan. Dan itulah juga kondisi yang berusaha ditunjukkan Markus 14:32-42 tentang Yesus saat berada di taman Getsemani. Lalu bagaimana Yesus menghadapi pergumulan-Nya itu?</p>
<p><span id="more-1114"></span><span id="more-5074"></span></p>
<p>Pertama, Yesus datang berdoa kepada Bapa.</p>
<p>Sesungguhnya apa yang menjadi pergumulan Yesus? Meminum cawan (ay. 36), yang maknanya tidak sekadar berhadapan dengan penderitaan jasmani tetapi jauh terasa sampai pada jiwa-Nya karena Yesus dijadikan berdosa karena kita (2 Kor. 5:21). Itulah pergumulan Yesus. Jadi tidak heran jika dalam kemanusiaan-Nya, Yesus merasa begitu <em>takut</em> dan <em>gentar</em>, serta<em> begitu sedih</em>. Lalu apa yang diperbuat Yesus? Dia berdoa bawa pergumulan-Nya kepada Bapa. Kata “berdoa,” <em>proseuchomai</em>, adalah kata yang dipakai juga oleh Yesus saat mengajarkan Doa Bapa kami kepada para murid. Jadi dalam doa-Nya, Yesus menunjukkan kebergantungan-Nya pada Bapa, bukan pada diri sendiri maupun pihak lain. Mengapa? Karena Yesus tahu, hanya Bapa yang paling mengerti pergumulan-Nya dan bagi Bapa tidak ada suatu apa pun yang mustahil.</p>
<p>Kedua, Yesus menundukkan diri pada kehendak Bapa.</p>
<p>Dalam isi doa-Nya di ayat 36, 39, Yesus memohon agar Bapa mengambil cawan itu dari Yesus karena Ia meyakini bahwa Bapa mampu melakukannya. Terlihat jelas bahwa Yesus memiliki kehendak insani yang berbeda dengan kehendak Bapa. Meski demikian, Dia tidak menuntut agar kehendak-Nyalah yang harus terwujud melainkan hanya kehendak Bapa. Sikap yang ditunjukkan Yesus ini menunjukkan bahwa Ia tidak mengutamakan kehendak dan kepentingan diri-Nya sendiri, tetapi menaklukkannya di bawah kehendak Bapa. Mengapa demikian? Karena Yesus mengerti benar bahwa Bapa yang sempurna tidak pernah keliru dalam rancangan dan kehendak-Nya. Bapa tahu benar apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Maka, ketundukan Yesus kepada kehendak Bapa ini harus dilihat sebagai kemenangan Yesus yang mendahului penyaliban-Nya di Golgota (ay. 41-42).</p>
<p>Ada banyak hal yang dapat membuat kita bergumul dan masuk dalam pencobaan, terlebih lagi dalam situasi pandemi yang kita belum tahu kapan akan berakhir. Namun Yesus sudah memberikan teladan bagi kita bahwa semuanya itu dapat dihadapi dan dimenangkan melalui berjaga-jaga dan berdoa (ay. 38). Jadi, bawalah setiap pergumulan kita kepada Bapa. Tunduklah pada kehendak-Nya karena Bapa tahu apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Sebab waktu menundukkan diri pada kehendak Allah, maka itu akan selalu berarti kemenangan bagi setiap orang yang melakukannya. Amin!</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Widianto Yong</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PENGAKUAN DOSA YANG MEMULIHKAN</title>
		<link>https://gkketapang.org/pengakuan-dosa-yang-memulihkan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2021 14:21:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah GKK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://churchwp.themeslr.com/?p=1115</guid>

					<description><![CDATA[Mazmur 51 2 Samuel 11-12 mengisahkan raja Daud telah berbuat zina dengan Batsyeba dan “membunuh” suaminya, Uria, di medan peperangan.Tak disangka, raja Daud yang terkenal akan kedekatannya bersama TUHAN hingga menganggap-Nya sebagai Gembalanya, kini tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan perbuatan keji di hadapan Allah. Allah pun mengutus nabi Natan untuk menegur kesalahan Daud dan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mazmur 51</strong></p>
<p>2 Samuel 11-12 mengisahkan raja Daud telah berbuat zina dengan Batsyeba dan “membunuh” suaminya, Uria, di medan peperangan.Tak disangka, raja Daud yang terkenal akan kedekatannya bersama TUHAN hingga menganggap-Nya sebagai Gembalanya, kini tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan perbuatan keji di hadapan Allah.</p>
<p><span id="more-1115"></span></p>
<p>Allah pun mengutus nabi Natan untuk menegur kesalahan Daud dan menyampaikan penghukuman Allah bagi Daud dan keluarganya.</p>
<p>Raja Daud tidak berkelit.&nbsp; Ia tidak membela dirinya di hadapan nabi Natan, terlebih di hadapan Allah.&nbsp; Daud mengakui dirinya telah berdosa dan memohon pengampunan Allah.&nbsp; Mazmur 51 menjadi mazmur ratapan pribadi Daud di hadapan Allah.</p>
<p>Daud memulai mazmurnya dengan memohon pengampunan dari Allah.&nbsp; Ia mengenal betul kasih setia dan rahmat Allah yang begitu besar, sehingga ia memohon Allah sekali lagi membersihkan dan mentahirkan segala perbuatan kejinya (ay. 3-4).&nbsp; Daud sadar pada Pribadi Allah sajalah ia telah berbuat dosa (ay. 5-6), dan ia juga sadar ia telah berdosa sejak di kandungan ibunya (ay. 7).&nbsp; Karena itulah, ia berulang kali dan tak hentinya berdoa agar Allah memperbarui hati dan hidupnya dengan Roh Allah yang kudus (ay. 8-14).</p>
<p>Berdasarkan kasih setia dan anugerah Allah yang besar itu juga, Daud menaikkan ucapan syukurnya.&nbsp; Ia dimampukan untuk bersorak-sorai, memberitakan pujian atas perbuatan Allah yang ajaib padanya (ay. 15-17).&nbsp; Memang ia telah berdosa dan berbuat hal yang keji di mata Allah, namun waktu ia menyadari dosanya, mengakuinya dengan jujur di hadapan Allah, di sanalah anugerah Allah melimpah untuknya.&nbsp; Allah tak pernah memandang hina dirinya, melainkan menerima dirinya kembali (ay. 18-19).&nbsp; Karena itu, Daud tidak menghindar dari konsekuensi dosa yang ia lakukan.&nbsp; Daud menerima apa yang Allah berikan dalam anugerah-Nya dan yang tidak (ay. 20-21).&nbsp; Daud tidak marah pada Allah waktu anak dalam kandungan Batsyeba meninggal, keluarganya saling bunuh dan terjadi kudeta kerajaan, karena ia belajar menerima itu semua sebagai konsekuensi dari apa yang ia telah lakukan di masa lalu.</p>
<p>Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus, bagi setiap kita yang percaya pada Tuhan Yesus dan dengan rendah hati mengakui segala keberdosaan kita, maka dalam anugerah Allah kita diampuni dan dipulihkan.&nbsp; Tentu ada konsekuensi dosa yang harus kita terima, mungkin aib dalam keluarga atau rasa bersalah seumur hidup, namun bersama-sama Daud mari kita berdiri dengan iman di hadapan Allah yang begitu mengasihi kita.&nbsp; Yesus Kristus telah mati dan bangkit untuk menebus kesalahan dan dosa kita, baik masa lalu, hari ini maupun masa depan.&nbsp; Jangan menyerah.&nbsp; Akui dosamu dan berjanjilah untuk mengubahnya dengan pertolongan Roh Kudus.&nbsp; Sejatinya, pengakuan dosa itu memulihkan diri kita sendiri maupun orang-orang yang ada di sekitar kita.&nbsp; Kiranya Tuhan Yesus menolong setiap kita.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Sdri. Paula Ch. Mulyatan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>TURN YOUR EYES UPON JESUS</title>
		<link>https://gkketapang.org/turn-your-eyes-upon-jesus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2021 14:18:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah GKK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://churchwp.themeslr.com/?p=1109</guid>

					<description><![CDATA[Bilangan 21:4-9 Ada seorang pengkhotbah bernama Charles Spurgeon. Ketika masih muda, ia merasa sangat bersalah karena dosanya. Ia pergi dari satu gereja ke gereja yang lain di seluruh kota, berusaha mengetahui bagaimana ia dapat diampuni. Pada suatu hari Minggu, dengan badai salju yang hebat, ia menemukan sebuah gereja kecil yang jemaatnya hanya 15 orang. Pendetanya]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bilangan 21:4-9</strong></p>
<p>Ada seorang pengkhotbah bernama Charles Spurgeon. Ketika masih muda, ia merasa sangat bersalah karena dosanya. Ia pergi dari satu gereja ke gereja yang lain di seluruh kota, berusaha mengetahui bagaimana ia dapat diampuni.</p>
<p><span id="more-1109"></span> Pada suatu hari Minggu, dengan badai salju yang hebat, ia menemukan sebuah gereja kecil yang jemaatnya hanya 15 orang. Pendetanya tidak datang karena badai hebat itu. Sebagai penggantinya, seorang anggota jemaat berkhotbah, karena ia tidak tahu cara berkhotbah, sebagian besar kotbahnya hanya mengulang-ulang teks Alkitab. Karena ia tidak dapat mengatakan apa-apa lagi, ia mengarahkan pandangannya kepada Spurgeon yang duduk di belakang dan berkata. “Hai pemuda, engkau kelihatan sangat sedih dan engkau tidak akan pernah lepas dari kesedihan itu. Tetapi jika engkau memandang  kepada Yesus, engkau akan diselamatkan.” Kemudian dengan suara keras ia berseru, “Hai pemuda, pandanglah Yesus!” Pada saat itu Spurgeon berhenti memikirkan dosa dan ketidaklayakannya. Keputusasaannya lenyap dan hatinya penuh dengan sukacita. Ia tahu bahwa dosa-dosanya telah diampuni, semata-mata karena ia telah memandang kepada Kristus.</p>
<p><em>Turn Your Eyes Upon Jesus</em> merupakan sebuah ajakan kepada setiap kita, orang-orang berdosa yang harusnya binasa, untuk memandang kepada Yesus Kristus yang tersalib agar kita diselamatkan dan memiliki kehidupan yang kekal. Demikian halnya dengan bangsa Israel waktu di padang gurun ketika mereka bersungut-sungut tentang makanan yang mereka makan di padang gurun, mereka melawan Allah dan Musa. Akhirnya, Allah menyuruh ular-ular tedung untuk memagut mereka sehingga banyak di antara mereka yang tewas. Musa berdoa memohon keselamatan dari Tuhan, dan Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga di sebuah tiang. Karena itu, siapa yang dipagut ular dan memandang pada ular tembaga itu, maka ia akan tetap hidup. Maksud pembuatan ular tembaga itu adalah sebagai lambang bahwa perlindungan dan pertolongan mereka hanyalah pada Tuhan. Hanya dengan percaya dan menaati perintah Allah untuk memandang ular tembaga yang ditinggikan, maka bangsa Israel akan tetap hidup.</p>
<p>Tuhan Yesus dalam Yohanes 3:14-15 mengatakan “bahwa sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepadanya beroleh hidup yang kekal.” Dengan kata lain, sebagaimana orang Israel selamat dari pagutan ular jika mereka memandang ular tembaga, maka kita orang percaya akan selamat dari dosa jika kita memandang pada Yesus Kristus yang telah tersalib. Tidak hanya itu, waktu kita mengarahkan pandang pada Tuhan Yesus yang telah bangkit dan menang, maka kehidupan yang sulit nan berat ini pun dapat kita lalui dengan kekuatan dan anugerah Allah. Jika kita hanya melihat pada diri kita sendiri, maka yang ada hanyalah kelemahan, kekecewaan dan penyesalan. Tetapi jika kita memandang pada Yesus Kristus, maka kita akan beroleh kekuatan, pengampunan dan hidup yang bermakna.</p>
<p>Kiranya dalam minggu Pra-Paskah yang ke IV ini kita berefleksi akan keberadaan diri kita di hadapan Tuhan, dan kita kembali diingatkan untuk senantiasa memandang pada Yesus Kristus, Sang Sumber Terang yang menerangi hidup kita. Amin.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pnt.K. Susi Sihaloho</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN TUBUH KRISTUS YANG SEJATI</title>
		<link>https://gkketapang.org/membangun-tubuh-kristus-yang-sejati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2021 02:18:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah GKK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://churchwp.themeslr.com/?p=1108</guid>

					<description><![CDATA[Yohanes 2:13-22 Ketika hari raya Paskah sudah dekat, Yesus pergi ke Yerusalem. Tiga kali setahun setiap orang laki-laki Yahudi harus pergi ke Yerusalem, yaitu pada hari raya Roti Tidak Beragi (Paskah), hari raya Tujuh Minggu (Pentakosta), dan hari raya Pondok Daun. Saat Yesus tiba di Bait Allah, di dalam Bait Allah didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yohanes 2:13-22</strong></p>
<p>Ketika hari raya Paskah sudah dekat, Yesus pergi ke Yerusalem. Tiga kali setahun setiap orang laki-laki Yahudi harus pergi ke Yerusalem, yaitu pada hari raya Roti Tidak Beragi (Paskah), hari raya Tujuh Minggu (Pentakosta), dan hari raya Pondok Daun.</p>
<p><span id="more-1108"></span></p>
<p>Saat Yesus tiba di Bait Allah, di dalam Bait Allah didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.  Orang yang datang dari jauh ke Bait Allah tentu tidak dapat membawa binatang-binatang sebagai korban persembahan mereka, oleh sebab itu orang-orang Yahudi memanfaatkan kesempatan untuk menjual binatang-binatang persembahan tersebut.</p>
<p>Warren Wiersbe mengatakan perdagangan ini dibangun oleh imam, pemimpin agama yang menjadi pemimpin perdagangan atas nama agama, dengan alasan untuk menolong orang, yang sebenarnya adalah memanfaatkan jemaat untuk mendapatkan keuntungan. Hal inilah yang membuat Tuhan Yesus marah, Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua, membersihkan Bait Allah dari segala praktik perdagangan yang merusak kekudusan Bait Allah. Ketika Tuhan Yesus membersihkan Bait Allah, Dia menyatakan “perang” terhadap kemunafikan para pemimpin agama. (<em>Wiersbe, Warren W. The Bible Exposition Commentary</em>)</p>
<p>Dari kemarahan yang ditunjukkan Yesus tersebut, kita paham bahwa ada yang salah dengan cara orang-orang itu memperlakukan Bait Allah. Tentu saja yang dimaksudkan Bait Allah di sini adalah bukan sekedar gedungnya tetapi Gereja sebagai tubuh Kristus, persekutuan orang percaya yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.</p>
<p>Lalu bagaimana tubuh Kristus yang sejati itu seharusnya dibangun?</p>
<p>Pertama, dalam ayat 17 para murid teringat bahwa ada tertulis, “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” Artinya, karena cinta pada gereja-Nya, Tuhan Yesus menjadi manusia, menderita dan mati di kayu salib. Jadi dalam membangun tubuh Kristus harus ada kerelaan berkorban dan bukan mencari  keuntungan.</p>
<p>Kedua, Kemudian orang-orang Yahudi yang tidak senang dengan tindakan Yesus yang mengusir mereka bereaksi menantang Yesus katanya: “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Tanda yang diberikan Yesus tidak lain adalah tentang Bait Allah yang diidentikkan dengan tubuh-Nya sendiri. Jadi,  Yesus berhak melakukan apa yang perlu untuk memelihara kekudusan dan sekaligus membersihkan semua unsur yang dapat menajiskan tubuh Kristus.</p>
<p>Pertanyaan untuk kita renungkan adalah: Apakah Gereja juga adalah Bait Allah yang kudus? Apakah rutinitas Gereja berpusat pada penyembahan yang benar? Apakah para pemimpin jemaat membangun kerohanian jemaat atau membangun kepentingan sendiri? Apakah para pemimpin telah kehilangan kepekaan spiritual dan membiarkan terjadinya penyimpangan yang berlarut-larut?</p>
<p>Tuhan Yesus ingin agar Gereja mengalami reformasi, menjadi tubuh Kristus yang sejati, kembali lagi kepada kebenaran dan kekudusan. Sebab karena cinta akan Rumah Tuhan, menghantarkan Yesus mati disalibkan, namun pada hari yang ketiga Yesus bangkit, menyatakan otoritas dan kuasa-Nya. Dialah Tuhan dan kepala Gereja. Hanya kepada-Nyalah kita berbakti dan melayani.</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pdt. Martin Elvis</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>JALAN SALIB</title>
		<link>https://gkketapang.org/jalan-salib/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2021 02:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah GKK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://churchwp.themeslr.com/?p=1120</guid>

					<description><![CDATA[Markus 8:31-38 Dalam perikop Markus 8:31-38 ini Tuhan Yesus menyampaikan apa yang akan Ia alami atas hidup-Nya. Tuhan Yesus memberitahukannya setelah Ia bertanya apa tanggapan banyak orang dan para murid tentang diri-Nya. Ketika Yesus bertanya kepada Petrus tentang diri-Nya, Petrus berkata dengan tegas bahwa Yesus adalah Mesias (Mrk. 8:29). Berdasarkan pengenalan dan pengakuan Petrus inilah]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Markus 8:31-38</strong></p>
<p>Dalam perikop Markus 8:31-38 ini Tuhan Yesus menyampaikan apa yang akan Ia alami atas hidup-Nya. Tuhan Yesus memberitahukannya setelah Ia bertanya apa tanggapan banyak orang dan para murid tentang diri-Nya.</p>
<p><span id="more-1120"></span> Ketika Yesus bertanya kepada Petrus tentang diri-Nya, Petrus berkata dengan tegas bahwa Yesus adalah Mesias (Mrk. 8:29). Berdasarkan pengenalan dan pengakuan Petrus inilah Tuhan Yesus menegaskan secara gamblang tentang arti dan makna ke-Mesias-anNya yang sesungguhnya kepada para murid.</p>
<p>Setelah Yesus memberitahukan bahwa Ia akan menanggung banyak penderitaan dan ditolak tua-tua, imam-imam kepala dan Ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah hari ketiga (ay. 31), Ia menjelaskan tentang identitas-Nya, dan menegaskan pula identitas seorang murid Yesus yaitu menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. Menjadi murid berarti sedia mempertaruhkan seluruh hidupnya dan bersedia menanggalkan haknya untuk Yesus. Menyangkal diri berarti mengendalikan diri, jujur dan tidak memuaskan keinginan duniawinya melainkan melakukan keinginan dan kehendak Tuhan saja.</p>
<p>Memikul salib berarti siap menderita hingga kehilangan nyawa karena iman percaya dalam mengikut Yesus. Seorang teolog Kristen, Kosuke Koyama, mengatakan “<em>No Handle on the Cross</em>” yang berarti “Tidak ada gagang pada Salib,” yang berarti salib harus dipikul bukan digenggam. Salib adalah penderitaan yang harus ditanggung sebagaimana Kristus juga telah mengalami-Nya. <strong>Mengikut Yesus berarti taat secara terus-menerus (seumur hidup kita)</strong>. Mengikut Yesus berarti taat mengikuti dan melakukan perintah Tuhan Yesus. Sediakah kita menjadi murid Yesus yang sejati?</p>
<p><strong>Dibuat oleh: Pnt.K. Aronika Hutasoit</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>TANDA KEMURAHAN ALLAH</title>
		<link>https://gkketapang.org/tanda-kemurahan-allah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2021 02:17:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah GKK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://churchwp.themeslr.com/?p=1104</guid>

					<description><![CDATA[Pelangi. Walaupun tidak semua kita masih suka menggambar pelangi, tetapi setiap kali pelangi nampak di awan-awan setelah hujan, seperti ada rasa senang bisa melihat kehadirannya. Memang tidak setiap ada hujan, kita dapat melihat pelangi. Kita harus ada pada posisi di mana Matahari memantulkan cahayanya melalui butir-butir air hujan yang sedang turun itu, kepada kita. Cahaya]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pelangi. Walaupun tidak semua kita masih suka menggambar pelangi, tetapi setiap kali pelangi nampak di awan-awan setelah hujan, seperti ada rasa senang bisa melihat kehadirannya. Memang tidak setiap ada hujan, kita dapat melihat pelangi.</p>
<p><span id="more-1104"></span> Kita harus ada pada posisi di mana Matahari memantulkan cahayanya melalui butir-butir air hujan yang sedang turun itu, kepada kita.</p>
<p>Cahaya yang terurai yang menjadi spektrum warna itu menyenangkan bagi setiap yang melihatnya. Ada fenomena alam lainnya – <em>circumhorizontal arc</em> dan <em>circumzenithal arc</em>– yang menyerupai pelangi, yang disebabkan oleh butiran es yang terdapat pada awan yang lebih tinggi lagi dari awan hujan. Butiran es yang ada pada awan yang lebih tinggi itu, juga menyajikan warna-warna seperti pada pelangi, tetapi tidak berbentuk busur (melengkung). Warna-warna pada <em>circumhorizontal arc </em>dan<em> circumzenithal arc </em>mengikuti pola awan yang biasanya mendatar dan terurai seperti kain.</p>
<p>Ketika Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh, Allah memakai “busur pelangi” di awan sebagai “tanda perjanjian” (Kej. 9: 13-16). Perjanjian Allah dengan Nuh adalah wujud kemurahan Allah kepada manusia dan semua makhluk hidup yang ada di dunia (Kej. 9:17). Air bah tidak menghilangkan dosa dan kelemahan manusia. Nuh “yang mabuk” karena anggur dan Ham “yang menghina orangtuanya” sehingga dikutuk oleh Nuh, adalah bukti bagaimana dosa terjadi dalam keluarga yang baru saja diselamatkan Allah dari air bah. Perjanjian itu adalah pernyataan bahwa Allah mau bersabar, menahan diri dan menangguhkan penghukuman-Nya atas dosa sampai pada waktu yang telah ditentukan-Nya, dengan cara yang berbeda dengan yang baru saja dilakukan-Nya.</p>
<p>Selanjutnya, Allah yang Maha-hadir dan Maha-tahu, tidak perlu berada di tempat tertentu untuk dapat “melihat” kehadiran pelangi di bumi ini, agar diingatkan pada janji-Nya. Ia secara simultan pada waktu yang sama melihat seluruh pelangi yang ada di seluruh muka bumi ini. Jika sampai hari ini kita masih melihat pelangi, itu juga berarti bahwa Allah telah setia memelihara perjanjian-Nya dengan Nuh dan seluruh makhluk hidup, termasuk kita di dalamnya.</p>
<p>Sebagaimana pelangi menandai Perjanjian “Anugerah umum” Allah bagi manusia dan seluruh ciptaan-Nya di bumi, demikian juga bagi orang percaya, ada “tanda perjanjian” lain yang menandai Perjanjian “Anugerah Khusus” Allah. Sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus) yang ditetapkan Allah bagi kita adalah tanda yang menandai perjanjian yang Allah adakan antara diri-Nya dan kita umat-Nya. Berbeda dengan Perjanjian dengan Nuh, Perjanjian yang disimbolkan dengan Baptisan dan Perjamuan Kudus bersifat menyelamatkan (<em>redemptive</em>) dan terbatas pada umat tebusan-Nya saja.</p>
<p>Setiap kali kita melihat “tanda kemurahan-Nya” baik pelangi di awan, maupun melalui sakramen yang dilayankan, mari kita terus bersyukur karena janji-Nya itu. Allah setia memelihara perjanjian-Nya, sehingga janji-Nya nyata dalam hidup kita. Dengan cara itu, kita selamat dan dipelihara dari kedahsyatan murka Allah terhadap segala dosa dan kejahatan, saat ini dan yang akan dilaksanakan kelak pada hari penghukuman-Nya. Amin!</p>
<p>Doa: <em>Terima kasih Tuhan untuk meterai keselamatan-Mu. Kami aman tinggal di dalam-Mu! Amin!</em></p>
<p>Dibuat oleh: Pdt. Albert Adam</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
