Kisah Para Rasul 7:54-60
Istilah radikal sering dipahami secara negatif, seolah identik dengan kekerasan atau tindakan ekstrem. Padahal kata ini berasal dari bahasa Latin radix, yang berarti akar. Maka, sesuatu yang radikal sesungguhnya menunjuk pada hal yang mendasar, berakar kuat, dan berdiri di atas fondasi yang kokoh. Dalam terang firman Tuhan, kasih yang radikal adalah kasih yang berakar dalam Kristus, sehingga tidak mudah goyah oleh keadaan seberat apa pun.
Kisah Stefanus menjadi gambaran nyata tentang kasih yang radikal. Ia adalah seorang pelayan jemaat yang penuh iman dan Roh Kudus, dipakai Tuhan dengan kuasa dan hikmat. Ketika dihadapkan pada Mahkamah Agama, Stefanus tidak sibuk membela diri, tetapi tetap bersaksi tentang karya Allah dan tentang Yesus Kristus sebagai Mesias yang dijanjikan. Meski kesaksiannya ditolak dan memicu kemarahan besar, ia tetap teguh sampai akhir hidupnya. Karena itu, seperti apakah “Radikal dalam Kasih” dan apakah ajaran rohani bagi jemaat Tuhan?
Pertama, kasih yang radikal adalah kasih yang melampaui amarah (ay. 54-56). Orang-orang yang mendengar perkataan Stefanus menjadi marah dan menggertakkan gigi. Namun, Stefanus tidak membalas dengan kebencian. Ia tetap penuh Roh Kudus dan memandang kemuliaan Allah. Ini mengajarkan bahwa orang percaya tidak boleh membiarkan kemarahan orang lain mengendalikan respons kita. Dunia boleh penuh kebencian, tetapi hati yang berakar dalam Kristus tetap memilih kasih.
Kedua, kasih yang radikal adalah kasih yang mengampuni meski dianiaya (ay. 57-59). Saat batu-batu menghantam tubuhnya, Stefanus berseru, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.” Ia meneladani Yesus Kristus yang berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya. Mengampuni bukan berarti menyetujui kejahatan, tetapi menyerahkan penghakiman kepada Tuhan dan membiarkan kasih-Nya menang atas luka kita.
Ketiga, kasih yang radikal adalah kasih yang lebih kuat daripada maut (ay. 60). Stefanus menyerahkan rohnya kepada Tuhan Yesus. Kematian bukan akhir kesaksiannya. Justru melalui peristiwa itu, Injil terus bergerak, bahkan Saulus yang hadir saat itu kelak dipakai Tuhan menjadi Rasul Paulus. Kasih yang sejati tidak dapat dihentikan oleh penderitaan maupun kematian.
Di Bulan Misi ini, kita dipanggil menjadi saksi Kristus yang radikal: berakar kuat dalam firman Tuhan, berani menyatakan kebenaran, dan tetap mengasihi di tengah penolakan. Dunia membutuhkan kesaksian seperti ini, yang bukan sekadar kata-kata, tetapi hidup yang memancarkan kasih Kristus sampai akhir. Kiranya Roh Kudus menolong setiap kita. Amin.
Dibuat oleh: Sdri. Paula Ch. Mulyatan