Yesus: Sumber Sukacita

Yesus: Sumber Sukacita

Filipi 4:4-7

Pilihan kata Kristen tentu bukan tanpa makna. Kata ini jelas ingin membedakan pengikut Yesus dengan pengikut yang lain. Artinya jika menjadi Kristen harus menjadikan Yesus sebagai pribadi yang diikutinya, bukan yang lain. Memang dalam menjadikan Yesus sebagai sumber bukan berarti kita bebas dari kemarahan, kesedihan, kekhawatiran, kepahitan, tak berdaya, dll., tetapi janji-Nya selalu menyertai kita. Itulah yang menguatkan jiwa dan semangat orang percaya kepada Tuhan Yesus.

Dalam perenungan hari ini kita kembali diingatkan bahwa Yesus sumber sukacitaku. Melalui perjalanan iman Paulus mengikut Yesus, ia menuliskan suratnya kepada jemaat di Filipi. Di kota ini ia memberitakan kabar baik dan mendirikan jemaat Filipi (Kisah 16). Tentu kondisi pelayanan Paulus bukan dalam keadaan yang baik-baik saja dan tanpa masalah. Paulus menulis surat ini dalam keadaan di penjara karena memberitakan Injil (1:7), dan ada juga tantangan di tengah jemaat bahwa keselamatan didapat dengan melakukan hukum Taurat.  Namun surat ini ditulis dengan penuh sukacita, mengingat kebaikan hati jemaat dalam doa dan pelayanannya, serta agar jemaat menaruh pikirannya di dalam Yesus Kristus (2:4-5). Jadi dalam perenungan ini, Paulus mengajarkan sukacita yang dimiliki oleh para pengikut Kristus.

  1. Sukacita adalah jiwa dalam mengikut Yesus (ay. 4-5). Paulus menekankan untuk bersukacita dan diulangi lagi sekali lagi. Artinya sukacita itu sangat penting dan tidak bisa dipengaruhi oleh situasi yang ada atau buatan tangan manusia tetapi oleh Tuhan. Seperti yang Paulus sedang jalani di dalam penjara, ia tetap bersukacita dan jika harus menerima penderitaan, Paulus mengingatkan untuk menerima sebagai anugerah yang datang dari iman kepada Yesus Kristus (Flp. 1:28-30).
  2. Sukacita mengalahkan kekhawatiran (ay. 6). Salah satu pergumulan iman yang dihadapi oleh jemaat di Filipi adalah kekhawatiran. Kekhawatiran hanya mampu dikalahkan dengan hati yang sukacita. Sukacita terjadi di dalam doa dengan ucapan syukur. Memang kekhawatiran itu manusiawi tetapi jangan hidup dalam kekhawatiran. Tuhan Yesus juga berkata: “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: apa yang akan kamu makan? Apa yang akan kamu minum? Apakah yang akan kamu pakai? Semuanya dicari bangsa-bangsa yang  tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu di sorga tahu kamu memerlukan semua itu” (Mat. 6:31-32).
  3. Buah sukacita adalah damai sejahtera dari Tuhan (ay. 7). Jika kita sudah menerima Yesus sebagai Tuhan, memiliki sukacita-Nya, maka selanjutnya damai sejahtera. Damai sejahtera yang Paulus tekankan tentu bukan damai yang diciptakan manusia, bukan karena semua aman tetapi damai sejahtera yang Allah berikan ketika orang percaya menjadikan Yesus Tuhan dan Juruselamat. Seperti Paulus katakan semua yang baik, semua yang mulia, semua yang patut dipuji, pikirkan itu (ay. 8), agar kita menerima damai dari Allah saja, bukan usaha dan perbuatan manusia.

Memasuki Minggu Adven ke-3 ini memastikan kita kembali bahwa jika Yesus menjadi sumber dalam hidup ini maka segala tantangan hidup, segala masalah yang kita jalani tidak membuat kita menjadi khawatir, putus asa dan takut. Mengenal Yesus dengan benar tidak akan mengecewakan, malah kita mendapat sukacita yang sejati yang dunia tidak berikan. Amin. Selamat mempersiapkan Natal!

Dibuat oleh: Pdt. Andri Wahyudi

Article by Admin