TUBUH YANG MULIA DAN TIDAK DAPAT BINASA

TUBUH YANG MULIA DAN TIDAK DAPAT BINASA

1 Korintus 15:35-58

Pertanyaan tentang kehidupan setelah kematian adalah sesuatu yang menarik dan menjadi misteri bagi kebanyakan orang.  Apa yang akan terjadi pada diri manusia setelah kematian itu menggugah keingin-tahuan sebagian besar kita. Jawaban akan hal tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi bagaimana seseorang menjalani hidup di dunia.  Bayangkan jika tidak ada apa-apa lagi setelah kematian, maka tentu banyak orang yang akan menjalani hidup sesuka dirinya selama di dunia.  Namun jika ada sebuah kelanjutan dan konsekuensi pada kehidupan setelah kematian, maka cara hidup yang dijalani di dunia pun akan dijalani dengan penuh pertimbangan.

Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus juga sempat menjelaskan apa yang akan terjadi setelah kematian manusia.  Dia menyatakan bahwa akan ada peristiwa kebangkitan orang mati.  Hal ini dikatakannya karena ada beberapa orang yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati (1Kor 15:12).  Peristiwa kebangkitan orang mati ini ditegaskan Paulus dengan dasar bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati.  Kebangkitan dari antara orang mati adalah hal yang memang nyata dan telah terjadi pada Kristus.

Namun tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai tubuh kebangkitan (ayat 35).  Bukankah orang yang mati tubuhnya akan menjadi rusak?  Di sinilah Paulus menjelaskan mengenai perbedaan antara tubuh duniawi dan tubuh surgawi (ayat 40).  Tubuh yang dipakai manusia selama hidup di dunia akan berbeda dengan tubuh yang akan dikenakan pada waktu kebangkitan.  Tubuh duniawi dapat binasa/rusak, namun tubuh surgawi tidak dapat binasa (42).  Tubuh duniawi penuh kehinaan dan kelemahan, namun tubuh surgawi penuh kemuliaan dan kekuatan (43).  Itu semua terjadi karena Kristus sebagai gambaran Adam kedua menjadi kekuatan yang menghidupkan setiap manusia (45).

Sekarang, setelah kita mengetahui adanya pengharapan akan kebangkitan orang mati dan tubuh surgawi, maka seharusnya berdampak pada cara kita menjalani hidup di dunia.  Pertama, bahwa apa yang terjadi di dunia ini, termasuk segala kesengsaraan dan penderitaan di dalamnya, adalah sementara dan kita akan memiliki pengharapan pemulihan pada waktu kebangkitan nanti.  Menjalani hidup dengan memiliki pengharapan akan membuat kita menjadi seorang yang tegar dan tidak mudah putus asa.  Kedua, bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan menabur dalam kekekalan.  Karena itu, jangan hanya berfokus pada urusan-urusan duniawi, melainkan juga memikirkan dampak-dampak kekekalan.

Kehidupan saat ini memiliki tantangan tersendiri.  Pandemi yang masih belum benar-benar berakhir, konflik regional di dunia yang juga berimbas kepada inflasi ekonomi di berbagai negara dapat membuat rasa kuatir dan cemas.  Namun perspektif kekekalan, bahwa ada hidup yang lebih bernilai setelah kematian nanti, membuat setiap orang percaya menjalaninya dalam pengharapan dan kekuatan Tuhan.  Berkenaan dengan itu, Gereja Kristus Ketapang juga tidak ketinggalan untuk ikut berperan mempersiapkan jemaatnya dalam perspektif kekekalan ini.  GKK mengajak jemaat untuk bersama-sama menabur dalam kekekalan dengan cara mempersiapkan generasi masa depan menjadi murid-murid Kristus yang memiliki kesungguhan hati.  Mempersiapkan murid-murid Kristus di dalam pemuridan adalah sebuah fokus GKK akan membangun kerajaan Allah.  Akhirnya, mari kita semua mengarahkan pandangan pada kekekalan dengan tetap menjalani kehidupan di dunia sementara ini dengan giat bagi Tuhan.

Dibuat oleh: Pdt. Richard Natasasmita

Article by Admin