Lukas 10:25-37
Bagian pertama dari perikop ini dimulai dengan pertanyaan yang baik, namun dengan motivasi yang buruk, dari seorang ahli Taurat tentang apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup kekal. Yesus menjawab dengan mengajukan pertanyaan kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Yesus mengacu kepada hukum Taurat bukan karena hukum Taurat itu dapat menyelamatkan, melainkan karena hukum Taurat memperlihatkan bahwa kita berdosa dan memerlukan keselamatan. Roma 3:20 mengatakan, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” Semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, sehingga tidak dapat melakukan hukum Taurat supaya selamat. Manusia memerlukan penebusan di dalam Kristus agar diselamatkan, sehingga dapat melakukan perbuatan yang memuliakan Tuhan.
Ahli Taurat menjawab Yesus dengan mengutip hukum yang terutama, yaitu tentang mengasihi Tuhan dan sesama. Lalu Yesus berkata, “Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Namun, ahli Taurat itu hendak membenarkan dirinya dengan mengatakan, “Siapakah sesamaku manusia?” Lalu Yesus menjawab dengan kisah orang Samaria yang baik hati. Ada orang yang pulang dari Yerusalem ke Yerikho dirampok habis-habisan dan dipukuli sampai setengah mati. Lalu, ada seorang imam yang melalui jalan itu; ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi, ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Namun, tidaklah demikian dengan orang Samaria. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah itu ia menyiramnya dengan minyak dan anggur. Kemudian, ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya, ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu dan berkata, “Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali.” Melalui hukum Taurat, kita mengetahui bahwa kita berdosa dan memerlukan anugerah penebusan dalam Kristus Yesus, sehingga kita diperbarui dan dapat melakukan perbuatan berdasarkan kasih Kristus. Ini mungkin terjadi ketika kita hidup dan tinggal di dalam kasih-Nya dengan melakukan firman-Nya.
Orang Samaria mau menolong karena digerakkan oleh belas kasihan, bukan karena ia mau melakukannya supaya selamat. Apa yang ia lakukan adalah perwujudan dari hukum kasih. Ketika seseorang tinggal di dalam kasih Tuhan, maka perbuatan berdasarkan kasih itu akan menembus batas. Ahli Taurat hanya mencari pembenaran diri untuk tidak melakukan firman Tuhan dan membangun tembok keangkuhan diri. Orang Samaria yang dibenci karena dianggap keturunan campuran dengan bangsa asing, ternyata melakukan perbuatan kasih yang menembus batas wilayah, ras, dan warga negara. Bagaimana dengan kita?
Dibuat oleh: Pdt. Em. Martin Elvis