Di era digital saat ini, kita tentu dapat begitu mudah menemukan komentar netizen yang tergesa-gesa memberikan sebuah vonis bagi sebuah peristiwa. Hanya dari satu potongan unggahan atau cerita sepintas, seseorang bisa langsung dilabeli atau melabeli buruk. Seolah-olah sudah mengetahui seluruh jalan cerita kehidupan dari seseorang, padahal mungkin hanya melihat sebagian kecil dari permukaan saja. Kecenderungan menilai dari “apa yang tampak” (bahasa Yunani, κατ᾽ ὄψιν – kat’ opsin) ini ternyata penyakit hati manusia yang juga dihadapi Yesus di dalam Yohanes 7.
- Manusia Cenderung Menilai Secara Dangkal
Dalam Yohanes pasal 7, terjadi konflik di antara orang banyak serta para pemimpin Yahudi mengenai siapa Yesus. Ada yang kagum, tetapi ada pula yang bersiap membunuh Yesus. Orang banyak hanya menilai Yesus secara dangkal berdasarkan tiga hal lahiriah:
- Asal-usul Lahiriah: Mereka memandang rendah daerah asal-Nya, “Bukankah Dia orang Galilea? Bukankah kita tahu dari mana asal-Nya?” (Yoh. 7:27, 41-42).
- Pendidikan Formal: Mereka meragukan kapasitas-Nya hanya karena Yesus tidak belajar di lembaga rabi ternama (Yoh. 7:15).
- Tindakan Fisik pada Hari Sabat: Mereka marah karena Yesus menyembuhkan orang lumpuh pada hari Sabat (Yoh. 5:1-18; 7:21-23). Mereka hanya melihat Yesus “bekerja” melanggar aturan teknis Sabat, tanpa melihat kebenaran dan kasih Allah di balik tindakan itu.
- Hati yang Buta Menciptakan Standar Ganda
Untuk membongkar cara berpikir para pemimpin Yahudi yang sempit, Yesus menunjukkan inkonsistensi mereka melalui praktik sunat (Yoh. 7:22-23). Orang Yahudi diizinkan melakukan sunat (satu bagian tubuh) pada hari Sabat demi menaati hukum Musa. Namun ketika Yesus memulihkan seluruh tubuh seorang manusia pada hari Sabat, mereka justru marah dan menuduh-Nya melanggar Taurat.
Di sinilah Yesus menyingkapkan adanya standar ganda dan sikap legalistik dari para pemimpin Yahudi. Mereka memakai hukum secara selektif, begitu ketat menilai orang lain, tetapi sangat longgar terhadap tradisi mereka sendiri. Mereka begitu fokus pada aturan teknis hasil tafsiran manusia sampai melupakan inti dari hukum Allah yang sejati, yaitu belas kasihan, kebaikan, dan pemulihan bagi manusia (bdk. Mrk. 2:27; Mat. 9:13).
III. Transformasi Cara Menilai Menurut Kebenaran Allah
Di saat Yesus berkata, “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil” (Yoh. 7:24). Yesus tidak sedang melarang kita memiliki kepekaan moral atau penilaian, melainkan memanggil kita untuk mengubah pola berpikir dalam menilai sesuatu (κρίνετε δικαίαν – krinete dikaian: secara harfiah berarti “memberi penilaian yang benar/ kudus”). Menghakimi dengan adil berarti memberikan penilaian yang sesuai dengan kehendak dan kebenaran Allah, yang berjalan seimbang dalam dua hal:
- Jujur Menegur Dosa (Kasih yang Berani): Kasih yang dari Allah tidak berarti kompromi atau membiarkan kesalahan menjadi berlarut-larut. Jika ada saudara seiman yang telah berbuat salah atau melukai orang lain, katakanlah kebenaran itu kepadanya dengan lembut dan jujur secara pribadi (Mat. 18:15). Ketika kita menunda teguran padahal kita mengerti itu tidak benar, maka hal itu bukanlah sebuah kebaikan, melainkan pembiaran yang dapat merusak.
- Sabar Mendampingi Pemulihan (Kasih yang Merangkul): Menegur seseorang dengan jujur tidak sama dengan menuntut perubahan instan. Seperti penggarap kebun anggur yang rela dengan sabar merawat pohon ara yang belum berbuah (Luk. 13:6-9), kita juga dipanggil untuk memulihkan saudara kita yang jatuh dalam pelanggaran dengan “roh lemah lembut” (Gal. 6:1), maka kita juga memberi kesempatan bagi Roh Kudus bekerja untuknya (berserah kepada kuasa Tuhan).
Pada akhirnya, menghakimi dengan adil dapat berarti kita berdiri di tengah: cukup jujur untuk menyebut yang salah sebagai salah, dan cukup sabar untuk memberi waktu bagi pemulihan sejati dapat terjadi. Sebagai komunitas gereja, kita dipanggil menjadi tempat perlindungan dan pemulihan bagi orang berdosa, bukan pengadilan yang siap melemparkan batu penghakiman. Ketika kita belajar melihat sesama bukan dari sampul luar, status, atau kegagalan masa lalu mereka, melainkan dari cara pandang Kristus, maka suasana komunitas kita akan berubah.
Marilah kita meneladani cara pandang Kristus, yang memakai standar kebenaran yang sama bagi diri sendiri dan orang lain, serta selalu menghadirkan belas kasihan dalam komunitas gereja-Nya. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk melakukan kebenaran Firman-Nya. Amin.
Dibuat oleh: Bp. Yoses Setiawan