SATU IBADAH, SATU HATI

SATU IBADAH, SATU HATI

1 Korintus 14:26-40.

Peribahasa “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” mau mengatakan bahwa kesatuan itu penting di dalam kehidupan ini. Jika ada kesatuan maka akan kuat dan tertib, tetapi jika terjadi perpecahan tidak akan kuat, kacau, terpisah-pisah bahkan bisa mengalami kehancuran. Kesatuan harus dijaga maka membawa aspek yang baik dalam seluruh kehidupan, baik di dalam keluarga, pelayanan, pekerjaan, pergaulan dan lain-lain.

Dalam perenungan minggu ini kita belajar tentang kesatuan di dalam ibadah, satu hati. Setiap orang harus sadar memiliki peranan penting menumbuhkan kesatuan bukan perpecahan, bukan berarti kesatuan menghilangkan perbedaan, tetapi melalui perbedaan kita mampu bersatu. Ini prinsip yang harus dipelihara dalam mewujudkan kesatuan. Surat Paulus kepada jemaat di Korintus di mana jemaat ini mengalami perpecahan/perselisihan seperti adanya, ada perbedaan strata ekonomi (1Kor 1:26-29), golongan-golongan (3:6-7), ada karunia-karunia yang dimiliki oleh jemaat (pasal 12) dan masalah kekudusan, pernikahan dll. Tapi dalam kondisi ini Paulus juga menekankan semangat kesatuan. Ia menggunakan metafora tubuh sebagai penjelasan bahwa seluruh bagian tubuh penting bahkan tubuh yang paling lemah yang paling dibutuhkan dan tubuh yang kurang terhormat diberikan penghormatan khusus (1Kor 12:22-23). Dengan tujuan ini Paulus mengatakan, “supaya tidak terjadi perpecahan di dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan” (1Kor. 12:25).

Dalam perikop ini, Paulus mengajarkan pentingnya penyembahan kepada Tuhan, agar tidak terjadi perpecahan dan menyembah Tuhan secara tertib dan teratur, maka perlu memiliki nilai-nilai yang dipahami:

  1. Setiap karunia untuk membangun persekutuan (ay. 26). Melalui kondisi yang ada Paulus bertanya kepada jemaat “bagaimana sekarang?” Walaupun di dalam jemaat ada yang memiliki kemampuan bermazmur, dapat mengajar atau menyatakan Allah, atau karunia bahasa roh untuk membangun. Arti membangun tentunya dari bangunan yang belum ada menjadi bangunan yang indah, bukan bangunan yang rusak. Jadi karunia-karunia dan kemampuan rohani jemaat syaratnya dapat membangun persekutuan.
  2. Ada peraturan guna membawa damai sejahtera (ay. 27-33). Di sini Paulus membuat aturan dalam ibadah: jika ada yang berbahasa roh, aturannya ada yang menafsirkan; jika ada yang berkata-kata lalu menanggapi (ay. 29-30), kalau ada yang berbahasa roh, Paulus malah lebih suka orang mengucapkan lima kata saja dari pada beribu-ribu kata (14:18-19).
  3. Karunia rohani dimiliki dilakukan dengan sopan dan tertib (ay. 39-40). Nasihat yang disampaikan Paulus agar karunia-karunia yang ada tujuannya sopan dan tertib,  dan dalam situasi ini tentu aturan sudah dibuat tidak boleh merendahkan karunia bahasa roh, atau tidak menggunakan bahasa roh, namun mereka lebih mengutamakan bernubuat, karena bernubuat adalah karunia yang lebih berguna, tetapi semua ini agar lebih secara sopan dan teratur. Kata lain, dalam ibadah Kristen jangan menimbulkan kekacauan, melainkan harus diatur, tunggu giliran, ada tata cara, dan  harus punya hati yang sama untuk Tuhan.

Jadi, marilah kita membangun ibadah dan penyembahan kita kepada Tuhan dengan sopan dan tertib. Berbagai karunia rohani yang dimiliki harusnya menggambarkan kesatuan, bukan perpecahan karena karunia yang ada dan sesuai peraturan. Bersatu hati dalam ibadah itu penting jangan didasari pada ego sendiri, dan menggunakan liturgi yang ada dengan baik agar melalui pelayanan dan ibadah kita mewujudkan kesatuan. Merayakan kesatuan dalam terlihat di perjamuan kudus dan bersatu dengan Kristus Sang Kepala gereja-Nya.

Dibuat oleh: Pdt. Andri Wahyudi

Article by Admin