DASAR KEBANGKITAN KRISTUS

DASAR KEBANGKITAN KRISTUS

1 Korintus 15:12-34

Hidup beriman kepada Tuhan Yesus tentunya tidak bisa dilepaskan dari peristiwa kebangkitan. Walaupun ada yang meragukan, menilai palsu tetapi banyaknya saksi dan catatan sejarah tidak mampu membungkam peristiwa kubur yang kosong itu. Kebangkitan inilah yang membuat dasar iman kekristenan kuat, sekaligus semangat kebangkitan itu menjadi pengharapan bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.

Renungan hari ini melalui tulisan Paulus kepada jemaat di Korintus menegaskan kembali tentang kebangkitan Yesus bahwa peristiwa ini dicatat di dalam Injil yang mereka sudah terima dan di dalam Injil itu mereka diselamatkan, asalkan berpegang teguh (1Kor 15:1-4).  Paulus menceritakan bahwa kebangkitan Kristus disaksikan oleh Kefas, kedua belas murid-Nya, lalu kepada lebih dari lima ratus orang sekaligus, Yakobus dan kepada semua rasul-rasul (ay. 5-7). Ini membuktikan berita kebangkitan bukan dongeng belaka, bukan cerita tanpa dasar tetapi berdasarkan fakta dan kesaksian orang-orang yang ada pada waktu itu. Melalui perenungan di minggu Paskah pertama juga ingin menegaskan kembali bahwa kebangkitan memberi harapan akan kebangkitan orang percaya pada saat kedatangan-Nya kembali. Paulus memberitakan bahwa kebangkitan itu memberi pengharapan kebangkitan kita:

  1. Berita kebangkitan Yesus inti dari pemberitaan Injil (ay. 12-14). Melalui tulisannya ini, Paulus ingin menegaskan kembali bahwa kebangkitan Kristus adalah inti pemberitaan Injil, sehingga jika Yesus tidak dibangkitkan maka sia-sialah pemberitaannya dan sia-sialah juga kepercayaan jemaat. Jadi sangat jelas bahwa kebangkitan menjadi inti bagi orang yang mau percaya kepada Kristus. Injil dan kebangkitan tidak bisa dipisahkan dari pemberitaan tentang Tuhan Yesus, sesuai dengan Kitab Suci.
  2. Kebangkitan Yesus adalah yang sulung (ay. 20). Sulung artinya Yesuslah yang pertama kali bangkit dari antara orang mati dan tidak mengalami kematian kembali (berbeda dengan kebangkitan Lazarus, anak perempuan Yairus, maupun anak janda miskin di Nain yang akan mengalami kematian lagi). Kebangkitan Yesus ini kemudian menjadi dasar pengharapan bagi setiap orang percaya bahwa mereka akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Yesus, mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Sebagai buah sulung, Yesus meletakan para musuh-Nya di bawah kaki-Nya, artinya Yesus menang dan musuh-musuh-Nya sudah dikalahkan dengan kuasa kebangkitan-Nya.
  3. Pengharapan ada pada lingkungan yang baik, (ay. 33). Paulus ingin membawa jemaat di Korintus agar memiliki pandangan yang benar tentang kebangkitan Yesus karena mereka hidup di tengah situasi pandangan dan ketidakpercayaan yang membawa pada kesesatan tentang kebangkitan. Paulus mengatakan: “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Jadi setiap orang percaya harus mendapatkan lingkungan yang baik dalam keberimanannya kepada Kristus. Walaupun memang tidak semua lingkungan merusak tetapi lingkungan baik membuat kita bisa bertumbuh mengenal kasih Tuhan Yesus yang sudah bangkit.

Marilah kita sebagai pengikut Yesus yang percaya kebangkitan-Nya seharusnya membawa kepada kebangkitan secara pribadi. Kebangkitan Kristus membangkitkan kehidupan yang percaya, sehingga jangan sampai pergumulan hidup, tantangan, pandangan-pandangan dunia membuat tidak menjadi percaya bahwa dasar iman kita adalah kebangkitan-Nya. Kuasa dunia ini sudah ditaklukkan di bawah kaki-Nya dan kita harus menciptakan lingkungan yang menghidupkan terang Firman-Nya, sehingga kebangkitan itu juga menghidupkan pengharapan dimanapun kita berada. Mari nyalakan dan nyatakan pengharapanmu, tidak hanya untuk hidup di masa yang akan datang tetapi untuk masa yang saat ini.

Dibuat oleh: Pdt. Andri Wahyudi

Article by Admin