Yesaya 1:13-17
Bulan Juli adalah bulan Diakonia di lingkungan Sinode Gereja Kristus. Hari ini kita akan membahas tema “Kasih: Dari Altar ke Aksi” melalui nas Yesaya 1:13-17 agar Firman Tuhan yang kita dengar bukan sekedar menjadi pengetahuan, tetapi kita terapkan dalam kehidupan kita.
Seringkali kita melihat ada beberapa orang yang seolah-olah mempunyai dua kepribadian karena pribadinya dalam bergereja sangat berbeda dengan kehidupannya sehari-hari. Perbuatan dan tingkah lakunya di gereja tidak selaras dengan hidup kesehariannya. Seperti ini jugalah gambaran bangsa Israel pada saat itu. Mereka sangat taat dalam beribadah. Mereka membawa korban dan persembahan yang banyak (ay. 11), mereka sangat berdisiplin: tidak pernah lupa menghadap Tuhan (ay. 12-14), dan mereka juga menunjukkan sikap hormat dan sungguh-sungguh dalam beribadah (ay. 15).
Namun ternyata Tuhan marah atas ibadah mereka dan mengatakan: “Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.” (Yes. 1:13-15).
Oleh karena itu Tuhan memberi pengajaran dalam ayat 16-17, “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” Firman ini mengingatkan kita agar ibadah kita bukan sekedar ibadah yang ritual saja, namun benar-benar aktual menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan Roma 12:1-2: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Kiranya Firman Tuhan hari ini menolong kita untuk lebih memahami ibadah sejati yang diserukan oleh Yesaya dan menyadari bahwa ibadah sejati harus ditunjukkan dalam sikap sehari-hari seperti menolong, membela yang lemah, dan hadir bagi sesama yang menderita. Marilah di bulan Diakonia ini kita semua memperbaharui diri, agar kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama berjalan seimbang dan konsisten. Tuhan Yesus memberkati!
Dibuat oleh: Pdt. Em. Setiawan Sutedjo