PUJI-PUJIAN BAGI YESUS KRISTUS, PERANTARA SEJATI

PUJI-PUJIAN BAGI YESUS KRISTUS, PERANTARA SEJATI

Ibrani 1:1-4; 2:5-12

Belum lama ini kita disuguhi penganan khas, yaitu kue/pia untuk menyambut Tiong (artinya bertepatan) Ciu (artinya panen). Ini adalah momen menyambut musim gugur pas bulan purnama yang indah di waktu malam, suasananya sejuk dan terpantul cahaya dari Bunga Seruni/Krisan/Ju Hua yang berwarna kuning, yang menurut kepercayaan China, mereka diberkati oleh matahari dan terutama dewi bulan hingga terus berlangsung sampai saat ini.

Tidakkah kita mengetahui di balik matahari dan bulan itu ada Pencipta yang ingin dikenal dan mengenalkan diri-Nya dengan berbagai macam cara? Sayangnya dosa menghambat pengenalan yang benar tentang Sang Pencipta dari ciptaan yang indah.

Dalam surat Ibrani, Sang Pencipta selalu ingin menyapa manusia dengan pelbagai macam cara, dari mengutus para nabi-Nya di setiap zaman, bahkan dengan kreatif membawa manusia kepada Penciptanya. Dan pada saat yang tepat, Tuhan berinisiatif datang sendiri melalui Anak-Nya yang Tunggal, yaitu Tuhan Yesus, Sang Sumber Kebenaran. Ia datang untuk menebus manusia, sehingga memampukan manusia untuk meresponinya melalui pertobatan. Bapa telah menetapkan Yesus sebagai pemilik isi dunia ini dan layak menerima segala hormat dan kemuliaan karena melebihi cahaya rembulan, yaitu cahaya kemuliaan Allah yang sempurna. Melalui karya-Nya sebagai Imam Besar, Yesus mengadakan penyucian dosa manusia.

Tuhan Yesus datang menjadi Juruselamat dengan cara merendahkan Diri-Nya hingga di bawah para malaikat, bahkan umat manusia sekalipun dengan lahir di kandang binatang. Ini semua Ia lakukan agar manusia berdosa dapat diangkat kembali ke dalam kemuliaan semula, yaitu menurut gambar dan rupa-Nya. Tuhan Yesus mati namun bangkit, supaya manusia lepas dari hukuman kekal. Ia telah menaklukkan kuasa maut dan Iblis, sehingga tidak berkuasa lagi atas setiap orang percaya. Kematian-Nya meredakan murka Allah Bapa, dan saat yang sama mengadakan rekonsiliasi antara Tuhan dan manusia.

Kristus rela mengorbankan harga diri-Nya tercampak, dicaci dan di-bully habis-habisan hingga nyawa-Nya pun rela diberikan. Jika Tuhan Yesus sudah memberikan segala-galanya hingga habis-habisan, maka bagaimana dengan saya dan Bapak, Ibu. Saudara-Saudari? Sudahkah memberi diri secara total hingga habis-habisan bagi Tuhan?  Baik secara hati, pikiran, perkataan, perbuatan di mana pun Tuhan menempatkan kita (rumah, masyarakat).

Dibuat oleh: Pdt. Adma H. Tantra

Article by Admin