PUJIAN SEBAGAI SENJATA ROHANI

PUJIAN SEBAGAI SENJATA ROHANI

2 Tawarikh 20:15-30

Dalam kehidupan, ada pergumulan yang membuat kita merasa tidak berdaya.  Kita sudah berusaha mencari jalan keluar, memikirkan berbagai kemungkinan, bahkan meminta pertolongan dari banyak pihak, tetapi masalah seolah tidak kunjung selesai.  Dalam situasi seperti itu, mudah bagi kita untuk dikuasai ketakutan dan kehilangan pengharapan.  Namun, firman Tuhan mengingatkan bahwa ada satu hal yang dapat kita lakukan di tengah pergumulan, yaitu tetap percaya dan memuji Tuhan.

Hal inilah yang dialami oleh bangsa Yehuda ketika menghadapi ancaman dari pasukan besar bangsa Moab, Amon, dan orang Meunim.  Menghadapi kekuatan musuh yang jauh lebih besar, Raja Yosafat menyadari bahwa bangsanya tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi mereka.  Ia pun mencari Tuhan dan mengajak seluruh Yehuda untuk berdoa.  Melalui Yahaziel, Tuhan menyampaikan firman-Nya: “Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah” (ay. 15).  Tuhan meminta mereka untuk tidak takut, sebab kemenangan bukan bergantung pada kekuatan mereka, melainkan pada kuasa Tuhan.

Menariknya, ketika berangkat menghadapi musuh, Yosafat menempatkan para penyanyi di barisan paling depan untuk memuji Tuhan (ay. 21).  Secara manusia, tindakan ini mungkin terlihat tidak masuk akal.  Namun, mereka maju dengan iman dan pujian kepada Tuhan.  Ketika mereka mulai menyanyikan pujian, Tuhan membuat pasukan musuh saling menyerang hingga akhirnya mereka dikalahkan.  Bangsa Yehuda tidak perlu memenangkan peperangan dengan kekuatan militernya, sebab Tuhan sendiri yang berperang bagi mereka.

Kisah ini mengajarkan bahwa pujian bukan sekadar nyanyian atau bagian dari liturgi ibadah.  Pujian adalah ungkapan iman yang mengarahkan hati kita kepada kebesaran dan kuasa Tuhan, bukan kepada besarnya masalah yang sedang dihadapi.  Pujian menjadi senjata rohani karena menolong kita melawan ketakutan, keraguan, dan keputusasaan dengan mengingat siapa Tuhan yang kita percayai.  Terlebih lagi, di dalam Yesus Kristus, kita memiliki dasar pengharapan yang teguh.  Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus telah mengalahkan dosa dan maut.  Kemenangan-Nya menjadi jaminan bahwa tidak ada kuasa apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah (Rm. 8:38-39).  Karena itu, kita dapat terus memuji Tuhan, bukan karena hidup selalu berjalan sesuai keinginan kita, melainkan karena di dalam Kristus kita tahu bahwa kemenangan sejati telah dinyatakan.

Jangan hanya memuji Tuhan ketika keadaan baik dan doa kita dijawab.  Belajarlah tetap memuji-Nya ketika menghadapi kesulitan, ketidakpastian, dan pergumulan hidup.  Bukan berarti kita berhenti berusaha, melainkan kita melakukan bagian kita sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.  Ketika kita tidak tahu bagaimana menghadapi peperangan hidup, tetaplah percaya, berdoa, dan memuji Tuhan, sebab Dia sanggup berperang bagi umat-Nya.  Amin

Dibuat oleh: Sdri. Paula C. Mulyatan