YOU ARE MY FAMILY

YOU ARE MY FAMILY

Ibrani 13:1-2

Minggu ini kita memperingati hari ulang tahun Sinode Gereja Kristus yang ke-86. Dan tema khotbah yang diangkat dalam momen HUT kali ini ialah “You are My Family” berdasarkan nas dari Ibrani 13:1-2 yang mengajak kita untuk memahami dan menghidupi firman bahwa:

  1. Kasih Fileo Menjadi Dasar dari Relasi antar Saudara Seiman

Ibrani 13 diawali dengan nasihat yang bernada perintah agar jemaat memelihara kasih persaudaraan. Apa maksudnya? Kata “kasih persaudaraan” (Yun., philadelphia) berarti kasih antar sahabat atau saudara seiman. Jadi, penulis Ibrani ingin menekankan bahwa hubungan antar orang percaya seharusnya sehangat dan seerat ikatan dalam keluarga. Contohnya seperti persahabatan yang terjalin antara Daud dan Yonatan (1Sam. 18:1).

Lalu, mengapa penulis Ibrani memerintahkan kita untuk memelihara kasih persaudaraan? Kata “pelihara” (Yun., meno) menunjukkan perintah untuk tetap tinggal, tidak berhenti dan terus berlanjut. Jadi, penulis mengingatkan kita bahwa kasih persaudaraan itu bukan dan jangan hanya perasaan sesaat (bnd. Why. 2:4), melainkan komitmen yang harus terus dipelihara meski ada perbedaan pendapat atau kepentingan pribadi. Kasih persaudaraan yang dipelihara dengan konsisten akan menjauhkan kita dari konflik dan permusuhan.

  1. Kasih Fileo Patut Diwujudkan Tanpa Pilih Kasih

Lalu, apakah kasih persaudaraan itu cukup sekadar dipelihara dan bersifat eksklusif? Tentu saja tidak! Penulis Ibrani melanjutkan nasihatnya di ayat 2 dengan memerintahkan jemaat penerima suratnya dan bagi kita sekarang untuk: “Jangan lupa memberi tumpangan kepada orang.” Kata “lupa” (Yun., epilanthanesthe) menunjukkan arti lalai. Jadi, kita diperintahkan untuk jangan lupa atau lalai dalam hal memberi tumpangan kepada orang.

Frasa “memberi tumpangan” di dalamnya menunjuk arti kasih yang dinyatakan kepada orang asing, ada tindakan kongkret sebagai wujud nyata dari kasih. Jadi, kita dipanggil untuk mewujudkan kasih bukan hanya kepada saudara seiman, melainkan juga kepada orang asing. Mengapa begitu? Penulis Ibrani memberikan alasannya bahwa tanpa disadari bisa saja kita sedang menjamu malaikat-malaikat Tuhan lewat keramahan atau kemurahan hati yang ditunjukkan (bnd. Kej. 18-19). Jadi, ibadah sejati tidak hanya terjadi dan diwujudkan dalam gereja, tetapi juga diwujudkan melalui keramahan dan kepedulian sosial terhadap sesama dalam perilaku hidup sehari-hari (bnd. Kis. 2:42-47).

Dalam momen HUT Sinode Gereja Kristus yang ke-86, kiranya kita semua sebagai jemaat Tuhan yang terhisap dalam gereja-gereja Kristus se-sinode terpanggil untuk senantiasa memelihara kasih persaudaraan dan menyatakan kasih itu bukan hanya dalam lingkup antar gereja dan antar saudara seiman, melainkan juga di dalam kehidupan sehari-hari melalui keramahan dan kepedulian sosial terhadap orang-orang di sekitar kita.

Dibuat oleh: Pdt. Em. Widianto Jong

Leave a comment